DIALEKSIS.COM | Jakarta - Dominasi Alfamart dan Indomaret dalam bisnis minimarket Indonesia mulai mendapat penantang baru. O!SAVE, jaringan ritel berkonsep hard discount, perlahan mencuri perhatian melalui strategi harga murah dan efisiensi operasional yang berbeda dari minimarket konvensional.
Fenomena itu dibedah kanal YouTube Bennix melalui video berjudul “O!SAVE Ancam DOMINASI ALFAMART & INDOMARET DI INDONESIA? Strateginya SUSAH DIKALAHKAN!” yang dipublikasikan pada 14 Juli 2026.
Hingga materi ini dihimpun redaksi Dialeksis, video tersebut telah ditonton sekitar 582.863 kali dan mengundang 2.746 komentar, menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap kemunculan pemain baru dalam bisnis ritel nasional.
Dalam ulasannya dikutip Dialeksis, Bennix menggambarkan Alfamart dan Indomaret sebagai dua pemain yang telah begitu kuat mendominasi pasar minimarket Indonesia sehingga ruang bagi pendatang baru terlihat semakin sempit. Namun, O!SAVE mulai masuk ke Indonesia pada 2023 dan mencoba menawarkan model bisnis berbeda.
Situs resmi O!SAVE Indonesia sendiri menyebut perusahaan itu sebagai jaringan ritel dengan konsep hard discount pertama di Indonesia yang berdiri sejak 2023. Konsepnya sederhana: fokus pada kebutuhan sehari-hari, toko dibuat secukupnya, produk dapat dipajang langsung dalam kardus atau palet, serta harga rendah ditawarkan setiap hari tanpa bergantung pada periode promosi.
Harga Murah Jadi Senjata
Menurut Bennix, salah satu daya tarik terbesar O!SAVE adalah filosofi “value over convenience”. Konsumen ditawarkan harga murah dengan konsekuensi pilihan barang dan kenyamanan toko tidak sebanyak minimarket konvensional.
Dalam video itu disebutkan, selisih harga sejumlah produk bahkan bisa mencapai sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan ritel pesaing. Bennix memberi contoh sejumlah produk kebutuhan harian yang dijual lebih rendah dibandingkan harga yang ditemuinya di kanal ritel lain.
Model tersebut dikenal sebagai hard discount retail. Harga murah tidak diberikan semata-mata melalui program diskon musiman, melainkan dibangun dari struktur biaya yang ditekan sejak awal.
O!SAVE juga menegaskan filosofi “Harga Murah Setiap Hari” dalam laman resminya. Perusahaan menyatakan sengaja mengurangi hal-hal yang dinilai tidak perlu karena dapat meningkatkan harga jual produk.
Barang Sedikit, Belanja ke Pabrik Lebih Banyak
Strategi berikutnya adalah membatasi jumlah produk atau stock keeping unit (SKU).
Menurut Bennix, O!SAVE hanya mengelola sekitar 800 hingga 1.000 SKU, sementara minimarket konvensional dapat memiliki lebih dari 2.000 SKU.
Artinya, O!SAVE tidak berusaha menyediakan terlalu banyak merek untuk satu kategori produk. Bila minimarket lain menawarkan banyak pilihan merek sabun atau beras, misalnya, O!SAVE dapat memilih hanya beberapa merek tetapi melakukan pembelian dalam volume jauh lebih besar.
Cara tersebut menciptakan economies of scale. Semakin besar pesanan kepada produsen, semakin besar pula peluang memperoleh harga pengadaan yang kompetitif.
Strategi produk terbatas tersebut juga diakui O!SAVE. Dalam informasi bagi pemasok, perusahaan menyebut keterbatasan produk memungkinkan mereka menawarkan volume pembelian yang signifikan kepada produsen maupun pemasok.
Kardus Jadi Rak, Pegawai Lebih Sedikit
Yang menarik, efisiensi O!SAVE tidak berhenti di rantai pasok. Bennix menyoroti pola operasional toko yang dibuat sesederhana mungkin. Barang tidak semuanya harus dikeluarkan dan ditata satu per satu di atas rak. Sejumlah produk cukup diletakkan bersama kardusnya.
Konsep tersebut mempercepat proses pengisian barang sekaligus menekan kebutuhan tenaga kerja. Dalam analisis Bennix, satu toko bahkan dapat dioperasikan dengan sekitar dua hingga tiga pekerja per shift.
Ukuran toko yang lebih kompak juga membantu menghemat biaya listrik, pendingin ruangan, dekorasi hingga sewa tempat.
Dengan kata lain, keuntungan O!SAVE bukan semata-mata berasal dari margin tinggi setiap produk. Modelnya justru mengejar margin tipis, penjualan besar, dan perputaran barang cepat.
“Jadi, O!SAVE menghasilkan uang dengan cara membuang semua pemborosan di operasional toko dan mengandalkan penjualan dalam jumlah masif,” demikian inti analisis Bennix.
Sasar Konsumen Hemat
Model tersebut dinilai cocok dengan kelompok konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. O!SAVE disebut membidik konsumen dengan gaya hidup frugal atau hemat, khususnya kelompok pekerja serta masyarakat di kota lapis kedua, kota lapis ketiga maupun kawasan pinggiran kota besar.
Strategi ekspansi perusahaan juga menghindari ketergantungan pada lokasi premium. Situs O!SAVE menyebut perusahaan aktif mencari properti di dekat kawasan perdagangan, pusat komunitas dan permukiman untuk disewa sebagai lokasi baru.
Pendekatan ini menjadi relevan ketika biaya hidup meningkat dan konsumen semakin berhitung terhadap selisih harga barang kebutuhan sehari-hari.
Bisa Tembus Rp630 Miliar? Bennix juga membuat simulasi mengenai potensi omzet O!SAVE di Indonesia.
Dengan asumsi satu gerai melayani sekitar 350 transaksi per hari dengan rata-rata belanja Rp50 ribu, omzet satu toko diperkirakan mencapai Rp17,5 juta sehari atau sekitar Rp525 juta per bulan.
Apabila digunakan asumsi 100 gerai, secara matematis omzet gabungan dapat mencapai sekitar Rp52,5 miliar per bulan atau Rp630 miliar setahun.
Namun, angka tersebut perlu dibaca sebagai simulasi Bennix berdasarkan asumsi transaksi, bukan data pendapatan resmi atau laporan keuangan O!SAVE. Dalam transkrip video, angka omzet gabungan bulanan juga sempat disebut Rp2,5 miliar sebelum perhitungan berikutnya menggunakan basis Rp52,5 miliar per bulan.
Karena itu, proyeksi Rp630 miliar lebih tepat dipandang sebagai ilustrasi mengenai potensi skala bisnis apabila asumsi transaksi tersebut tercapai.
Belum Mudah Geser Alfamart dan Indomaret
Meski agresif, O!SAVE masih menghadapi jalan panjang untuk benar-benar menggoyahkan dominasi pemain lama.
Alfamart sendiri saat ini menyebut jaringan bisnisnya telah didukung lebih dari 21.000 gerai dan lebih dari 170 ribu karyawan. Skala tersebut menunjukkan betapa besarnya kekuatan jaringan, distribusi, merek dan kedekatan konsumen yang harus dihadapi setiap pendatang baru.
Karena itu, kehadiran O!SAVE belum otomatis berarti Alfamart dan Indomaret akan kehilangan dominasinya. Namun, O!SAVE membawa pendekatan berbeda: pilihan barang lebih sedikit, toko sederhana, biaya operasional ditekan dan harga dibuat serendah mungkin.
Di Filipina, jaringan O!SAVE bahkan telah mencapai 750 gerai pada akhir 2025, memperlihatkan bahwa konsep hard discount tersebut bukan sekadar eksperimen dalam skala kecil. Robinsons Retail Holdings menyebut gerai ke-750 O!SAVE dibuka di Lapu-Lapu City, Cebu, pada Desember 2025.
Bennix menyebut O!SAVE juga memiliki ambisi ekspansi di Indonesia. Dalam video tersebut disebutkan target menuju sekitar 200 gerai pada 2026 dan 500 gerai pada 2027.
Jika ekspansi itu terealisasi, pertarungan ritel Indonesia akan memasuki babak baru. Bukan hanya soal siapa memiliki gerai paling banyak, tetapi siapa yang mampu membaca perubahan perilaku konsumen.
Saat masyarakat semakin sensitif terhadap harga, konsep toko yang sederhana tetapi murah bisa mendapatkan ruang lebih besar. Namun, pada akhirnya, seperti kesimpulan Bennix, daya beli masyarakat akan menjadi salah satu faktor paling menentukan arah persaingan tersebut.
Share berita ini