Panglima IRGC Ancam Balas Dendam ke AS dan Israel

DIALEKSIS.COM | Teheran - Panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, menegaskan Iran akan menuntut balas atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel empat bulan lalu.

Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Sepah, Vahidi menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah Republik Islam Iran. Ia menegaskan bahwa tuntutan untuk menegakkan keadilan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab akan terus menjadi sikap resmi Iran.

"Penegakan keadilan sepenuhnya dan tanggapan yang setimpal terhadap para penjahat, terutama tentara Amerika yang membunuh anak-anak," ujar Vahidi.

Ia juga memperingatkan bahwa pembunuhan terhadap Khamenei tidak akan melemahkan semangat perlawanan Iran maupun kelompok-kelompok yang tergabung dalam Front Perlawanan.

"Para pemimpin kriminal Amerika dan semua musuh Revolusi Islam harus mengetahui bahwa pembunuhan pengecut terhadap pemimpin kami tidak akan pernah mampu menurunkan bendera perlawanan," katanya.

Menurut Vahidi, pembalasan terhadap para pelaku dan penghormatan terhadap para martir akan tetap menjadi tuntutan yang sah dan tidak akan dilupakan.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di kampung halamannya, Mashhad, pada Kamis. Khamenei bersama empat anggota keluarganya dilaporkan meninggal dunia akibat serangan udara gabungan AS-Israel yang terjadi sekitar empat bulan sebelumnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, perhatian dunia juga tertuju pada Selat Hormuz yang dinilai berpotensi menjadi episentrum baru persaingan strategis kedua negara.

Direktur Pendiri Institute of Arab Perspectives, Zeidon Alkinani, menilai jalur pelayaran tersebut kini menjadi "kartu utama" dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurutnya, Iran berupaya memperkuat kedaulatannya di kawasan Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat berusaha mempertahankan pengaruh militernya di jalur laut yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

"Selat Hormuz dan seluruh aspek teknis di sekitarnya akan menjadi jauh lebih rumit. Iran ingin meningkatkan kedaulatannya di kawasan itu, sementara AS ingin memastikan pengaruhnya tetap dominan," kata Alkinani.

Ia menilai fokus kedua negara kini lebih mengarah pada persaingan militer dibandingkan kepentingan ekonomi. Padahal, sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Alkinani menambahkan, strategi Washington bertujuan memastikan setiap upaya Iran menantang kehadiran militer AS di Selat Hormuz akan langsung direspons sebagai ancaman keamanan terhadap Iran sendiri.

"Strategi ini menunjukkan bahwa setiap perselisihan di Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan jalur pelayaran, tetapi juga memiliki implikasi langsung terhadap keamanan nasional Iran," ujarnya.

Meningkatnya retorika dari kedua belah pihak memperlihatkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ancaman balasan dari Iran dan persaingan pengaruh di Selat Hormuz diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama komunitas internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional sekaligus pasar energi global.

Share berita ini

dialeksis.com