DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat industri kakao nasional melalui Program Cocoa Doctor. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi SDM sekaligus mendorong produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan kakao.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan pengembangan industri kakao membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
"Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor," ujar Sarmuji dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Program Cocoa Doctor merupakan kolaborasi Kemenperin dengan FAST Project UNDP, UK FCDO, dan Cocoa Academy PT Mars Symbioscience Indonesia.
Sebanyak 20 peserta dari sejumlah sentra kakao dinyatakan lulus. Mereka berasal dari Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Barat. Sebanyak 15 peserta atau 75% di antaranya merupakan perempuan.
Sepanjang 2026, program ini menargetkan 100 peserta. Hingga awal Oktober, 70 peserta telah mengikuti pelatihan, sementara 30 peserta lainnya dijadwalkan mengikuti pelatihan pada 20 Oktober-11 November 2026.
Plt Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan penguatan SDM menjadi fondasi penting untuk membangun industri kakao yang berdaya saing.
Lulusan Cocoa Doctor diharapkan dapat menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada petani serta pelaku usaha di daerah masing-masing.
Kemenperin juga mendorong penguatan ketertelusuran bahan baku, pemenuhan standar pasar, dan penerapan praktik berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia. [red]
Share berita ini