Kemenperin Pacu 4,43 Juta IKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Ekspor

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kecil dan menengah (IKM) naik kelas dengan memperkuat daya saing, pemanfaatan teknologi digital, serta akses ke pasar global.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar karena jumlah IKM mencapai 4,43 juta unit usaha. Jumlah itu terdiri dari sekitar 4,41 juta industri kecil dan mikro serta 22.161 industri menengah.

Menurut Sarmuji, perkembangan teknologi digital membuat IKM memiliki peluang lebih besar untuk menjual produknya ke pasar luar negeri. Karena itu, ekspor tidak seharusnya hanya menjadi ranah industri besar.

“Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri,” kata Sarmuji, Kamis (8/10/2026).

Ia juga meminta pembinaan IKM diarahkan pada hasil yang terukur. Pemerintah perlu memastikan intervensi yang diberikan mampu meningkatkan skala usaha, produktivitas, omzet, penyerapan tenaga kerja, akses pasar, hingga kemampuan IKM masuk ke rantai pasok industri.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan, pengembangan IKM masih menghadapi delapan tantangan, yakni pembiayaan, adopsi teknologi dan literasi digital, sumber daya manusia, rantai pasok dan kemitraan, inovasi dan desain, bahan baku, akses pasar dan persaingan global, serta standardisasi.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemenperin menjalankan sejumlah program, mulai dari fasilitasi pembiayaan dan bahan baku, teknologi produksi, peningkatan kualitas dan SDM, perluasan pasar, hingga penguatan kemitraan.

Sepanjang 2026 hingga triwulan III, sebanyak 313 IKM telah mendapatkan pembinaan untuk mendukung ekspor. Dari jumlah tersebut, 98 IKM atau sekitar 31 persen telah melakukan ekspor, sementara 215 IKM lainnya masih memiliki potensi untuk didorong masuk pasar global.

“Potensi IKM untuk masuk pasar global masih sangat besar. Karena itu, pembinaan perlu kita kawal dari peningkatan kapasitas produksi, kualitas dan standardisasi produk sampai kepada akses pasar,” ujar Reni. [in]

Share berita ini

dialeksis.com