DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kelangkaan semen yang disertai lonjakan harga kembali terjadi di sejumlah wilayah di Aceh. Kondisi yang hampir berulang setiap tahun ini dikeluhkan masyarakat karena berdampak langsung terhadap pembangunan rumah, proyek skala kecil, hingga aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor konstruksi.
Salah seorang warga Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Wardani (59), mengaku terpaksa menunda pembangunan rumah sederhana miliknya akibat harga semen yang melonjak tajam.
"Kemarin saya ingin membeli semen di salah satu toko bangunan di kawasan Ulee Kareng. Harganya sudah mencapai Rp120 ribu per sak. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli dulu dan menunggu harga kembali normal," ujar Wardani kepada Dialeksis.com, Minggu (2/8/2026).
Menurut Wardani, kenaikan harga tersebut sangat memberatkan masyarakat, terutama mereka yang membangun rumah secara bertahap dengan kemampuan keuangan yang terbatas.
Ia menilai persoalan kelangkaan semen di Aceh bukan lagi fenomena baru. Hampir setiap tahun, masyarakat dihadapkan pada situasi serupa yang menyebabkan harga melonjak akibat pasokan yang terganggu.
"Kalau pembangunan rumah terhenti, dampaknya bukan hanya kepada pemilik rumah. Banyak orang yang menggantungkan penghasilan dari sektor ini, mulai dari tukang bangunan, buruh angkut, hingga toko material. Artinya, rantai ekonomi ikut tersendat karena pasokan semen bermasalah," katanya.
Wardani berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan distribusi dan memastikan ketersediaan semen di pasaran.
Menurutnya, stabilitas pasokan menjadi hal penting agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi lonjakan harga yang menghambat pembangunan.
Fenomena kelangkaan semen di Aceh kerap memicu kenaikan harga yang jauh di atas harga normal. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi pembangunan rumah warga, tetapi juga berpotensi menghambat pelaksanaan berbagai proyek konstruksi, baik yang dibiayai masyarakat maupun pemerintah.
Masyarakat berharap adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap distribusi serta langkah cepat dari pemerintah dan produsen untuk memastikan pasokan semen tetap tersedia sehingga harga kembali stabil dan aktivitas pembangunan dapat berjalan normal.[]
Share berita ini