Kopi Liberika Tangse Aceh Layak Mendunia

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Suara mesin espresso meraung pelan di Kedai Kopi Barika, Banda Aceh. Aroma kopi memenuhi ruangan, namun kali ini ada wangi yang berbeda. Bukan hanya aroma kopi sangrai, melainkan semburat harum buah nangka yang lembut dan manis.

Belasan anak muda dari kalangan Generasi Z duduk mengelilingi sebuah meja panjang. Mereka datang bukan sekadar menikmati secangkir kopi atau mencari tempat nongkrong yang nyaman. 

Hari itu mereka diajak mengenal satu varietas kopi yang selama ini nyaris tenggelam dari ingatan masyarakat Aceh, yakni Kopi Liberika Tangse.

"Silakan hirup aromanya dulu, jangan langsung diminum," kata pemilik Kedai Kopi Barika, Anugrah Prya Pratama, sambil menyodorkan kopi kepada para peserta.

Perlahan mereka mengangkat gelas masing-masing. Uap tipis mengepul, membawa aroma yang mengingatkan pada buah nangka matang. Beberapa peserta saling berpandangan, seolah mencoba memastikan bahwa yang mereka hirup benar-benar berasal dari kopi.

Salah satunya Helena Sari. Perempuan yang mengaku gemar menikmati berbagai jenis kopi itu menyeruput perlahan. Sesaat kemudian wajahnya berubah penuh kejutan.

"Wah... enak sekali," ucapnya spontan.

Ia kembali menyeruput kopi itu untuk kedua kalinya.

"Kenapa baru sekarang saya tahu ada kopi seperti ini?" katanya sambil tersenyum.

Bagi Helena, pengalaman itu berbeda dari kopi yang biasa ia nikmati. Selain aroma nangka yang begitu kuat, rasa kopi tersebut terus berkembang di lidah.

"Harumnya khas sekali. Ada rasa nangka, lalu di ujung lidah terasa seperti kacang. Rasanya lembut dan tidak pahit berlebihan," tuturnya.

Yang membuatnya semakin terkesan, kopi itu terasa ringan di lambung. "Biasanya ada beberapa kopi yang membuat perut saya kurang nyaman. Tapi Liberika ini tidak membuat perut sakit. Malah terasa ringan," ujarnya.

Sebelum mengikuti sesi pengenalan itu, Helena mengaku hanya mengenal kopi Arabika, Robusta dari Kopi Gayo yang telah lama menjadi ikon Aceh.

"Jujur saya baru tahu kalau Aceh punya kopi seperti ini. Padahal rasanya unik sekali," katanya.

Di balik secangkir kopi yang dinikmati para anak muda itu, tersimpan kisah panjang. Menurut Anugrah, Liberika bukanlah tanaman baru. Kopi tersebut telah tumbuh di kawasan Tangse, Kabupaten Pidie, sejak sekitar 150 tahun lalu.

Ironisnya, meski populasinya diperkirakan hanya sekitar satu persen dari produksi kopi dunia, keberadaannya justru belum banyak dikenal masyarakat.

"Orang datang ke Aceh selalu mencari Kopi Gayo. Padahal kita juga punya Liberika Tangse yang tidak kalah istimewa. Persoalannya, selama ini belum ada yang memperkenalkannya secara serius," kata Anugrah.

Keunikan Liberika tidak hanya terletak pada aromanya yang menyerupai nangka. Menurut Anugrah, kopi ini memiliki karakter rasa yang dinamis. Dalam masa penyimpanan tertentu, cita rasanya dapat berubah menjadi nuansa durian, kelengkeng, hingga kacang tanpa kehilangan karakter khasnya.

"Setiap fase penyimpanan menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda. Itu yang membuat Liberika sangat unik," ujarnya.

Namun bagi Anugrah, memperkenalkan Liberika bukan sekadar menghadirkan menu baru di kedai kopinya.

Ia melihat kopi ini sebagai harapan baru bagi petani Tangse.

Selama ini, kata dia, rendahnya harga jual membuat banyak petani kehilangan semangat merawat kebun Liberika.

Sebagian bahkan beralih mencari penghasilan dari aktivitas pertambangan emas ilegal yang berisiko merusak lingkungan.

Karena itu, Barika mulai membangun kemitraan dengan petani, memberikan edukasi mengenai cara panen dan pengolahan yang benar, sekaligus membeli hasil panen dengan kualitas yang lebih baik agar nilai jualnya meningkat.

"Kalau kopi ini semakin dikenal, permintaan akan naik. Harga di tingkat petani ikut membaik. Kami ingin kopi menjadi sumber penghidupan yang layak sekaligus menjaga hutan Tangse tetap lestari," katanya.

Harapan itu sejalan dengan berbagai hasil penelitian yang menyebut Liberika sebagai salah satu varietas kopi yang memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan iklim.

Saat Arabika dan Robusta mulai menghadapi ancaman kenaikan suhu global, Liberika justru terbukti mampu bertahan dan tetap berproduksi dengan baik, termasuk di kawasan gambut yang sulit ditanami jenis kopi lain.

 Kemampuan beradaptasi itulah yang membuat banyak peneliti menyebut Liberika sebagai kopi masa depan.

Bagi Aceh, potensi itu merupakan peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Jika selama ini dunia mengenal Aceh melalui Kopi Gayo, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Liberika Tangse ikut berdiri sejajar sebagai identitas baru kopi Indonesia di mata dunia.

Untuk memperluas pasar, Barika telah menghadirkan berbagai menu seperti Sanger Liberika, Americano Liberika, dan Kopi Susu Liberika di gerainya di Batoh dan Lamnyong, Banda Aceh. Selain itu, produk biji kopi dan kopi bubuk juga mulai dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Aceh.

Ke depan, Barika berencana memperluas promosi melalui platform digital, bekerja sama dengan hotel, pelaku industri pariwisata, hingga komunitas kopi agar Liberika semakin dikenal oleh wisatawan.

"Kami ingin ketika orang datang ke Aceh, mereka tidak hanya mengenal Kopi Gayo, tetapi juga mengetahui bahwa Aceh memiliki Kopi Liberika Tangse yang unik dan langka. Ini bukan hanya tentang Barika, tetapi tentang bagaimana warisan kopi Aceh bisa dikenal dunia," tutup Anugrah.

Share berita ini

dialeksis.com