DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kedai Kopi Barika mulai memperkenalkan Kopi Liberika Tangse sebagai salah satu kopi khas Aceh yang dinilai memiliki potensi besar di pasar nasional maupun internasional.
Melalui berbagai inovasi produk dan kampanye edukasi, Barika ingin menjadikan kopi yang selama ini kurang dikenal tersebut sebagai identitas baru kopi Aceh selain Gayo.
Pemilik Kedai Kopi Barika, Anugrah Praya Pratama, mengatakan Kopi Liberika Tangse merupakan komoditas yang sangat langka karena populasinya diperkirakan hanya sekitar satu persen dari total produksi kopi dunia.
Namun ironisnya, keberadaan kopi tersebut masih belum banyak diketahui masyarakat, bahkan di Aceh sendiri.
"Kalau masyarakat tahu bahwa Aceh memiliki kopi yang sangat langka di dunia, tentu akan muncul rasa penasaran untuk mencicipinya. Sayangnya selama ini informasi tentang Liberika hampir tidak pernah diperkenalkan secara serius," kata Anugrah kepada media dialeksis.com, Senin, 20 Juli 2026.
Menurutnya, rendahnya nilai jual kopi Liberika bukan disebabkan kualitasnya yang buruk, melainkan karena minimnya promosi dan edukasi kepada masyarakat maupun pasar.
"Permintaan lahir dari informasi. Kalau orang tidak tahu, tentu tidak akan ada permintaan. Akibatnya harga kopi di tingkat petani juga rendah," ujarnya.
Anugrah menjelaskan Barika memilih membangun ekosistem Liberika mulai dari hulu hingga hilir. Selain menghadirkan berbagai menu berbahan dasar Liberika di kedai, pihaknya juga mulai membina petani di Tangse agar menghasilkan biji kopi dengan kualitas yang lebih baik.
Ia mengungkapkan selama ini sebagian besar petani masih memanen seluruh buah kopi tanpa melakukan seleksi tingkat kematangan, sehingga kualitas biji menjadi rendah.
"Kami mulai mengedukasi petani agar hanya memetik buah yang benar-benar matang, memperbaiki proses penjemuran, hingga penyimpanan. Kami juga membeli hasil panen mereka dengan harga yang lebih baik dibanding harga pasar, sehingga mereka memiliki semangat untuk meningkatkan kualitas," jelasnya.
Menurut Anugrah, upaya tersebut bukan semata-mata bertujuan meningkatkan bisnis Barika, tetapi juga sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat Tangse.
Ia menilai meningkatnya nilai ekonomi kopi Liberika dapat menjadi alternatif mata pencaharian yang lebih berkelanjutan dibanding aktivitas pertambangan emas ilegal yang masih marak terjadi di kawasan tersebut.
"Kalau kopi ini punya nilai tinggi, masyarakat tidak lagi bergantung pada tambang ilegal. Kami ingin mengganti ketergantungan pada emas kuning menjadi emas merah, yaitu kopi," katanya.
Selain aspek ekonomi, Anugrah juga menilai pengembangan Liberika memiliki dampak terhadap pelestarian lingkungan. Berbeda dengan jenis kopi lain, pohon Liberika mampu tumbuh berdampingan dengan vegetasi hutan sehingga tidak memerlukan pembukaan lahan secara besar-besaran.
"Ini kopi yang sangat adaptif terhadap perubahan iklim. Pohonnya bisa hidup puluhan hingga ratusan tahun dan tetap produktif. Karena itu banyak peneliti menyebut Liberika sebagai kopi masa depan," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah pihak dari Malaysia telah lebih dahulu menunjukkan ketertarikan terhadap bibit Liberika asal Tangse. Bahkan beberapa petani pernah diundang untuk berbagi pengetahuan mengenai budidaya kopi tersebut.
"Kita jangan sampai terlambat mengenalkan Liberika. Kalau tidak kita rawat dan promosikan dari sekarang, bukan tidak mungkin suatu saat justru negara lain yang lebih dikenal sebagai pengembangnya," katanya.
Untuk memperluas pasar, Barika telah menghadirkan berbagai menu seperti Sanger Liberika, Americano Liberika, dan Kopi Susu Liberika di gerainya di Batoh dan Lamnyong, Banda Aceh. Selain itu, produk biji kopi dan kopi bubuk juga mulai dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Aceh.
Ke depan, Barika berencana memperluas promosi melalui platform digital, bekerja sama dengan hotel, pelaku industri pariwisata, hingga komunitas kopi agar Liberika semakin dikenal oleh wisatawan.
"Kami ingin ketika orang datang ke Aceh, mereka tidak hanya mengenal Kopi Gayo, tetapi juga mengetahui bahwa Aceh memiliki Kopi Liberika Tangse yang unik dan langka. Ini bukan hanya tentang Barika, tetapi tentang bagaimana warisan kopi Aceh bisa dikenal dunia," tutup Anugrah.
Share berita ini