DIALEKSIS.COM | Moskow - Rusia dan Ukraina kembali saling melancarkan serangan udara sepanjang malam. Di tengah meningkatnya serangan tersebut, perwakilan Ukraina bersama sejumlah negara Barat melanjutkan pembicaraan mengenai rekonstruksi pascaperang dan jaminan keamanan di Brussels, Kamis (5/11/2026).
Serangan terbaru Rusia memperlihatkan besarnya tantangan yang harus dihadapi Ukraina, baik dalam pemulihan infrastruktur maupun penanganan korban. Tim penyelamat masih mencari lebih dari 30 orang yang diduga tertimbun reruntuhan sekolah dan tempat penampungan di Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, setelah serangan bom berpemandu Rusia pada Senin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebutkan, sedikitnya 43 orang tewas dalam serangan tersebut. Proses identifikasi sejumlah korban masih berlangsung menggunakan sampel DNA keluarga. Satu orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan dalam keadaan hidup.
Di sisi lain, Ukraina melancarkan serangan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah Rusia. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 496 drone Ukraina sepanjang malam di 13 wilayah, termasuk Krimea serta kawasan Laut Hitam dan Laut Azov.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan jaringan listrik dan kebakaran di sebuah kawasan industri di wilayah Ryazan. Media Rusia juga melaporkan kebakaran di kilang minyak Ryazan setelah wilayah itu menjadi sasaran serangan drone.
Sementara itu, serangan Rusia ke Ukraina juga berlanjut. Angkatan Udara Ukraina menyatakan berhasil menjatuhkan atau melumpuhkan 105 dari 128 drone serang Rusia yang diluncurkan sepanjang malam hingga Kamis pagi.
Serangan Rusia mengakibatkan empat orang terluka di wilayah Dnipropetrovsk dan Kyiv. Di Dnipro, tiga orang mengalami luka setelah drone menghantam sejumlah lokasi. Serangan terhadap infrastruktur logistik di sebelah barat Kyiv juga memicu kebakaran dan melukai seorang warga.
Di tengah situasi tersebut, pembicaraan mengenai masa depan Ukraina berlanjut di markas NATO, Brussels. Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, mengatakan diskusi memasuki hari kedua dengan agenda utama rekonstruksi, kebutuhan pendanaan hingga 2027, serta jaminan keamanan setelah perang berakhir.
Pertemuan itu melibatkan pejabat Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Uni Eropa, dan NATO. Perwakilan Bank Dunia serta perusahaan investasi asal Amerika Serikat, BlackRock, juga turut hadir.
Umerov mengatakan, pembahasan turut mencakup ancaman Rusia terhadap Ukraina dan Eropa serta langkah bersama untuk menghadapinya.
Pertemuan di Brussels berlangsung menjelang rencana perundingan antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pembicaraan tersebut diharapkan membuka jalan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir lima tahun.
Zelenskyy sebelumnya juga melakukan komunikasi selama 90 menit dengan utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Ia menegaskan Ukraina siap mengambil langkah yang diperlukan untuk mempercepat penyelesaian konflik.
Kushner menyebut pembicaraan tidak hanya diarahkan untuk mengakhiri perang, tetapi juga membangun arsitektur keamanan yang dapat mencegah konflik kembali terjadi.
Dukungan finansial Eropa turut menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan ketahanan Ukraina. Pada Kamis, Komisi Eropa menyalurkan 4,36 miliar euro sebagai bagian dari paket pinjaman senilai 90 miliar euro yang telah disepakati para pemimpin Uni Eropa pada April.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan dana tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan pertahanan dan pelayanan publik Ukraina.
Zelenskyy menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Menurut dia, pendanaan Eropa akan membantu memperkuat ketahanan energi, pengadaan drone, perangkat peperangan elektronik, serta sistem pertahanan udara.
Di tengah serangan yang masih berlangsung, dukungan finansial dan pembicaraan keamanan menjadi dua aspek penting bagi Ukraina. Namun, besarnya kerusakan akibat perang menunjukkan bahwa proses pemulihan negara tersebut akan membutuhkan dukungan jangka panjang. [AP/abc news]
Share berita ini