DIALEKSIS.COM | Moskow - Rusia dan Ukraina kembali saling melancarkan serangan pada infrastruktur energi dan sipil sepanjang malam. Serangan terjadi kurang dari sehari setelah kedua negara mengisyaratkan adanya perkembangan dalam upaya perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat.
Kementerian Energi Ukraina pada Jumat (23/10/2026) menyebut serangan besar-besaran Rusia menghantam fasilitas energi di wilayah Zhytomyr, Volyn, Mykolaiv, Poltava, Khmelnytskyi, dan Rivne. Lebih dari 500 ribu orang dilaporkan kehilangan akses listrik akibat serangan tersebut.
"Upaya pemulihan darurat telah dimulai di lokasi-lokasi yang situasi keamanannya memungkinkan," demikian pernyataan Kementerian Energi Ukraina.
Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, juga melaporkan salah satu pembangkit listrik tenaga termalnya berhenti beroperasi akibat serangan Rusia. DTEK menyebut pembangkit listrik tenaga termal miliknya telah diserang lebih dari 230 kali sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada 2022.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukannya berhasil mencegat dan menghancurkan 443 drone Ukraina sepanjang malam.
Serangan tersebut terjadi setelah Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada Rabu. Pertemuan itu membahas upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Setelah pertemuan, Putin menyatakan Moskow siap kembali ke meja perundingan dengan Kyiv yang dimediasi AS pada November. Ia menegaskan perundingan ditujukan untuk mencapai perdamaian permanen dan memberikan jaminan keamanan bagi Rusia maupun Ukraina.
Namun, kesepakatan yang disebut sebagai "gencatan senjata energi" yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 11 Oktober belum menghasilkan perkembangan berarti.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengatakan Kyiv sempat menghentikan serangan terhadap target energi Rusia selama tiga hari. Ukraina kemudian kembali menyerang setelah Rusia disebut terus menggempur infrastruktur energi Ukraina. [cnbc]
Share berita ini