Menyelami Keabadian Warisan Budaya Aceh: Sebuah Perlindungan Melalui WBTb

DIALEKSIS.COM | Feature - Di sebuah ruang yang penuh keseriusan dan harapan, di Hotel Holiday Jakarta, sebuah langkah penting diambil pada 19-23 Agustus 2024. Di antara perwakilan provinsi-provinsi di seluruh Indonesia, sembilan warisan budaya dari Aceh telah diumumkan secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Nasional.

Adapun sembilan warisan budaya Aceh yang ditetapkan sebagai WBTb yaitu Pok Teupeun (Kabupaten Aceh Besar), Seumapa (Provinsi Aceh), Bahasa Aceh (Provinsi Aceh), Bahasa Gayo (Provinsi Aceh), Do da Idi (Provinsi Aceh), Timphan (Provinsi Aceh), Malam Boh Gaca (Kabupaten Aceh Barat), Pepongoten (Kabupaten Aceh Tengah), dan Teganing (Kabupaten Aceh Tengah).

Sidang penetapan ini bukan hanya sekadar acara seremonial, namun lebih dari itu, merupakan sebuah deklarasi tentang pentingnya melestarikan identitas yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Namun, di balik kebanggaan ini, ada sebuah tantangan besar yang harus dihadapi: Bagaimana memastikan warisan budaya tersebut tidak hanya terjaga, tetapi tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah? Bagaimana membuat warisan ini tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan esensinya.

Pok Teupeun: Hasilkan Kain Tenun yang Indah

Pok Teupeun adalah alat tenun yang sejak masa dahulu cukup dikenal, khususnya di Aceh Besar. Sedangkan arti Pok Teupeun itu sendiri berarti kerja sambil besandar. Walau kini sudah ada sedikit modernisasi, cara kerjanya sedikit berbeda, tapi hal itu tidak berubah dari segi penamaan karena perubahannya tidak signifikan hanya perbedaan duduk saja, bersandar atau tidak bersandar.

Pok Teupen, alat tenun tradisional khas Aceh untuk kain songket Aceh. [Foto: Haba Pena]

Bahasa Aceh dan Bahasa Gayo: Menjaga Jiwa Lewat Kata

Selanjutnya, Bahasa Aceh dan Bahasa Gayo yang menjadi bagian dari keluarga besar WBTb Nasional. Dua bahasa ini bukan sekadar kumpulan kata-kata, tetapi jiwa dari masyarakat Aceh dan Gayo. Bahasa yang terucap dari mulut bukan hanya alat komunikasi, tetapi merupakan cara menyampaikan perasaan, cerita, serta sejarah yang terkubur dalam lorong-lorong waktu.

Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa daerah yang umum digunakan oleh masyarakat di Provinsi Aceh. Sedangkan, Bahasa Gayo adalah sebuah bahasa dari rumpun Austronesia yang dituturkan oleh Suku Gayo di Provinsi Aceh, yang terkonsentrasi di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues atau yang sering disebut daerah Dataran Tinggi Gayo.

Bahasa Aceh dengan segala kekhasannya, yang penuh dengan nuansa emosi dan nilai luhur, seperti sebuah permadani yang menghiasi setiap percakapan, memberikan gambaran tentang bagaimana setiap kata yang diucapkan menggugah hati, membangkitkan semangat, dan mengingatkan pada akar budaya yang tak pernah pudar.

Sementara itu, Bahasa Gayo, dengan intonasi yang khas, membawa pendengarnya menyelami cerita-cerita lama tentang perjuangan dan keteguhan hati, tentang bagaimana sebuah komunitas bisa bertahan meskipun dihadapkan pada banyak ujian.

Keduanya merupakan simbol kekayaan intelektual dan emosional yang harus dijaga. Warisan bahasa endatu yang harus dipertahankan, supaya tak hilang di telan zaman.

Seumapa, Do Da Idi, dan Pepongoten: Tradisi Lisan yang Tak Tergantikan

Seumapa adalah tradisi berbalas pantun atau “saleum sapa menyapa” yang merupakan interaksi antara 2 orang berbahasa Aceh dan menggunakan bahasa pantun yang sajaknya indah dan menarik. Seumapa kerap digunakan masyarakat Aceh pada acara proses pernikahan dan intat linto (upacara mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan).

Indahnya seni tutur Seumapa yang menyuguhkan nilai adat Aceh, menggunakan bahasa yang indah, sopan santun beretika terjaga didalamnya. Dengan pesan-pesan yang berseni tutur (balas pantun) berupa nilai edukasi dan nasehat-nasehat yang indah serta memberi kesan tersendiri untuk kedua mempelai juga Masyarakat.

Sementara itu, Do Da Idi adalah lagu tradisional yang mengisahkan seorang ibu yang menidurkan anaknya dengan cara mengayunkannya pada batang kayu atau pohon sambil menyanyikan lagu tersebut. Syair “Do Da Idi” merupakan lagu pengantar tidur yang dinyanyikan oleh ibu-ibu di Aceh sejak zaman dahulu.

Lagu ini memiliki makna yang mirip dengan lagu Nina Bobo yang sering dinyanyikan ibu kepada anak-anak mereka untuk memudahkan mereka tidur. Selain untuk menidurkan anak, lagu ini juga mengandung nilai-nilai nasihat, akhlak, budi pekerti, dan semangat perjuangan masyarakat Aceh dalam menghadapi penjajah.

Sedangkan, Pepongoten merupakan tradisi lisan dari Gayo yang berupa ratapan berirama. Kata ‘pongot’ sebagai kata dasar pepongoten secara harfiah berarti tangisan ratap. Secara umum, bentuk pepongoten dapat digolongkan sebagai prosa liris, sementara isinya bergantung pada konteks pepongoten disampaikan. Meski demikian, isi pepongoten selalu mengekspresikan perasaan dari lubuk hati yang paling dalam.

Karena dibawakan dengan cara menangis, pepongoten utamanya disampaikan pada dua peristiwa yang sangat emosional. Kematian atau Pernikahan. Pada keduanya pepongoten biasanya dibawakan oleh perempuan.

Timphan: Kekayaan Kuliner yang Manis

Di tengah gemerlapnya perayaan budaya ini, ada pula tradisi kuliner yang tak kalah menarik perhatian, yaitu Timphan. Kue tradisional Aceh ini merupakan salah satu hidangan yang selalu hadir dalam setiap perayaan. Penganan kecil ini dibuat dari bahan tepung beras ketan, pisang, dan santan. Semua bahan ini kemudian diaduk sampai kenyal. Lalu dibuat memanjang dan di dalamnya diisi dengan serikaya atau kelapa parut yang dicampur dengan gula, kemudian dibungkus daun pisang muda.

Rasa manis dan gurih yang ada pada Timphan mencerminkan kehangatan dalam setiap pertemuan keluarga. Tidak hanya sekadar makanan, Timphan adalah simbol dari kerukunan dan keharmonisan yang terjalin antara sesama.


Malam Boh Gaca: Seni Hias Bagi Calon Dara Baro

Boh Gaca bermakna memakai inai. Boh gaca merupakan seni hias menggunakan daun pacar oleh masyarakat Aceh. Tata rias pengantin bagi calon pengantin Wanita (dara baro) merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam sebuah upacara adat pernikahan pada kebudayaan masyarakat Aceh.

Malam boh gaca dilakukan juga sebagai bentuk undangan atau mengumumkan kabar bahagia pada keluarga besar bahwa akan diselenggarakan pesta pernikahan. Di malam ini, nasihat tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga diberikan kepada dara baro..

Malam boh gaca juga dimaksudkan sebagai masa pingitan bagi dara baro. Malam boh gaca hanya berlaku untuk wanita yang akan menikah untuk pertama kalinya. Tradisi ini sekaligus menegaskan status mempelai wanita di masyarakat dan keluarga besar kedua belah pihak.

Tradisi Boh Gaca di Aceh. [Foto: Goodnewsfromindonesia]

Teganing: Alat Musik Tradisional Etnik Gayo

Teganing adalah salah satu alat musik yang menjadi ciri utama dari musik khas Gayo. Teganing merupakan alat musik pukul tradisional yang berasal dari daerah Gayo khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Alat musik Teganing dibuat dari seruas bambu pilihan dengan panjang sekitar 1-1,10 m. Ruas bambu yang bisa dijadikan sebagai alat musik teganing harus mencukupi panjangnya, diameternya cukup besar dan usianya sudah tua.

Teganing ini merupakan alat musik yang paling unik. Karena alat musik berbahan dasar bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi yang merdu.

Dari bunyi itulah membuat para pendengar akan merasakan hal yang sangat berbeda ketika mendengar musik dari teganing ini. Dulu Teganing sering digunakan para gadis-gadis Gayo untuk mengisi waktu senggang semisal sambil menjaga jemuran padi agar tidak dimakan ayam atau merpati.

Tantangan dan Tanggung Jawab

Dalam sidang penetapan WBTb, ada sebuah harapan besar yang tersirat dalam setiap ucapan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, melalui Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Evi Mayasari, dengan penuh tekad menyampaikan bahwa pengakuan ini bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya ini.

Perlindungan terhadap warisan budaya daerah harus dilakukan dengan serius, karena di balik setiap karya budaya terdapat nilai yang sangat penting bagi masyarakatnya. Apalagi Syarat menjadi WBTb di antaranya harus berusia 50 tahun atau minimal dua generasi, serta mempunyai makna penting bagi masyarakat yang memiliki karya tersebut.

Evi berharap setelah penetapan WBTb tersebut perlu langkah strategis untuk melestarikan dan menjaga warisan budaya Aceh agar tidak terancam punah ataupun diklaim negara lain.

Provinsi Aceh melalui Disbudpar Aceh memaparkan 24 warisan budaya Aceh saat proses seleksi WBTb. [Foto: dok. Disbudpar Aceh]

Proses panjang yang harus dilalui sebelum sembilan warisan budaya Aceh ini terdaftar sebagai WBTb bukanlah hal yang mudah. Dari 24 warisan budaya yang diajukan, hanya 9 yang berhasil dipilih. Namun, perjuangan belum berakhir. Masih ada banyak langkah yang harus diambil untuk memastikan agar warisan budaya ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga tetap hidup dan lestari.

Keaslian adalah hal yang paling dijaga. Sebagaimana halnya dengan Timphan yang kerap kali diberi sentuhan modern, keberagaman kreasi yang muncul harus tetap menjaga akar tradisi, agar esensi asli dari budaya tersebut tidak hilang.

Penetapan sembilan warisan budaya Aceh sebagai WBTb membuka peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Aceh ke dunia internasional. Melalui pengakuan ini, warisan budaya Aceh dapat dijadikan contoh bagaimana budaya lokal dapat bertahan dan berkembang di tengah dunia yang semakin global.

Kini, sembilan warisan budaya Aceh berdiri tegak dengan bangga, seolah mengukir sejarah yang tak akan lekang oleh waktu. Mereka bukan hanya sekadar simbol masa lalu, tetapi juga jendela yang menghubungkan Masyarakat Aceh dengan masa depan.

Sembilan warisan budaya Aceh itu juga menjadi tanggung jawab besar yang tidak hanya diemban oleh pemerintah, tetapi juga oleh setiap individu yang mencintai dan menghargai budaya Aceh. Hanya dengan upaya bersama, warisan budaya ini akan tetap hidup, menginspirasi, dan bertahan melewati zaman. [adv]

Share berita ini

dialeksis.com