Jejak Aceh Economic Forum, dari Hilirisasi hingga Pemulihan Bencana

DIALEKSIS.COM | Aceh - Pemulihan ekonomi pascabencana menjadi pembahasan utama dalam Aceh Economic Forum (AEF) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh di Balai Meuseuraya Aceh, Kamis (22/10/2026). Pemerintah, ekonom, dan pemangku kebijakan membicarakan jalan agar perekonomian Aceh tumbuh lebih cepat, tangguh, dan mandiri.

Pertemuan tersebut melanjutkan perjalanan forum yang selama beberapa tahun membahas berbagai persoalan ekonomi Aceh. Hilirisasi pertanian, ekonomi syariah, pertumbuhan hijau, hingga pariwisata halal pernah menjadi pokok diskusinya. Kini, pemulihan sektor produktif setelah bencana memperoleh perhatian lebih besar.

Jejak pelaksanaan AEF dalam arsip publik dapat ditelusuri setidaknya hingga 28 Maret 2022. Ketika itu, BI Aceh menggelar pertemuan di Ballroom Hotel Grand Permata Hati, Banda Aceh, dengan pembahasan pengembangan ekosistem syariah dan hilirisasi produk unggulan.

Kepala Perwakilan BI Aceh saat itu, Achris Sarwani, menjadi pembicara kunci. Forum menghadirkan M. Karebet Wijayakusuma dari tim penelitian komoditas unggulan UMKM, Prof. Nazaruddin AW selaku Plt. Ketua IAEI Aceh, serta Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla.

Persoalan yang mengemuka adalah terbatasnya pengolahan hasil pertanian di Aceh. Produk yang langsung dijual tanpa pengolahan membuat kesempatan menciptakan nilai tambah belum dimanfaatkan secara optimal.

Dokumentasi 2022 tersebut sudah menyebut AEF sebagai kegiatan rutin. Karena itu, 28 Maret 2022 merupakan pelaksanaan paling awal yang berhasil diverifikasi, sementara tanggal peluncuran perdananya belum terkonfirmasi.

Pada 2023, keberlanjutan AEF tercatat dalam Laporan Perekonomian Provinsi Aceh edisi November. BI menyebut seminar nasional AEF sebagai salah satu rangkaian Road to Aceh Gayo Sustainable Investment Dialogue atau AGASID. Namun, dokumen tersebut belum merinci tanggal, lokasi, dan susunan pembicara khusus sesi AEF.

Memasuki 2024, hilirisasi pertanian kembali mendapat tempat. Pertemuan pada 25 April di Auditorium Teuku Umar, Kantor Perwakilan BI Aceh, membahas peningkatan nilai tambah hasil pertanian untuk menggerakkan ekonomi daerah.

Guru Besar Universitas Lampung sekaligus ekonom senior INDEF, Prof. Bustanul Arifin, dan akademisi Universitas Syiah Kuala, Dr. Aliasuddin, menjadi narasumber. Kepala Perwakilan BI Aceh Rony Widijarto P menyampaikan sambutan, sementara Kepala Kanwil DJKN Aceh Nofiansyah turut memberikan pandangan mengenai kebutuhan modal dan alternatif pembiayaan pembangunan.

Lima bulan kemudian, pada 26 September 2024, pembahasan bergeser menuju ekonomi hijau. Bertempat di Aula BI Aceh, forum menelaah peluang pembangunan berkelanjutan sebagai sumber pertumbuhan baru.

Narasumbernya meliputi Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Priyatno Rohmattullah, Arnita Rishanty dari Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, serta akademisi USK Dr. Rustam Effendi. Pembicaraan mencakup potensi pertumbuhan, pembiayaan berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan.

Pada 2025, AEF kembali hadir dalam beberapa pertemuan. Forum pada 16 Januari di Ballroom The Pade Hotel, Aceh Besar, dibuka Plt. Sekda Aceh Muhammad Diwarsyah. Pertanian, mekanisasi, digitalisasi, dan hilirisasi dibicarakan bersama upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Diskusi menghadirkan Kepala Kanwil Bea dan Cukai Aceh Safuadi, Prof. Bustanul Arifin, Kepala BPS Aceh Ahmadriswan Nasution, dan Ketua ISEI Aceh Aliasuddin. Rony Widijarto menyampaikan pandangan BI mengenai pentingnya meningkatkan produksi dan pengolahan hasil pertanian di dalam daerah.

Pada 18 Maret 2025, sektor pariwisata memperoleh perhatian khusus. AEF di Auditorium Teuku Umar BI Aceh mengangkat pengembangan pariwisata halal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Plt. Sekda Aceh M. Nasir Syamaun membuka kegiatan tersebut. Salah satu pematerinya, Dwi Marhen Yono, membahas pentingnya memperbaiki layanan wisata. Kekayaan alam, sejarah, dan budaya Aceh perlu didukung aksesibilitas, tenaga kerja terampil, fasilitas yang nyaman, serta promosi yang lebih kuat.

Pertemuan berikutnya berlangsung pada 26 September 2025 di Balee Meuseuraya Aceh, sebagai bagian dari Meuseuraya Festival. Forum membahas cara membawa produk UMKM Aceh masuk ke rantai nilai halal global melalui pengolahan, inovasi, dan kemitraan.

Indra Akbar Dilana dari Kementerian Perindustrian, Founder Capli Yuliana, Riswandi dari Koperasi Baitul Qiradh Baburrayyan, serta Syaifullah Muhammad dari Atsiri Research Center USK menjadi pemateri. Agus Chusaini menyampaikan sambutan BI.

Meuseuraya Festival sendiri mulai diselenggarakan pada 2023. Pada 2025, festival berlangsung 24–28 September, sedangkan sesi AEF dilaksanakan pada 26 September.

Bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 kemudian membawa kebutuhan pemulihan ekonomi ke pusat pembahasan. AEF pada 27 April 2026 di AAC Dayan Dawood, USK, membicarakan percepatan pemulihan di tengah ketidakpastian global.

Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas Medrilzam menyampaikan materi secara virtual. Forum juga menghadirkan Ketua ISEI Aceh Prof. Aliasuddin serta pemateri dari BSI. Pembahasan mencakup pemulihan sektor produktif, prospek ekonomi, dan optimalisasi kebijakan fiskal.

Pada 19 Agustus 2026, perhatian diarahkan lebih khusus pada rehabilitasi lahan pertanian dan irigasi. Pertemuan di Auditorium Teuku Umar BI Aceh menghadirkan T. Ahmad Dadek dari Bappeda Aceh, Fajrullah Mufti dari BWS Sumatera I, serta Direktur Perlindungan dan Optimasi Lahan Kementerian Pertanian Dede Sulaeman. Diskusi dipandu Fithriady dari FEBI UIN Ar-Raniry.

Sekda Aceh M. Nasir menekankan perlunya hasil diskusi diterjemahkan menjadi tindakan.

“Kami berharap diskusi hari ini melahirkan langkah-langkah nyata yang terukur dan terkoordinasi,” ujarnya.

Pembahasan itu berlanjut dalam pertemuan terbaru pada 22 Oktober 2026. Ekonom senior BI Anisha Wirasti Cahyaningrum memaparkan prospek ekonomi global dan nasional beserta risikonya bagi Aceh. Ramadhani dari DPMPTSP Aceh membahas strategi investasi jangka panjang, sementara Direktur Pembangunan Indonesia Barat Bappenas Jayadi menyampaikan perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi secara virtual.

Dari hilirisasi hingga pemulihan pascabencana, perjalanan AEF merekam kebutuhan Aceh untuk memperkuat sumber pertumbuhan. Pengolahan komoditas, pengembangan usaha masyarakat, investasi, dan pemulihan lahan produktif terus menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan ekonomi daerah.

Share berita ini

dialeksis.com