DIALEKSIS.COM | Beijing - Nepal dan Tiongkok kembali melanjutkan operasi penyelamatan korban banjir bandang yang menerjang wilayah perbatasan kedua negara setelah pencarian sempat dihentikan akibat meluapnya danau bendungan alami.
Tim penyelamat Tiongkok sebelumnya mundur ke lokasi aman karena khawatir danau yang terbentuk dari material longsor itu jebol dan memicu banjir susulan. Otoritas Nepal juga sempat menghentikan pencarian selama sekitar 90 menit.
Operasi kembali dilanjutkan setelah risiko danau bendungan alami di hulu dinilai dapat dikendalikan. Militer Nepal menyebut kenaikan permukaan air mencapai sekitar 0,6 meter.
Bencana bermula ketika sebuah gletser runtuh dan memicu aliran deras berisi es, air, batu, dan lumpur ke lembah Himalaya. Material tersebut menimbun desa serta menghancurkan jalan, jembatan, dan sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
Di Nepal, otoritas melaporkan sedikitnya 579 orang tewas dan 1.924 lainnya masih hilang. Sebanyak 4.451 orang telah diselamatkan dengan dukungan 16 helikopter yang melakukan 99 penerbangan.
Sementara itu, Tiongkok melaporkan sedikitnya lima orang tewas dan 558 orang masih hilang di wilayah Tibet.
Lebih dari 90.000 orang diperkirakan terdampak bencana. Sejumlah wilayah terdampak di Distrik Rasuwa, Nepal, masih terisolasi akibat rusaknya akses jalan dan hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter.
Tiongkok mengerahkan sekitar 500 personel militer dan paramiliter serta tim teknis untuk melakukan survei udara dan pemodelan tiga dimensi. Nepal juga mengerahkan sekitar 30.000 personel keamanan untuk mencari korban di wilayah terpencil.
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut ancaman banjir susulan diperkirakan tidak akan sebesar bencana sebelumnya. Namun, kondisi warga yang kehilangan tempat tinggal masih sangat mengkhawatirkan karena akses bantuan ke sejumlah wilayah terputus. [Aljazeera, AFP, Reuters]
Share berita ini