DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Putra Laweung, Pidie, Teguh Agam Di Pidieya menilai kelangkaan semen yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat aktivitas pembangunan di daerah.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Program Studi Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (USK) ini juga mengatakan persoalan kelangkaan semen seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melihat kembali potensi industri semen yang ada di Aceh.
Menurut Teguh, Aceh memiliki pabrik semen Solusi Bangun Aceh (SBA) di Lhoknga, Aceh Besar. Selain itu, terdapat proyek pembangunan pabrik Semen Indonesia Aceh (SIA) di Laweung, Kabupaten Pidie, yang hingga kini belum memiliki kepastian kelanjutan.
“Kelangkaan semen di Aceh saat ini harus menjadi perhatian serius, karena dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tengah kondisi seperti ini, kita memiliki pabrik semen SBA di Lhoknga dan pembangunan pabrik SIA Laweung yang sudah lama mangkrak,” kata Teguh kepada media dialeksis.com, Minggu, 9 Agustus 2026.
Ia menilai, keberadaan industri semen di Aceh seharusnya dapat menjadi bagian dari solusi untuk memenuhi kebutuhan semen daerah. Karena itu, persoalan pabrik semen Laweung menurutnya jangan sampai luput dari perhatian pemerintah.
Teguh berharap Pemerintah Aceh bersama pemerintah pusat dapat melihat persoalan tersebut secara menyeluruh dan mencari jalan keluar bersama pihak-pihak terkait.
“Pemerintah jangan hanya berpikir bagaimana mengatasi kelangkaan semen hari ini, tetapi juga bagaimana Aceh memiliki solusi jangka panjang dengan menghidupkan potensi industri yang sudah ada,” ujarnya.
Menurut Teguh, keberlanjutan pembangunan pabrik semen Laweung tidak semata-mata berkaitan dengan keberadaan sebuah industri. Lebih jauh, proyek tersebut berkaitan dengan kebutuhan pembangunan, penciptaan lapangan kerja, perputaran ekonomi masyarakat, hingga upaya memperkuat kemandirian daerah.
Teguh yang juga merupakan putra Laweung menegaskan, pabrik semen tersebut tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian.
“Pabrik semen Laweung tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian. Pemerintah perlu memberikan perhatian serius agar ada langkah nyata untuk melanjutkan proyek ini,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan langkah konkret untuk mengetahui persoalan yang menyebabkan proyek tersebut belum berlanjut, sekaligus mencari solusi terbaik agar potensi industri semen di Laweung dapat kembali dikembangkan.
“Jangan sampai ketika semen langka, potensi yang kita miliki sendiri justru dibiarkan terbengkalai. Persoalan ini harus mendapatkan perhatian bersama dan segera ditemukan jalan keluar yang terbaik bagi kemandirian maupun ketahanan daerah,” pungkas Teguh.
Share berita ini