DIALEKSIS.COM | Dunia - Arab Saudi melancarkan serangan terhadap milisi Houthi di Yaman setelah kelompok yang didukung Iran itu mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah pada awal pekan ini.
Juru bicara Koalisi pimpinan Saudi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Malki, mengatakan serangan tersebut hanya menyasar target militer yang digunakan Houthi untuk mengancam kapal-kapal komersial.
"Serangan hanya berfokus pada target militer sah yang digunakan milisi Houthi teroris untuk mengancam kapal-kapal komersial di Laut Merah," kata Al-Malki dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters, Sabtu (25/7/2026).
Serangan balasan Saudi terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Houthi sebelumnya menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan mengancam akan mengganggu ekspor minyak kerajaan melalui Laut Merah serta Selat Bab el-Mandeb.
Al-Malki mengecam tindakan Houthi yang disebutnya "sembrono dan pengecut" karena menargetkan kapal-kapal komersial di Laut Merah.
Di sisi lain, pertahanan udara Arab Saudi dilaporkan mencegat dua rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman pada Sabtu. Menurut sumber keamanan Yunani yang dikutip Reuters, rudal tersebut mengarah ke fasilitas minyak di Yanbu, kota di pesisir Laut Merah.
Pertahanan Sipil Saudi juga mengeluarkan sejumlah peringatan kepada warga di Yanbu. Beberapa waktu kemudian, otoritas menyatakan ancaman telah berlalu. Belum ada laporan resmi mengenai kerusakan akibat serangan tersebut.
Sistem pertahanan udara yang digunakan untuk mencegat rudal itu disebut dioperasikan oleh personel militer Yunani, menurut sumber yang dikutip Reuters.
Trump Ancam Iran
Ketegangan antara Saudi dan Houthi meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan meminta Iran bertanggung jawab jika serangan Houthi kembali terjadi.
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah Houthi mengklaim telah menyerang kapal tanker minyak Saudi.
"Jika mereka melakukan ini lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah boneka dan/atau proksi Iran, dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, kepada Houthi sendiri," kata Trump dalam unggahan di Truth Social pada Kamis.
Situasi tersebut menambah kompleksitas konflik yang kini melibatkan sejumlah front di kawasan. Pasukan AS sebelumnya melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Kamis malam dan Jumat pagi, yang disebut menjadi serangan malam ke-13 berturut-turut.
Militer AS juga dilaporkan menyerang sebuah kapal dagang yang mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran.
Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, mengatakan pasukan Amerika melumpuhkan kapal M/T Lavine di Teluk Oman setelah kapal tersebut mencoba menerobos blokade setidaknya empat kali. Pernyataan itu dikutip Associated Press.
Trump sendiri mengatakan akan segera memutuskan apakah AS akan melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Dalam wawancara dengan Axios pada Kamis, Trump menyebut serangan yang direncanakan akan lebih besar dibandingkan apa pun yang telah terjadi dalam perang sejauh ini.
Trump juga mengatakan Iran belum "menerima cukup penderitaan".
Di tengah eskalasi konflik, Pakistan dilaporkan tengah mencari cara untuk menghidupkan kembali perundingan damai antara AS dan Iran yang sebelumnya terhenti. Reuters melaporkan pada Jumat pagi, mengutip tiga sumber Pakistan. [CNBC, Reuters, AP]
Share berita ini