HUT ke-81 RI, SAPMA PP Aceh Minta Pemerintah Ciptakan Ekosistem Usaha bagi Anak Muda

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pengurus Wilayah Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Aceh berharap dalam momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, pemerintah tidak hanya berfokus pada pembukaan lapangan kerja, tetapi juga membangun ekosistem yang mendorong anak muda menjadi pelaku usaha dan penggerak pembangunan.

Ketua Pengurus Wilayah (PW) SAPMA Pemuda Pancasila Provinsi Aceh periode 2026–2030, Teuku Maury Darwin, mengatakan generasi muda Aceh memiliki kemampuan dan semangat untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada generasi muda, terutama dalam hal pendidikan, pelatihan, peningkatan keterampilan, kesempatan kerja, hingga dukungan terhadap UMKM dan dunia usaha.

“Kami berharap ke depannya pemerintah tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menciptakan ekosistem yang mendorong anak muda untuk menjadi wirausahawan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan skill, serta mengembangkan potensi dan kreativitas mereka,” kata Teuku Maury Darwin kepada media dialeksis.com, Senin (17/8/2026).

Ia menilai persoalan lapangan kerja menjadi semakin penting untuk diperhatikan, terlebih dengan adanya pemberitaan mengenai kenaikan angka pengangguran di Aceh.

“Sebenarnya banyak anak muda Aceh yang memiliki kemampuan dan semangat untuk ikut dalam pembangunan daerah. Karena itu, kami berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada generasi muda, mulai dari akses pendidikan dan pelatihan, kesempatan kerja, dukungan terhadap UMKM dan dunia usaha, hingga akses permodalan,” ujarnya.

Teuku Maury menyebutkan, anak muda memiliki peluang besar untuk menggerakkan sektor riil di Aceh. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan ekosistem usaha yang memadai agar generasi muda lebih mudah mengembangkan ide dan menjalankan usaha

“Terutama selama ini kita lihat anak muda punya peluang untuk menghidupkan sektor riil di Aceh. Tetapi pemerintah harus mendukung ekosistemnya agar mempermudah kaum muda untuk menjalankannya,” katanya.

Menurutnya, kemerdekaan yang diperingati setiap 17 Agustus tidak semestinya hanya menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu. Lebih dari itu, kemerdekaan harus diwujudkan melalui karya dan kontribusi nyata generasi penerus.

“Bagi kami di SAPMA Pemuda Pancasila Aceh, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi juga tentang bagaimana kita mengisi kemerdekaan dengan karya dan kontribusi nyata,” tutur Teuku Maury.

Ia menegaskan, anak muda harus diberikan kepercayaan, kesempatan, serta ruang untuk mengambil bagian dalam pembangunan Aceh.

“Kami ingin melihat Aceh yang mandiri, maju dan produktif. Kami SAPMA Pemuda Pancasila Aceh siap berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” katanya.

Teuku Maury berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dapat menciptakan lebih banyak peluang bagi generasi muda.

Dengan demikian, kata dia, anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menjadi pelaku sekaligus penggerak pembangunan daerah.

“Jika ini berjalan, kami percaya anak muda tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku dan penggerak pembangunan Aceh,” pungkasnya.

Share berita ini

dialeksis.com