DIALEKSIS.COM | New York - Pemerintah Turki mengecam keras pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyerang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke - 81 di New York.
Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, menyebut tuduhan yang diarahkan Netanyahu kepada Turki dan Erdogan sebagai tudingan tanpa dasar yang tidak mencerminkan semangat forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Duran menyusul pidato Netanyahu pada Kamis (24/9/2026). Kantor berita Anadolu melaporkan tanggapan Ankara pada Jumat (25/9/2026).
Menurut Duran, penggunaan podium Majelis Umum PBB untuk menyerang sebuah negara dan kepala pemerintahannya bertentangan dengan nilai perdamaian, hukum, serta dialog yang seharusnya menjadi dasar organisasi internasional tersebut.
Duran mengatakan pernyataan Netanyahu tidak dapat mengalihkan perhatian dunia dari bencana kemanusiaan di Gaza maupun berbagai proses hukum internasional terkait perang tersebut. Ia juga menegaskan Turki akan tetap menyuarakan dukungan terhadap Palestina dan masyarakat yang terdampak konflik.
Ketegangan terbaru itu bermula ketika Netanyahu dalam pidatonya menyampaikan serangkaian tuduhan terhadap Erdogan dan Turki.
Netanyahu menyebut Turki sebagai negara terbaru yang menjadi penyebar luas apa yang ia sebut sebagai kebohongan antisemit. Ia juga menyebut Erdogan sebagai seorang "tiran" serta menuduh Ankara menampung para pemimpin Hamas.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pidato panjang Netanyahu yang membahas perang Gaza, Iran, Hamas, hingga kritik internasional terhadap kebijakan pemerintah Israel.
Pidato Netanyahu juga berlangsung di tengah suasana panas di ruang sidang Majelis Umum PBB.
Ketika pemimpin Israel itu tampil di podium, puluhan delegasi meninggalkan ruang sidang. Sebagian terdengar mencemooh, sementara anggota delegasi Israel memberikan tepuk tangan. Pimpinan sidang beberapa kali berupaya menertibkan suasana.
Hubungan Ankara dan Tel Aviv memang memburuk tajam sejak pecahnya perang Gaza setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 dan operasi militer Israel berikutnya di Jalur Gaza.
Turki menjadi salah satu negara yang paling vokal mengkritik operasi Israel di wilayah Palestina.
Dalam pidatonya sendiri di Majelis Umum PBB pada Selasa (22/9/2026), Erdogan kembali menyerukan tekanan internasional yang lebih besar terhadap Israel dan mendorong semakin banyak negara mengakui Palestina sebagai negara merdeka.
Erdogan juga mengkritik struktur Dewan Keamanan PBB dan menyerukan reformasi lembaga tersebut. Menurutnya, sistem internasional tidak semestinya membuat keputusan lebih dari 190 negara sangat bergantung pada lima negara pemegang hak veto.
Pertukaran pernyataan antara Netanyahu dan Erdogan menunjukkan ketegangan diplomatik kedua negara belum mereda. Gaza tetap menjadi salah satu sumber utama perselisihan Ankara dan Tel Aviv, terutama menyangkut operasi militer Israel, kondisi kemanusiaan warga Palestina, serta masa depan penyelesaian konflik Israel-Palestina.
Turki menegaskan akan terus mendorong pengakuan terhadap negara Palestina dan menyerukan penghentian krisis kemanusiaan di Gaza. Israel, pada sisi lain, membantah berbagai tuduhan terhadap operasi militernya dan menyatakan perang yang dijalankannya ditujukan untuk menghadapi Hamas.
Share berita ini