Jejak Perempuan Perkasa di Pohon Kakao

DIALEKSIS.COMO | Aceh Utara - Sesosok perempuan berbaju putih polos mengenakan kerudung hijau terlihat menunduk, tangannya membersihkan rerumputan di antara batang-batang kakao muda di lahan dikelilingi deretan pohon pinang yang tumbuh rapat bak pagar melindungi tanaman kakao muda di tengahnya. Walau sudah renta, tubuhnya tak ringkih, gerakan tangan cekatan dan langkahnya masih kuat.

Tihasanah sehari-hari menghabiskan waktu di kebun kecil tidak jauh dari rumahnya di Dusun Pante Kiro, Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Salah satu kawasan terpencil di kabupaten tersebut.

Mencapai ke kawasan itu tak mudah, butuh waktu 1 jam 25 menit bila ditempuh dari Kota Lhokseumawe dengan sepeda motor melintasi kecamatan, Nibong, Matangkuli, dan Tanah Luas sejauh 44 kilometer lebih.

Tak hanya faktor jarak,kondisi jalan dominan rusak parah juga membuat perjalanan terasa lebih sulit, apalagi mengendarai sepeda motor matik standar, maka harus ekstra hati-hati. Bagaimana tidak, setelah melintas jalan aspal penuh lubang sejauh 6 kilometer dari Simpang Reudang hingga Keude Paya Bakong, kita akan menempuh jalanan berkerikil sejauh 8 kilometer untuk sampai ke kampung itu.

Tihasanah adalah salah satu dari 19 perempuan di Aceh Utara penerima bantuan pelatihan Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga bantuan dari PT Pertamina Hulu Energi North Sumatera Offshore (PHE NSO), untuk menghasilkan biji kakao berkualitas tinggi.

“Sekarang kami tahu caranya menanam yang benar,” katanya penuh semangat sambil tangannya terus mencabut rumput gulma di sekitar tanaman kakao.

“Bibit coklat ini baru sebulan saya tanam. Sekarang sudah tumbuh dua daun baru, besar-besar lagi,” ucapnya lagi. Ilmu menanam didapat dari pembimbing Sekolah Teknis Kelompok Kakao masih ia ingat.

Dengan sabar ia menjelaskan sambil memberi contoh. “Rumput dan daun kering ini jangan dibiarkan menumpuk di sekitar tanaman. Kalau dibiarkan, akar kakao busuk bahkan jadi sarang semut, nanti tumbuhnya nggak bagus,” tuturnya lalu mengambil buah kakao tua dari tanaman sebelum ikut pelatihan.

“Dulu buahnya saya cabut begitu saja, setelah ikut pelatihan ternyata harus digunting,” tersenyum kecil.

Ia mengaku udah terbiasa bekerja keras sejak kecil, ke kebun hanya bermodalkan sandal jepit dan parang. Berkat dari bantuan perusahaan migas itu mereka jadi tahu pentingnya melindungi diri saat melakukan aktivitas di kebun.

Menjadi Perempuan Perkasa

Konflik bersenjata di Aceh memaksa Tihasanah menjadi perempuan perkasa. Ia kehilangan suami, Bakri Tanjung akibat insiden kontak tembak saat konflik di wilayah itu masih berkecamuk. Tepat saat anak semata wayangnya masih sekolah dasar. Sejak itu pula ia jadi tulang punggung keluarga. Bahkan terpaksa menjadi buruh tani agar anaknya tetap bisa makan, karena sepetak kebun yang ditinggal sang suami tidak cukup untuk penuhi kebutuhan keluarga.

“Saat konflik itu, suara tembakan, kabar kematian menjadi hal biasa yang saya dengar. Ya sudah, pasrah saja, yang penting saya bisa dapatkan uang untuk beli beras agar sehari-hari anak bisa makan,” cerita Tihanasah dengan mata menerawang.

Walau dapat upah tak seberapa, lanjutnya, ia cukup untuk bertahan hidup hari demi hari. Kadang, jika tak ada hasil panen, ia ikut bekerja memanggul batu ke dalam truk di sungai Krueng Kereuto. Kawasan itu selain kawasan kebun, juga dikenal sebagai lokasi galian C, berupa pasir dan batuan sejak lama.

“Zaman itu dibayar Rp12.000 per orang kalau sudah penuh batu satu truk. Kalau sekarang Rp 80.000. Capek memang, tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya terbata.

Kini anaknya Yusriadi berumur 34 tahun dan sudah mempunyai keluarga kecil, hidup sederhana sebagai buruh harian. Meski sang anak sering menawarkan bantuan, Tihasanah menolak lantaran enggan merepotkan anaknya yang hidup pas-pasan. Sang anak juga kerap melarangnya bekerja berat. “Cukuplah, Mak. Istirahat saja,” begitu kata Tihasanah mengulang kembali kata anaknya itu.

Tapi bagi Tihasanah berkebun sudah menjadi bagian dari hidup yang sulit dilepaskan meski usia tak lagi muda. Bedanya, kini ia tidak lagi menjadi buruh kasar seperti dulu. Walaupun begitu ia bersyukur masih diberi umur panjang dan kesehatan untuk terus bergerak. “Sering sakit-sakit ini lutut”.

Tubuhnya memang terlihat tak sekuat dulu, namun semangat tetap tumbuh seperti pohon-pohon yang ia rawat setiap hari. Tihanasah juga tetap bekerja sebagai buruh pemetik buah kakao di kebun milik orang di desa. Kerjanya setengah hari, upah Rp50.000 . Setengah hari lagi merawat kebun sendiri, sembari menunggu pohon kakao di kebun tumbuh besar dan berbuah.

Tihasanah berharap kebun kakao itu bukan sekadar sumber penghasilannya nantinya, melainkan warisan untuk anak. “Kalau nanti saya sudah tidak ada, kebun ini bisa buat dia (anak) melanjutkan hidup,” harapnya.

Menurutnya, komoditi kakao adalah penghasilan primadona di desanya. Karena bukan tanaman musiman, jika beruntung buahnya bisa dipanen seminggu sekali.

“Harga saat ini memang lagi turun, hanya sekitar Rp40.000 per kilogram. Padahal biasanya biji coklat kering bisa mencapai Rp180.000 per kilogram. Harga ini kita jual ke pengumpul,” sebutnya.

Tak Hanya Tihanasah, ada Khadijah tetangganya yang punya cerita tak kalah hebat. Ibu 64 tahun ini juga kepala keluarga perempuan ditinggal mati suami ketika konflik dulu. Bedanya ada lahan yang sudah mengembangkan tanaman bahan utama cokelat yang ditinggal suaminya seluas 1.400 meter persegi hingga bisa bertahan hidup bersama keluarga hingga sekarang.

“Pohon coklat (kakao) saya sudah mati kena banjir bandang tiga tahun lalu. Hanya tersisa beberapa batang . Bukan punya saya saja tapi warga lain juga sama dampak banjir kena penyakit, pohon sudah tua juga iya,” katanya.

Sejak itu ia tidak sanggup membeli bibit baru, hanya bertahan hidup dari sisa tanaman kakao yang selamat dari banjir. Otomatis pendapatannya menurun. “Sekarang beli bibit satu saja Rp20.000. Mana ada uang saya,” keluhnya.

Ia pun bersyukur mendapat bibit bantuan Pertaminan PHE NSO. “Bulan lalu ada sedekah bibit, saya tanam terus,” ujarnya dengan aksen Aceh yang kental.

Baru-baru ini, keberuntungan menghampirinya. Ia mendapat bantuan bibit kakao baru lengkap dengan pelatihan cara tanam, pemupukan, dan pengendalian hama.

“Bagus bibitnya, baru sebulan sudah keluar daun besar-besar. Diajarkan juga cara kasih pupuk, cara atasi penyakit. Sekarang saya tahu kenapa dulu buahnya busuk sebelum panen,” terangnya.

Menurutnya pelatihan itu membuka matanya dan 19 penerima manfaat lainnya. Ternyata cara merawat kakao dengan cara lama beda.

“Dulu kalau ada bibit, saya tanam saja. Kalau mati, tanam lagi. Bibitnya kami semai sendiri, sering gagal juga karena nggak tahu mana yang unggul. Mau beli, ya nggak ada uang,” terangnya sambil tersenyum.

Dua kisah perempuan Pante Kiro ini mungkin biasa saja , tapi keduanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga. Keteguhan untuk bertahan dan menanam harapan, bahkan di tanah yang sering dilanda banjir sekalipun.

Peserta kelompok tani mengikuti pelatihan budidaya kakao. Foto: dok Humas PHE NSO (For.Dialeksis.com)


Belajar Budidaya Kakao

Direktur Eksekutif Lembaga Pembelaan Lingkungan Hidup dan HAM (LPLHa), Nabhani Yustisi, menyebutkan, penyerahan 700 bibit kakao sejak pada 24 Agustus 2025. Masing-masing menerima 35 bibit, ditanam di lahan masing- masing penerima manfaat.

Hari berikutnya lanjut pemaparan materi praktik dan belajar lebih jauh tentang budidaya kakao, dipandu oleh seorang ahli kakao berpengalaman budidaya kakao di Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, Mahdi.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petani kakao agar mampu mengelola tanaman secara efektif. Selain teori budi daya, juga praktik teknik penanaman, perawatan dan praktik pengendalian hama tanaman kakao.

“Selama kegiatan ini, 70 persen praktek langsung di kebun. Materi dan praktek ini berlangsung tiga hari,” terang Nabhani.

Para petani juga diberikan peralatan tani seperti sepatu, sarung tangan, pisau, pupuk, gergaji pupuk. Tim tembaga LPLHa dipercaya PHE NSO sebagai pendamping dan fasilitator serta monitoring perkebangan proses budidaya kakao terhadap kelompok tani tersebut.

“Tidak hanya pemberdayaan petani, ini sekaligus juga sebagai perlindungan lingkungan. Hal ini mendukung kelompok rentan, termasuk korban konflik, agar dapat mandiri secara ekonomi dan mandiri budidaya kakao,” Nabhani.


Selaras dengan SDGs dan ESG

Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyebutkan, perempuan kepala keluarga di Kabupaten Aceh Utara menjadi sasaran utama penerima manfaat program tanaman kakao. Pemilihan kelompok ini didasarkan pada pertimbangan sosial dan ekonomi. Mereka tergolong kelompok rentan karena menanggung beban ganda untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mencari nafkah.

Melalui program ini, para perempuan diharapkan mendapat peluang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas diri, memperkuat kemandirian ekonomi. Pemilihan kepala keluarga perempuan di Aceh Utara khususnya Kecamatan Paya Bakong, sebagai lokasi program bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan kegiatan restorasi lahan kritis di wilayah Cot Girek, yang kini diteruskan dengan pemberdayaan masyarakat melalui sektor pertanian berkelanjutan.

Tidak hanya itu, program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang disepakati PBB pada 2015. SDGs mencakup 17 tujuan global untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik pada 2030, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan pendidikan dan kesehatan, hingga kesetaraan gender dan pelestarian lingkungan.

“Program CSR di PHE NSO sesuai dengan aturan dari SKK Migas bahwa pemberdayaan masyarakat akan dilakukan selama lima tahun, dan terhitung sejak tahun 2024. Program ini merupakkan komitmen perusahaan untuk menjalankan TJSL yang didasarkan dengan pilar CSR persero (ekonomi, sosial, kesehatan dan lingkungan). Komitmen ini juga selaras dengan SDGs dan ESG,” sebut Iwan Ridwan.

Kata Iwan, proses evaluasi program dilakukan oleh perusahaan bersama mitra dan para petani setiap bulan, setelah tahapan penanaman selesai dilaksanakan. Sejak awal program ini bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara. Selain itu PHE NSO juga menggandeng LPLHa yang merupakan NGO lokal untuk menjadi mitra pendampingan program kakao ini.

“Melalui monitoring laporan kegiatan, presensi kehadiran penerima manfaat dan evaluasi berkala dokumen laporan. Secara teknis kunjungan ke lapangan, dan supervisi tenaga ahli. Pada tahap ini target PHE NSO adalah perbaikan kualitas tanaman kakao dan peningkatan produktivitas atau secara general sebagai hulu industri kakao. Perluasan bantuan program hingga tahap hilir akan dilakukan setelah perbaikan pada tahap hulu sudah menyeluruh,” terangnya.

Penyerahan bantuan bibit kakao kepada kelompok tani. Foto: dok Humas PHE NSO (For Dialeksis.com)


Komoditas Unggulan di Aceh

Tanaman kakao menjadi salah satu komoditas perkebunan terbesar di Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan pemetaan wilayah, sentra perkebunan kakao tersebar di bagian barat seperti Kecamatan Nisam, Nisam Antara, Sawang, dan Kuta Makmur.

Di wilayah tengah, produksi kakao banyak ditemukan di Kecamatan Geuredong Pase, Nibong, Tanah Luas, dan Paya Bakong. Sementara di bagian timur, komoditas ini tumbuh subur di Kecamatan Cot Girek dan Langkahan.

“Data dari Provinsi, Kabupaten Aceh Utara secara konsistem masuk dalam lima besar daerah penghasil kakao terbesar di tingkat Provinsi Aceh,” sebut Kepala Dinas Perkebunan, Perikanan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara, Lilis Indriansyah, saat ditemui di kantornya Senin (27/10/2025).

Selama dua tahun terakhir, kata Lilis, produksi kakao di Kabupaten Aceh Utara menunjukkan peningkatan, meski belum signifikan kondisi ini disebabkan sebagian tanaman mengalami kerusakan dan membutuhkan perawatan serta program peremajaan (replanting).

Pendampingan terhadap petani telah dilakukan melalui metode sambung pucuk dan perawatan tanaman. Namun, kegiatan tersebut belum bisa dilakukan secara menyeluruh karena keterbatasan dukungan pada tahap lanjutan.

Upaya yang sudah dilakukan pemerintah setempat saat ini, sekitar 500 persil kebun kakao di beberapa kecamatan telah memiliki Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), sebagai langkah awal menuju pengelolaan perkebunan yang lebih baik.

Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu daerah utama pemasok biji kakao kering di Aceh. Setiap minggu, daerah ini mampu mengirim sekitar 50 ton biji kakao kering ke Sumatera Utara, Medan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Pengiriman dilakukan melalui para pengumpul diambil dari petani yang berpusat di Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara. Pada masa panen raya atau panen serentak, volume pengiriman bisa mencapai 50 ton dalam sekali kirim.

Sementara itu, saat panen berlangsung secara bertahap di tingkat petani, jumlah kakao yang dikirim tetap berada di kisaran 50 ton per minggu, seluruhnya berasal dari kebun-kebun di Kabupaten Aceh Utara.

Selama sepekan ini harga jual sedang turun, dari pengumpul petani agen pengumpul biji kering kakao dibeli dengan harga Rp40.000 - Rp45.000 per kilogram tergantung kualitas biji. “Tapi biasanya harganya sampai Rp180.000 - Rp190.000 per kilogram.”

“Kami berharap para petani tetap bertahan membudidayakan kakao, meskipun saat ini banyak tantangan, seperti serangan hama dan penyakit pada buah maupun batang,” harapnya

Menurutnya, lanjut Lilis, permintaan kakao dunia masih tinggi sehingga petani memiliki peluang besar untuk terus berkembang di sektor ini. “Bersabarlah menjadi petani. Mari bersama-sama merawat kebun agar produksi kakao kita tetap bertahan dan meningkat,” ujarnya.

Menurut Pengamat Ekonomi Bisnis dari Universitas Malikussaleh, Dr Rayyan Firdaus, menjelaskan secara ekonomi pengembangan budidaya kakao harus lebih masif dan terus mengoptimalkan pelatihan bagi kelompok tani untuk meningkatkan hasil budidaya.

“Potensi kakao di Indonesia bahkan tingkat dunia terus menjanjikan. Secara bisnis ini tidak akan pernah mati. Karena biji kakao ini bahan utama yang dibutuhkan,” kata Dr Rayyan Firdaus.

Ia menilai kualitas biji kakao Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara produsen lainnya. Kondisi ini membuat harga jual kakao dalam negeri cenderung stagnan, sementara potensi keuntungan besar justru dinikmati oleh negara lain yang menguasai industri pengolahannya.

“Secara ekonomi, ini adalah bentuk hilangnya nilai tambah. Kita masih menjual bahan mentah biji kakao dengan harga murah, sementara negara seperti Swiss justru meraup keuntungan besar dari produk olahan seperti cokelat,” terangnya.

Dr Rayyan menambahkan, pentingnya peningkatan kualitas biji dan pengembangan industri pengolahan dalam negeri menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terus berada di posisi sebagai pemasok bahan mentah semata.

“Bisnis kakao ini sampai kapanpun menjanjikan. Apalagi pemerintah daerah akan membuka rute ekspor ekspor Aceh - Malaysia. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh petani, asalkan ada lembaga atau koperasi yang mampu menampung hasil panen mereka. Dengan begitu, harga kakao bisa tetap stabil dan tidak bergantung pada permainan pasar,” papar Rayyan.

Dia berpendapat, hingga kini, sektor kakao masih cenderung dimonopoli oleh pihak tertentu. Oleh karena itu, kehadiran lembaga penampung hasil tani menjadi penting agar petani memiliki posisi tawar yang lebih baik. Petani pun dituntut untuk mampu membaca tren pasar, meningkatkan produksi.

Rayyan menjelaskan, pembentukan kelompok tani dilakukan menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi petani di lapangan. Namun, kelompok-kelompok ini perlu terus difasilitasi dan diberi edukasi agar mampu berproduksi secara berkelanjutan. Terutama untuk mendukung terciptanya kakao berkualitas tinggi.

Tidak hanya itu, dalam hal ini diperlukan juga peran pabrik pengendali mutu yang dapat melakukan evaluasi dan memastikan standar kualitas produk kakao. “Selama kualitas bisa dijaga, bisnis kakao dipastikan tidak akan mati,” tambahnya.

Lebih jauh, kata pengamat ekonomi itu, pasar global masih memiliki harapan besar untuk kakao Indonesia. Namun, semua pihak harus berkomitmen menjaga kualitas. Hanya dengan konsistensi dan kerja sama antara petani, “Pemerintah dan lembaga menjadadi pendukung, kakao Indonesia bisa terus bersaing di kancah dunia,” ujar Rayyan.

Pengamat kakao dari Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh, Dr Lukman, yang berpengalaman dan pernah melakukan studi banding hingga ke Swiss menilai bahwa potensi kakao di Indonesia sangat besar, asalkan dibarengi dengan pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan. Ia sendiri telah meneliti kakao sejak tahun 2011 hingga 2012.

“Saya sudah menguji, menanam 500 pohon kakao ini bisa mencukupi kebutuhan dua anak hingga kuliah sarjana,” kata dosen yang pernah mengunjungi beberapa perusahaan penghasil cokelat terkenal di dunia.

Menurutnya, petani kakao bisa mandiri, asal didampingi dan dilatih secara serius. Dengan teknik budidaya yang benar, tanaman kakao bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi petani. Kunci utama dalam budidaya kakao adalah sanitasi kebun dan pemangkasan rutin (pruning).

“Tanaman harus terjaga kebersihannya. Penyakit pada kakao sebenarnya ini sudah lama bahkan penanganannya pun sudah ada sejak dulu. Cuma peduli kepada perilaku petani merawatnya sesuai SOP budidaya kakao,” terangnya.

Ia menilai, program Pertamina PHE NSO semacam ini membentuk kelompok tani memberikan bibit, pelatihan, serta pendampingan hingga petani mandiri merupakan langkah yang sangat positif dan patut terus dilanjutkan. Banyak di luar sana kelompok tani kakao yang sudah berhasil berkat pola pembinaan semacam ini.

“Kalau harga kakao tinggi dan ada pelatihan seperti ini, petani pasti semangat berusaha,” tambahnya.

Namun, ia juga mengingatkan agar petani tidak menanam terlalu banyak tanaman pendamping, karena dapat mengganggu pertumbuhan kakao dan mengundang hama seperti tupai.

Permintaan kakao, katanya, selalu stabil dan hasil panen selalu terserap pasar. Tantangannya justru bagaimana meningkatkan kualitas biji agar bernilai jual tinggi.

“Saat saya ikut pendidikan ke swiss, disana orang luar Negeri menilai kakao Indonesia ini secara kualitas masih kurang, biji kakao dipanen belum waktunya. Tapi mereka mengapresiasi dan minat kakao Indinesia bididaya kakao menggunakan sistem organik,” katanya.

Dari sisi lingkungan, budidaya kakao juga memberikan manfaat tambahan. Akar tanaman membantu menyerap air ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi risiko erosi, banjir, dan longsor, terutama di daerah seperti Aceh Utara yang kerap dilanda banjir setiap tahun.

“Kakao ini tahan air, tidak seperti tanaman lain. Meski bunga bisa rontok saat hujan lebat, pohonnya tetap kuat dan bisa berbuah sering,” jelasnya.

Ia berharap program pembentukan dan pendampingan kelompok tani kakao terus diperluas, terutama di wilayah bekas konflik seperti Aceh Utara. Petani di sini wajar kalau dulu kurang mendapatkan ilmu budidaya. Tapi dengan adanya program ini, ekonomi mereka mulai berkembang. Harapannya, pendampingan seperti ini terus dikembangkan agar semakin banyak kelompok tani kakao yang mandiri.

“Kita berharap para petani terus bersemangat mengembangkan budidaya kakao. Dari sisi ekonomi, tanaman ini dinilai sangat menjanjikan. Dalam kondisi normal, satu pohon kakao dapat menghasilkan 1 hingga 5 buah setiap minggu. Bayangkan jika petani menanam 500 pohon, hasil panennya cukup besar setiap bulannya,” pungkasnya. [RG]

Share berita ini

dialeksis.com