Kemenperin Dorong Ulos Batak Tembus Pasar Mancanegara, Nilai Ekspor Tenun Ikat Naik 150 Persen

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong pelestarian kain ulos Batak tidak hanya sebatas menjaga warisan budaya, tetapi juga mengembangkan nilai ekonomi dan memperluas pasarnya hingga ke mancanegara.

Menurut Sarmuji, ulos harus terus digunakan, dikembangkan menjadi berbagai produk, serta mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin, terutama kaum perempuan.

"Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya," ujar Sarmuji.

Pameran hasil kolaborasi Kementerian Perindustrian dan Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (FKP-HKBP) tersebut berlangsung pada 13-15 Oktober 2026. Mengusung tema Menenun Harapan, Merajut Kemandirian, kegiatan ini menghadirkan produk dari 50 IKM dan UMKM binaan FKP-HKBP.

Produk yang dipamerkan meliputi kain ulos, busana, tas kulit, aksesori, hingga kuliner khas Batak.

Sarmuji mengatakan, ulos memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk fesyen, dekorasi interior, aksesori, dan cenderamata. Diversifikasi produk tersebut membuka peluang agar ulos semakin dikenal masyarakat luas dan mampu menembus pasar ekspor.

Potensi itu didukung kinerja ekspor tenun ikat Indonesia. Pada semester I 2026, nilai ekspor tenun ikat mencapai 34.000 dolar AS, meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 13.600 dolar AS. Sepanjang 2025, nilai ekspornya mencapai 88.000 dolar AS.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 juga mencatat terdapat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara, antara lain di Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan, industri tenun tradisional masih menghadapi tantangan berupa regenerasi perajin, keberlanjutan keterampilan menenun, inovasi desain, dan peningkatan kualitas produk.

Kemenperin, kata Reni, terus memperkuat industri ulos melalui pelatihan, pengembangan kewirausahaan, serta pembinaan industri kecil dan menengah (IKM). Pemerintah juga mendukung perlindungan produk daerah melalui sertifikasi Indikasi Geografis.

Salah satu produk yang telah memperoleh sertifikat tersebut adalah Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara.

Reni berharap pameran ini dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap ulos, memperluas akses pasar bagi perajin, serta memperkuat daya saing tenun tradisional sebagai warisan budaya Indonesia. [red]

Share berita ini

dialeksis.com