Program Makan Siang Sehat ala Trump di AS Terganjal Keterbatasan Anggaran dan Fasilitas

DIALEKSIS.COM | Washington - Program peningkatan kualitas makanan bergizi di sekolah-sekolah Amerika Serikat yang digagas oleh pemerintahan Presiden Donald Trump kini berhadapan dengan realita lapangan yang pelik. Ambisi untuk beralih menyajikan makanan segar dan sehat ternyata tersandung oleh keterbatasan fasilitas dapur, minimnya pekerja terampil, hingga ancaman defisit anggaran di tingkat sekolah. 

Kebijakan ini merupakan bagian dari gerakan Make America Healthy Again yang didorong kuat oleh Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Robert F. Kennedy Jr. Tujuannya jelas: memangkas ketergantungan sekolah pada makanan ultra-olahan. 

"Kita perlu memperluas masakan rumahan, mengurangi tambahan gula dan makanan ultra-olahan, serta menyajikan lebih banyak hasil bumi segar, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas tinggi," tegas Kennedy dalam sebuah konferensi pers Agustus lalu. 

Namun, implementasi di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di Sekolah Dasar Thomas Hooker, Connecticut, misalnya, niat baik ini sulit dieksekusi. Bangunan sekolah yang didirikan sejak dekade 1960-an itu tidak memiliki dapur standar. Alhasil, staf kantin hanya mampu memanaskan makanan beku siap saji seperti nugget ayam atau patty hamburger, yang kemudian disajikan bersama sayuran mentah atau buah kalengan. 

Bantuan Dana Dinilai Jauh dari Cukup

Merespons berbagai kendala infrastruktur tersebut, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins mengumumkan kucuran dana hibah peralatan senilai US$70 juta (sekitar Rp1,1 triliun) serta dana penelitian sebesar US$30 juta (sekitar Rp470 miliar). 

Meski angkanya terdengar fantastis, Ketua School Nutrition Foundation, Gay Anderson, menilai dana tersebut sangat minim. "Uang sebesar US$70 juta tidak akan cukup untuk menjangkau (sekolah-sekolah di) 50 negara bagian," sebut Anderson.

Sebagai perbandingan, Meriden, sebuah distrik sekolah di AS, harus merogoh kocek hingga lebih dari US$300 ribu hanya untuk membeli dan memperbaiki peralatan dapur pada tahun lalu. Ironisnya, seluruh negara bagian Connecticut hanya menerima kucuran dana awal US$209 ribu dari hibah tersebut. 

Beban operasional juga semakin mencekik pihak sekolah. Tahun lalu, Distrik Meriden menghabiskan sekitar US$5,07 untuk memproduksi satu porsi makan siang (mencakup biaya bahan baku, tenaga kerja, hingga utilitas). Namun, pemerintah federal hanya memberikan biaya pengganti sebesar US$4,80 per porsi. Susan Maffe, Direktur Layanan Makanan dan Nutrisi Meriden, memperkirakan kondisi defisit ini bisa menyentuh angka US$250 ribu yang harus ditutupi sekolah secara mandiri. 

Krisis Tenaga Kerja dan Urusan Selera Siswa

Lebih jauh, data survei dari School Nutrition Association mengungkap realita pahit bahwa saat ini hanya sekitar 16 persen distrik sekolah di AS yang mampu menyajikan makanan buatan sendiri setiap harinya. Lebih dari 93 persen distrik sekolah mengaku sangat membutuhkan tambahan staf, infrastruktur, dan pelatihan memasak yang mumpuni untuk bisa menyajikan makanan segar. 

Persoalan kian rumit karena sekolah kesulitan mencari pekerja kantin penuh waktu. Banyak tenaga kerja lebih memilih bekerja di sektor ritel atau pergudangan karena tawaran upah yang lebih tinggi, memicu tingginya angka pergantian staf di kantin-kantin sekolah. 

Meski dihantam berbagai polemik, beberapa daerah mulai menunjukkan secercah keberhasilan. Littleton Public Schools di Colorado, contohnya, sukses membuka dapur produksi pusat senilai US$4 juta tahun lalu. Dana ini patungan dari anggaran distrik, sisa dana Covid-19, serta sumbangan yayasan lokal. Hasilnya, porsi menu makanan berbahan segar bagi para siswa di 21 sekolah distrik tersebut meningkat hingga dua kali lipat. 

Kendati demikian, masih ada satu tantangan terakhir: lidah siswa. Direktur Layanan Gizi Littleton, Jessica Gould, mengakui bahwa mengubah kebiasaan makan anak-anak yang sudah akrab dengan makanan instan adalah pekerjaan rumah (PR) tersendiri. 

"Beberapa anak terbiasa dengan makaroni dan keju Kraft," sebut Gould. "Kami mencoba membuat lompatan besar di sini. Membuat selera mereka mengikuti perubahan ini akan menjadi tantangan kami selanjutnya."


Share berita ini

dialeksis.com