DIALEKSIS.COM | Manila - Amerika Serikat (AS) dan Jepang sepakat membangun fasilitas produksi bersama rudal udara-ke-udara jarak menengah di Jepang. Kesepakatan ini menjadi langkah terbaru kedua negara dalam memperkuat kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Asia.
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengumumkan kesepakatan tersebut pada Rabu (28/10/2026) malam saat berada di Provinsi Cebu, Filipina. Ia bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di sela-sela pertemuan tahunan para kepala pertahanan Asia Tenggara dan mitra internasional mereka.
Dikutip dari laporan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, proyek produksi rudal bersama itu diberi nama Operation Supercharge. Namun, Koizumi belum mengungkapkan nilai investasi, jadwal pembangunan fasilitas, maupun target produksi rudal tersebut.
Koizumi menjelaskan, rudal yang akan diproduksi memiliki peran penting bagi pesawat tempur F-35 buatan AS. Pesawat tersebut termasuk jet tempur canggih yang digunakan oleh militer Amerika Serikat dan Jepang.
Dalam pertemuannya dengan Hegseth, Koizumi menyampaikan kekhawatiran bersama mengenai memburuknya situasi keamanan regional. Kedua negara juga sepakat memperkuat kemampuan pencegahan dan respons aliansi Jepang-AS dengan lebih cepat dan intensif.
Ia menegaskan pentingnya menjaga tatanan internasional yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum. Koizumi menolak upaya mengubah status quo secara sepihak melalui kekuatan maupun paksaan, meski menekankan bahwa pembahasan tersebut tidak ditujukan kepada negara tertentu.
AS Tegaskan Komitmen Pertahanan di Asia
Dalam pertemuan terpisah dengan para menteri pertahanan ASEAN yang dipimpin Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr., Hegseth kembali menegaskan komitmen pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mencegah agresi di kawasan.
Hegseth menyebut pendekatan AS mengutamakan kekuatan dan ketegasan tanpa memicu eskalasi yang tidak perlu. Menurutnya, kemampuan pertahanan yang kuat diperlukan untuk mencegah paksaan dan agresi sekaligus memastikan sekutu memahami komitmen Washington.
AS juga menegaskan kewajibannya membela Filipina, sekutu perjanjian tertua Washington di Asia, apabila pasukan, kapal, atau pesawat negara tersebut mengalami serangan bersenjata.
Komitmen itu berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. China mengklaim sebagian besar wilayah perairan strategis tersebut, sementara Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan memiliki klaim yang tumpang tindih.
Konfrontasi antara kapal penjaga pantai dan angkatan laut China dengan Filipina juga meningkat di wilayah sengketa.
Di sisi lain, China dan Jepang menghadapi perselisihan terpisah mengenai sejumlah pulau kecil di Laut China Timur yang dikuasai Jepang. Kedua negara kerap saling menuduh melanggar wilayah maritim masing-masing.
Kesepakatan produksi rudal tersebut memperlihatkan upaya AS dan Jepang memperkuat kemampuan militer serta koordinasi pertahanan di tengah dinamika keamanan Asia yang semakin kompleks. [AP/abc news]
Share berita ini