Haili Yoga Suka Marah Atau Tegas?

DIALEKSIS.COM | Feature - Dia sering memarahi stafnya, bahkan ada kalanya di depan umum. Bila tidak “cocok” dengan keinginanya, kata kata pedas sering keluar dari mulutnya. Dia inginkan stafnya bergerak, mengikuti iramanya yang energik.

Lencana di dadanya menandakan dia orang nomor satu di Gayo Lut, negeri dalam balutan awan beraroma kopi yang diminati dunia. Sudah setahun setengah Haili Yoga dan Muhcsin Hasan memimpin Aceh Tengah.

Dalam membangun negeri diantara pelukan gunung dengan aliran air bening Danau Lut Tawar, Haili kadang kalanya suka marah-marah, walau ada kalanya dia juga bercanda. 

Cukup banyak sudah ASN yang mendapatkan “semprotanya”. Ketika pejabat, ASN yang melakukan kesalahan atau bekerja lambat, belum sesuai dengan keinginan Haili Yoga, dia tidak segan-segan di hadapan public, di depan orang ramai memarahi stafnya. 

Catatan Dialeksis.com, semprotan Haili Yoga ( kenyel dalam Bahasa Gayo) sudah menjadi rahasia umum. Sikap marah-marah sang Bupati, membekas dihati kalangan ASN. Walau mereka tidak mengungkapkanya terang-terangan.

Namun bagi Haili, dalam keteranganya kepada Dialeksis.com, dia menunjukan sikap tegasnya dalam memimpin, bukan untuk memarahi stafnya. “Kalau semuanya bekerja maksimal untuk daerah ini, buat apa marah-marah, menghabiskan energi, ” sebutnya.

Tegas atau marah? Sebagian orang menilainya sikap tegas dan sebagian lagi memberikan penilaian bupati suka marah-marah. Dan itu sudah menjadi rahasia umum. Apalagi saat awal awal musibah, negeri ini dilanda bencana. Bupati yang “panik” ketika itu sering marah-marah.

Karena panik atau memang ada tekanan, akhirnya Haili Yoga mengeluarkan pernyataan ketidakmampuanya menangani bencana secara menyeleruh. Para ASN yang mendapat semprotan, tetap bekerja, karena itu merupakan pengabdian kepada negeri.

Dampak dari sikap bupati yang sering marah-marah, ada yang menilainya tegas, telah menyebabkan sebagian ASN, apalagi yang sedang memegang jabatan pasrah pada keadaan. Terserah kepada Bupati mereka akan dikemanakan, akan diberikan jabatan atau ditempatkan di mana. 

“Kami melaksanakan tugas karena panggilan jiwa mengabdi pada negeri ini, karena kami dibayar negara untuk melaksanakan kewajiban sebagai ASN,” sebut salah seorang ASN yang enggan jati dirinya disiarkan.

“Setiap manusia itu punya harga diri, demikian dengan ASN yang diberikan amanah oleh negara untuk mengurus negeri. Maunya kalau ada kesalahan dinasihatilah dengan bijak, tidak harus di depan umum dimarahi,” sebut ASN lainya.

Gere isenawat urum pembesik si luwis, gere itulak urum serde kolak ( Bahasa Gayo- bukan dilecuti dengan cambuk yang pedih dan tidak ditolak dengan kasar).

Bupati memang energik untuk membangun daerahnya, semua lini dia gerakan. Dia evaluasi, dia awasi benar-benar agar menjalankan tugas sesuai SOP, demi pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Bahkan baru-baru ini, Haili Yoga selama dua hari berkantor di RSUD Datu Beru Takengon, bukan hanya mengecek langsung layanan di RSU ini, dia melakukan evaluasi, mengecek hasil kinerja para tenaga medis di sana.

Kalau Bupati mau berkantor di semua Dinas, hampir seluruh dinas punya celah, punya titik lemah dalam memberikan layanan ke public dan perlu perbaikan. Belum sepenuhnya seluruh dinas itu memberikan pelayanan yang sempurna.

Namun berkantornya bupati di RSUD Datu Beru yang berujung penonaktifan direktur RSU dan digantikan dengan Plt, ada yang memberikan penilaian caranya belum elegent. Bila bupati ingin mengantikan direktur RSU, tidak harus menghakiminya dengan berkantor di sana. Seolah-olah ingin mencari kesalahan.

Spontan penggantian direktur Datu Beru Takengon mendapat reaksi, mendapat kritikan terutama dari kalangan aktivis, apalagi setelah bupati menunjuk Plt direktur orang yang pernah bersentuhan dengan hukum, persoalan kekerasan terhadap anak.

 Sikap bupati yang tegas ,suka marah marah telah menjadi rahasia umum. Ada pro dan kontra menanggapinya. Buah dari sikap ini berpengaruh pada pelayanan publik, layanan untuk masyarakat semakin membaik.

Silakan Publik Menilai

Haili Yoga, Bupati Aceh Tengah menanggapi informasi yang berkembang di tengah masyarakat soal karakternye dalam memimpin negeri ini, dalam penjelasanya kepada Dialeksis.com, menyerahkan ke public untuk menilainya.

“Hanya sebagian kecil orang tidak suka, itu biasa dalam sebuah dinamika. Namun setelah layanan ke masyarakat berubah ke yang lebih baik, orang akan memberikan penilaian positif,” sebut Haili.

“Kalau orang menilai saya tidak baik, mereka tidak suka, bagi saya itu tidak ada persoalan. Terpenting saya membangun negeri ini dan hasilnya dapat dirasakan masyarakat. Karena kalau bukan kita yang membangun negeri ini siapa lagi yang kita harap,” kata Haili.

Alhamdulilah, sebutnya, sekarang semuanya sudah mengalami perubahan, pelayanan kepada masyarakat sudah bagus. Cek lah ke lapangan bagaimana pelayanan medis di Puskesmas, pelayanan RSU, pelayanan para dinas dan camat, semuanya semakin baik.

“Saya menaruh perhatian besar pada negeri ini untuk lebih maju, makanya semuanya saya gerakan. Bukan saya marah, namun saya menunjukan sikap tegas saya agar semuanya bergerak, semuanya bahu membahu dalam satu irama,” sebutnya.

Bidang pendidikan kita perhatikan, jelasnya, persoalan agama kita gerakan ummat untuk sama sama menegakan syiar islam. Persoalan adat, medis, layanan public yang maksimal, serta upaya peningkatan PAD, semuanya kita lakukan demi negeri ini.

“Saya himbau masyarakat, ASN untuk syiar Islam, shalat berjamaah, membaca Alqur,an, mengerakan komunitas jamaah untuk saling membantu mereka yang kekurangan, mengerakan potensi desa, semuanya dilakukan demi daerah ini,” sebut Haili.

“Bila ada yang tidak suka,” jelasnya, “tidak jadi masalah. Silakan orang tidak suka kepada saya, asalkan apa yang saya lakukan bermanfaat untuk kemajuan dan kemakmuran daerah, untuk rakyat banyak. Karena kalau bukan kita yang mengerakanya siapa lagi yang diharapkan”.

Demikian nantinya dalam penempatan pejabat dari semua kalangan. Penentuanya bukan suka atau tidak suka. Tidak ada lagi muatan politis dalam penempatan seseorang memangku jabatan.

“Kita tidak lagi bernuansa politis dalam menempatkan seseorang. Namun semuanya berdasarkan kemampuan, skil, professional dan terpenting mencintai daerah ini membangunan dengan tulus. Bukan lagi soal kepentingan politis, tapi kepentingan negeri ini,” sebut Haili.

“Saya berdoa kepada Allah, mengharapkan dukungan masyarakat. Agar sang Khaliq memberikan kekuatan, memudahkanya dan ada keberkahan dalam membangun negeri ini. Diberikan kesempatan disaat saya menjabat sebagai bupati, demi masyarakat banyak,” sebut Haili.

Dalam membangun sebuah negeri pro dan kontra itu sudah pasti, ada yang suka dan ada yang terus mencari kesalahan. Itulah dinamika kehidupan. Pemimpin itu seperti membawa buldoser, bila ada duri diperjalanan, dia tidak harus berhenti.

Dia harus tetap membentangkan jalan agar biduk haluan menggapai pulau harapan. Haili kini sedang mengayuh bahtera, apakah dia suka marah-marah atau tegas? ** BG



Share berita ini

dialeksis.com