Indonesia Punya 40 Jenis Tanaman Penghasil Minyak Atsiri, Kemenperin Bidik Ekspor USD500 Juta

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat industri minyak atsiri dan meningkatkan daya saing di pasar global. Didukung kekayaan keanekaragaman hayati, berbagai komoditas seperti nilam, cengkeh, pala, dan serai wangi menjadi bahan baku unggulan yang berpeluang menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.

Berdasarkan data perdagangan internasional 2025, Indonesia menempati posisi eksportir minyak atsiri terbesar kelima dunia dengan nilai ekspor mencapai 348,71 juta dolar AS.

Potensi tersebut ditopang sekitar 21 industri besar dan lebih dari 3.000 unit penyulingan. Produksi minyak atsiri nasional, di luar terpentin, tercatat mencapai 8.054 ton.

Sektor ini juga memiliki kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, yakni sekitar 26.800 tenaga kerja langsung dan lebih dari 300.000 tenaga kerja tidak langsung.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, industri minyak atsiri nasional memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Namun, potensi tersebut perlu didukung peningkatan produktivitas, kualitas bahan baku, efisiensi produksi, serta pengembangan produk hilir.

"Kita menargetkan nilai ekspor minyak atsiri nasional dapat melampaui USD 500 juta sebelum 2029, sekaligus meningkatkan posisi Indonesia di pasar global agar dapat melampaui Brasil," ujar Faisol.

Indonesia diketahui memiliki sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, dengan 27 jenis di antaranya telah dikomersialkan.

Minyak atsiri menjadi bahan baku penting bagi berbagai sektor industri, mulai dari parfum, kosmetik, produk perawatan tubuh, aromaterapi hingga pangan. Peluang pengembangannya semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan terhadap produk berbahan alami.

Dorong Hilirisasi dan Penguatan Industri

Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menetapkan sejumlah sasaran pengembangan industri minyak atsiri periode 2025-2029.

Fokus pengembangan mencakup peningkatan ekspor, kapasitas produksi, investasi, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan industri hilir.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menjelaskan, Kemenperin telah menyiapkan sejumlah program strategis, di antaranya penyusunan peta jalan pengembangan industri atsiri nasional, pembangunan basis data nasional minyak atsiri, serta fasilitasi restrukturisasi mesin dan peralatan industri.

Pemerintah juga mendorong komersialisasi hasil riset dan inovasi serta optimalisasi Pusat Flavor and Fragrance (PFF) di Sumatera Barat dan Bali.

Selain itu, perluasan promosi dan partisipasi industri dalam pameran di dalam maupun luar negeri terus didorong untuk membuka akses pasar yang lebih luas.

Melalui langkah tersebut, pengembangan minyak atsiri diharapkan tidak hanya bertumpu pada penjualan bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi sehingga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global. [red]

Share berita ini

dialeksis.com