Semen Langka di Aceh, Harga Melonjak dan Sejumlah Proyek Tersendat

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kelangkaan semen mulai menghambat aktivitas pembangunan di sejumlah wilayah Aceh. Lonjakan kebutuhan bahan bangunan setelah bencana tidak diimbangi dengan kelancaran distribusi, menyebabkan stok di tingkat pedagang cepat habis dan harga terus meningkat.

Di Banda Aceh, semen yang baru tiba di toko bangunan disebut langsung terjual dalam hitungan jam. Pemilik Toko Cahaya Mandiri, Tarmizi, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung selama dua pekan terakhir.

“Sekarang barang datang langsung habis. Kami tidak sempat menyimpan stok karena permintaan masyarakat sangat tinggi,” kata Tarmizi.

Menurutnya, kelangkaan semen tidak hanya berdampak terhadap proyek pemerintah, tetapi juga pembangunan rumah masyarakat dan proyek swasta.

Kebutuhan semen di Aceh meningkat seiring berlangsungnya rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak banjir pada akhir 2025. Data Badan Pusat Statistik Aceh menunjukkan penjualan semen meningkat sekitar 30 persen pada triwulan pertama 2026.

Lonjakan permintaan tersebut turut memengaruhi harga di tingkat pengecer. Semen yang sebelumnya dijual sekitar Rp63 ribu hingga Rp65 ribu per sak kini berada pada kisaran Rp70 ribu sampai Rp80 ribu. Di beberapa wilayah, harga bahkan dilaporkan menembus Rp105 ribu per sak.

Kondisi serupa terjadi di Aceh Tengah dan Aceh Utara. Sejumlah kontraktor terpaksa memperlambat bahkan menunda pekerjaan karena kesulitan memperoleh semen dengan harga normal.

Pemilik proyek pembangunan Rumah Sakit Fandika di Paya Tumpi, Aceh Tengah, Cut Dewi Karmila, mengatakan pengerjaan proyeknya terganggu akibat kelangkaan semen.

“Setelah kondisi pulih, kami justru menghadapi persoalan baru, yaitu semen yang langka dan harganya melonjak,” ujarnya.

Kelangkaan tersebut menyebabkan waktu penyelesaian proyek berpotensi mundur hingga 2027. Anggaran pembangunan juga diperkirakan membengkak akibat naiknya harga material.

Dampak serupa dialami Direktur CV Raya Engineering, Reza Angkasah, yang sedang mengerjakan 130 unit hunian bagi korban banjir di Aceh Utara. Menurutnya, mahalnya harga semen telah memangkas keuntungan perusahaan secara drastis.

“Dengan harga semen begitu mahal dan langka, ini menyulitkan kami. Laba berkurang drastis,” kata Reza.

Progres pembangunan hunian tersebut dilaporkan baru mencapai sekitar 57 persen. Keterbatasan pasokan semen dikhawatirkan semakin memperlambat penyediaan rumah layak bagi masyarakat terdampak bencana.

Produksi Normal, Distribusi Tersendat

Manajemen PT Solusi Bangun Andalas menyatakan aktivitas produksi semen di pabrik Lhoknga, Aceh Besar, tetap berjalan normal. Perusahaan juga membantah telah menaikkan harga dari tingkat pabrik.

Manajer PT Solusi Bangun Andalas, R. Adi Santosa, mengatakan tingginya permintaan menyebabkan stok pada sejumlah titik distribusi terserap lebih cepat.

“Perusahaan terus melakukan penyesuaian pasokan agar kebutuhan pelanggan dapat segera terpenuhi,” katanya.

Secara nasional, kapasitas produksi semen juga disebut masih mencukupi. Karena itu, kelangkaan yang terjadi di Aceh dinilai bukan disebabkan kekurangan produksi, melainkan gangguan pada rantai distribusi.

Pasokan semen Aceh saat ini sangat bergantung pada jalur darat dari pabrik di Lhoknga. Tidak optimalnya pemanfaatan jalur laut melalui Pelabuhan Krueng Raya ikut memperbesar tekanan terhadap distribusi darat.

Akibatnya, antrean truk pengangkut semen terjadi di kawasan pabrik, sementara toko-toko bangunan di sejumlah daerah justru mengalami kekosongan stok.

Pemerintah Aceh Bentuk Tim Khusus

Pemerintah Aceh mulai memantau distribusi semen secara intensif. Gubernur Aceh disebut telah membentuk tim khusus yang melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, serta instansi terkait lainnya.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan pemerintah memahami keresahan masyarakat karena terganggunya pasokan semen berdampak langsung terhadap pembangunan dan aktivitas ekonomi.

“Pemerintah Aceh memahami keresahan masyarakat apabila terjadi gangguan pasokan semen, yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan pembangunan,” kata Nurlis.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, pemerintah belum menemukan bukti adanya penyelewengan distribusi. Namun, antrean kendaraan di pabrik dan tersendatnya pengiriman menuju pengecer menjadi perhatian utama.

Pemerintah daerah mendorong percepatan pengiriman, pengawasan harga di tingkat distributor serta kemungkinan mendatangkan pasokan tambahan dari pabrik lain di Sumatra.

Dalam jangka panjang, Pemerintah Aceh dinilai perlu memperbaiki infrastruktur logistik, mengaktifkan kembali jalur distribusi melalui pelabuhan dan membangun gudang penyangga di daerah yang rawan mengalami kekurangan stok.

Kelancaran pasokan menjadi penting karena krisis semen tidak hanya mengancam proyek berskala besar. Masyarakat yang sedang membangun rumah serta para pekerja konstruksi juga menanggung dampaknya.

Tanpa penanganan cepat, kelangkaan semen berpotensi memperlambat pemulihan pascabencana, meningkatkan biaya pembangunan dan melemahkan perputaran ekonomi masyarakat Aceh.

Share berita ini

dialeksis.com