DIALEKSIS.COM | Jakarta - Konsumen Indonesia masih menunjukkan keyakinan yang relatif tinggi di tengah kenaikan harga. Dalam perbandingan 17 negara yang dipublikasikan Visual Capitalist pada 2 Oktober 2026, Indonesia menempati posisi kedua untuk indeks keyakinan konsumen, di bawah India. Namun, optimisme tersebut perlu dibaca bersama kondisi harga yang dihadapi masyarakat.
Publikasi itu menyandingkan proyeksi rata-rata inflasi 2026 dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dengan indeks keyakinan konsumen September 2026 dari Ipsos. Indonesia mencatat skor keyakinan 52,9, sedangkan inflasinya diproyeksikan sebesar 3,3 persen sepanjang tahun ini. India memimpin dengan skor keyakinan 66,9.
Cakupan pemeringkatan tersebut perlu diperhatikan. Posisi kedua Indonesia berlaku untuk 17 negara pilihan Visual Capitalist. Dalam keseluruhan survei Ipsos yang mencakup 30 negara, Indonesia berada di urutan keenam, setelah India, Swedia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Skor Indonesia tetap melampaui rata-rata 30 negara yang mencapai 48,4.
Perbandingan antarnegara memperlihatkan bahwa inflasi rendah belum tentu diikuti keyakinan konsumen yang tinggi. Jepang, misalnya, memiliki proyeksi inflasi terendah dalam daftar, yakni 1,8 persen, tetapi skor keyakinan konsumennya hanya 39,4.
Di ujung lainnya, Turki dan Argentina menghadapi proyeksi inflasi masing-masing sebesar 31,5 persen dan 30,8 persen. Skor keyakinan konsumen kedua negara itu juga rendah, yakni 35,3 dan 37,8.
Indeks Ipsos mencakup penilaian terhadap kondisi ekonomi, pekerjaan, investasi, serta harapan terhadap masa depan. Karena itu, pembacaan atas keyakinan konsumen lebih luas daripada sekadar melihat perubahan harga barang. Survei edisi September dilakukan pada 21 Agustus–4 September 2026 dengan melibatkan lebih dari 21.000 responden di 30 negara.
Ipsos juga menjelaskan bahwa sampel Indonesia cenderung lebih perkotaan, lebih berpendidikan, dan/atau lebih sejahtera dibandingkan populasi secara umum. Hasilnya perlu dibaca sebagai pandangan kelompok masyarakat yang lebih terkoneksi, sehingga tidak otomatis mewakili pengalaman seluruh rumah tangga.
Di dalam negeri, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan keyakinan masyarakat masih berada di zona optimistis. Indeks Keyakinan Konsumen pada Agustus 2026 mencapai 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli. Bank Indonesia menggunakan angka di atas 100 sebagai penanda optimisme.
Perbaikan itu ditopang kenaikan penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen. Kedua indeks tersebut masing-masing mencapai 109,4 dan 127,6. Angka Bank Indonesia dan Ipsos perlu dibaca menurut ukuran serta periode surveinya masing-masing.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan harga nasional masih meningkat. Inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Secara bulanan, harga naik 0,30 persen dibandingkan Agustus.
Angka tersebut memiliki periode pengukuran berbeda dari proyeksi OECD. Inflasi September membandingkan harga pada satu bulan dengan bulan yang sama setahun sebelumnya, sedangkan angka OECD memperkirakan rata-rata inflasi sepanjang 2026.
Bagi masyarakat Aceh, tekanan harga tercatat lebih tinggi. BPS Aceh melaporkan inflasi tahunan September 2026 mencapai 5,03 persen, atau 1,75 poin persentase di atas angka nasional. Secara bulanan, Aceh mengalami inflasi 0,36 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga bulanan di Aceh, dengan andil 0,30 poin persentase. Komoditas pendorongnya antara lain cabai merah, daging ayam ras, cabai hijau, ikan tuna, dan semangka.
Adapun secara tahunan, komoditas yang dominan menyumbang inflasi Aceh meliputi beras, nasi dengan lauk, emas perhiasan, bensin, dan daging ayam ras. Data ini menunjukkan bahwa optimisme pada tingkat nasional berjalan bersamaan dengan tekanan biaya kebutuhan sehari-hari yang berbeda antardaerah.
Tekanan dari luar negeri juga masih membayangi. Dalam laporan September 2026, OECD memproyeksikan inflasi negara-negara G20 meningkat dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 4,1 persen pada 2026, sebelum mereda menjadi 3,6 persen pada 2027. Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menahan penurunan inflasi.
OECD mendorong bantuan untuk meredam dampak kenaikan biaya energi diberikan secara terarah dan sementara. Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa gangguan cuaca dapat menambah tekanan terhadap harga pangan risiko yang membuat pemeliharaan daya beli tetap menjadi pekerjaan penting di tengah optimisme konsumen.
Share berita ini