Rusia Hujani Ukraina dengan Drone, Tiga Jembatan Kyiv Terdampak Serangan

DIALEKSIS.COM | Moskow - Serangan udara Rusia kembali mengguncang ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Jumat (2/10/2026). Serangan tersebut memaksa penutupan total maupun sebagian tiga dari enam jembatan jalan raya yang melintasi Sungai Dnipro.

Wali Kota Kyiv menyebut serangan itu menyebabkan kemacetan parah di sejumlah ruas jalan. Penutupan jembatan menjadi gangguan terbaru terhadap aktivitas warga di ibu kota Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia meluncurkan lebih dari 100 drone ke Ukraina dalam semalam. Serangan menyasar Kyiv dan delapan wilayah lainnya.

Menurut Zelenskyy, hampir separuh drone yang digunakan Rusia merupakan drone bertenaga jet yang sulit dicegat.

Salah satu drone menghantam sebuah blok apartemen bertingkat tinggi di Kyiv. Satu orang dilaporkan tewas dan sedikitnya empat lainnya terluka dalam sejumlah lokasi.

Zelenskyy kembali meminta negara-negara asing memperketat sanksi terhadap Rusia. Ia mengeklaim drone dan rudal Rusia masih sangat bergantung pada komponen yang berasal dari luar negeri.

Di sisi lain, Ukraina juga terus melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal jarak jauh buatan dalam negeri. Sasaran serangan antara lain fasilitas industri militer dan kilang minyak di Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia pada Jumat menyatakan sistem pertahanan udaranya telah menjatuhkan 646 drone Ukraina dalam semalam. Drone tersebut disebut ditembak jatuh di sejumlah wilayah Rusia, Krimea yang diduduki Rusia, serta kawasan Laut Azov dan Laut Hitam.

Gubernur wilayah Volgograd, Andrei Bocharov, mengatakan satu orang terluka akibat serangan drone yang menyasar apa yang disebutnya sebagai infrastruktur industri.

Ukraina Terima Usulan Gencatan Senjata Parsial

Di tengah meningkatnya serangan udara, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengungkapkan Kyiv menerima usulan terpisah mengenai gencatan senjata parsial dari Amerika Serikat, India, Turki, dan Mesir.

Usulan tersebut mencakup penghentian serangan terhadap infrastruktur energi serta pelayaran di Laut Hitam.

Sybiha mengatakan Ukraina siap menerima gencatan senjata terkait sektor energi dan Laut Hitam. Namun, kesepakatan itu harus mencakup penghentian serangan Rusia terhadap jaringan listrik Ukraina serta penghentian serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia dan kapal pengangkut ekspor pertanian di Laut Hitam.

"Kami siap untuk gencatan senjata terkait energi dan Laut Hitam, namun hanya dalam kombinasi tersebut," ujar Sybiha.

Ia juga kembali menyampaikan tawaran Ukraina untuk melakukan gencatan senjata tanpa syarat di sepanjang garis depan. Namun, Rusia menolak usulan tersebut dan menyatakan perlunya kesepakatan damai secara menyeluruh.

Ukraina Minta 300 Rudal Patriot

Sybiha juga mengatakan Ukraina meminta sekitar 300 rudal Patriot dari negara-negara mitra.

Menurut perkiraan badan intelijen Ukraina, Rusia memiliki persediaan sekitar 600 rudal balistik dan mampu memproduksi hingga 140 rudal balistik setiap bulan.

Ukraina membutuhkan sistem pertahanan udara Patriot untuk menghadapi rudal balistik Rusia. Namun, pasokan sistem tersebut terbatas di tengah meningkatnya kebutuhan pertahanan udara akibat konflik lainnya.

Selain persenjataan, Ukraina juga menghadapi tekanan finansial. Kyiv memperkirakan defisit anggaran mencapai sekitar 27 miliar dolar AS tahun ini.

Sementara itu, Institute for the Study of War melaporkan Rusia kehilangan kendali atas hampir 300 kilometer persegi wilayah antara Maret dan September.

Lembaga tersebut juga memperkirakan pasukan Rusia mengalami lebih dari 46.000 korban tewas dan terluka sepanjang September, yang disebut sebagai angka bulanan tertinggi tahun ini.

Perang Rusia-Ukraina sendiri terus berlangsung di sepanjang garis depan yang membentang sekitar 1.250 kilometer. Hingga kini, belum terlihat tanda konkret tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara. [AP/abc news]

Share berita ini

dialeksis.com