Harga Melambung, Musibah Di Gayo Berlapis

DIALEKSIS.COM | Feature - Bagaikan luka di atas luka. Sapuan bencana masih sulit dipulihkan, kini rakyat kembali didera prahara. Beragam harga mulai dari kebutuhan pokok dan bahan bangunan melambung tinggi.

Sementara nilai jual komoditi pertanian, hasil keringat masyarakat harganya turun. Dilain sisi, sumber penghidupan masyarakat banyak yang hancur, belum mampu dipulihkan, mengakibatkan inflasi semakin tinggi.

Gerbang kemiskinan semakin terbuka. Gayo, Aceh Tengah dan Bener Meriah berada dalam Lorong gelap yang belum berujung. Sudah sembilan bulan prahara melanda negeri ini, namun pemerintah lamban mengantisipasi.

“Semen langka di pasaran. Harganya melambung tinggi. Untuk semen andalas, 40 kilogram harganya sudah mencapai Rp 100 ribu. Saat normal harganya hanya Rp 65.000,” sebut, Aman Iqoni, salah seorang korban bencana yang sedang memperbaiki rumahnya.

Demikian dengan harga besi, paku, seng, bahan bangunan lainya semuanya naik. Seng spandek saat harga normal di Takengon hanya Rp 47.000 permeter, kini harganya mendekati Rp 70.000.

Sementara harga jual hasil pertanian masyarakat anjlok. Semua persoalan itu disebabkan karena akses jalan sejak bencana, sampai dengan saat ini belum normal. Sangat sulit untuk dan dari Takengon.

Rata-rata pedagang “menyalahkan” jalan dengan tingginya harga jual dan murahnya harga beli hasil pertanian. Bagaimana mau menjualnya murah, sementara biaya angkut, transportasi kostnya tinggi.

Truk besar, jenis tronton belum bisa melintasi jalan dan jembatan yang masih darurat. Hanya kenderaan tertentu yang bisa melintas. Otomatis biaya transportasi tinggi, tentunya mempengaruhi harga jual dan harga beli hasil pertanian.

Akses jalan nasional- Biruen Takengon sampai saat ini bermasalah. Masyarakat bahu membahu mengeluarkan isi ATM nya untuk memperbaiki akses jalan nasional, jembatan Enang-Enang. Walau sebelumnya pemerintah melarangnya, namun solidaritas masyarakat tak terbendung, jembatan dan jalan Enang-Enang diperbaiki.

Kini ruas jalan itu hasil tetesan keringat masyarakat sudah dapat dilalui kenderaan kecil, kenderaan tertentu. Sementara kenderaan besar dengan muatan tonasenya tinggi belum bisa melintasinya. Kenderaan yang besar, seperti truk minyak harus melintasi kawasan Uwer Lah, jalanya masih rusak parah.

Aceh Tengah dan Bener Meriah masih darurat jalan, walau sudah sembilan bulan bencana melanda kawasan ini. Pemerintah pusat lamban mengantisipasi, rakyat di sana masih terbelenggu, inflasi semakin tinggi.

“Persoalan ini kita sudah laporkan ke pusat. Harga semen mencapai Rp 100 ribu perzak, harga beli pertanian yang rendah, inflasi yang tinggi, laporanya senantiasa kita sampaikan,” kata Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menjawab Dialeksis.com.

Dinas Perdagangan, intansi terkait senantiasa turun ke lapangan menghimbau pedagang untuk menekan harga. Pedagang menaikan harga beragam kebutuhan masyarakat Aceh Tengah, karena biaya transportasi tinggi.

“Tronton belum bisa masuk, jembatan bermasalah, ruas jalan masih hancur-hancuran. Biaya transportasi tinggi, pedagang sudah pasti tidak mau rugi, dampaknya harga bahan bangunan melambung tinggi,” kata bupati.

Laporan tentang keadaan negeri ini, sebut bupati, senantiasa disampaikan kepada pemerintah pusat, ke intansi terkait. 

“Kita juga sudah meminta agar bantuan untuk perbaikan rumah rusak, untuk membangun Huntap tidak lagi relevan dengan keadaan harga bangunan saat ini. Nilainya harus direvisi, karena seluruh harga bangunan naik,” katanya.

Demikian dengan perbaikan ekonomi masyarakat, baik untuk lahan pertanian, pariwisata, UMKM, agar pemerintah pusat cepat merealisasikanya. Keadaan ekonomi masyarakat benar-benar sulit. Demikian dengan pembangunan infrastruktur, semua perkembangan di lapangan, senantiasa kami laporkan ke pusat, agar mendapatkan priotitas percepatan penangananya.

Keadaan daerah yang terpuruk ini, menurut Haili Yoga, telah membuat inflasi tinggi di Aceh Tengah. Sumber usaha masyarakat terganggu, nilai jual hasil pertanian rendah, sulit, sementara harga barang tinggi. 

“Dalam kondisi sulit ini, ketangguhan masayarakat luar biasa. Walau dalam keadaan susah, mereka bahu membahu, bergotong royong. Menyisihkan rejekinya untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, sesuai dengan kemampuan, ini sangat luar biasa,” sebut Haili.

Harga-harga yang melambung tinggi, sementara nilai jual hasil keringat masyarakat rendah. Pemerintah pusat, apalagi pemerintah provinsi bergerak lamban, semakin membuka gerbang kemiskinan. Rakyat hidup dalam ketidakpastian, bagaikan ayam kehilangan induk.

Sampai kapan keadaan ini akan berubah? Masih adakah ayah di bumi Pertiwi yang membalut luka anak-anaknya? Masih punya nuranikah pemimpin di provinsi, memapah anak negeri yang kini didera luka di atas luka. Perih merintih. [bg]

Share berita ini

dialeksis.com