DIALEKSIS.COM | Moskow - Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Senin (6/7/2026) dini hari waktu setempat. Serangan yang terjadi menjelang KTT NATO di Ankara, Turki, itu menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai puluhan lainnya.
Kepala Administrasi Militer Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan sedikitnya 14 orang tewas di Kyiv dan 46 lainnya mengalami luka-luka. Enam korban jiwa lainnya dilaporkan berasal dari wilayah sekitar ibu kota. Lebih dari selusin bangunan tempat tinggal rusak akibat hantaman rudal dan drone Rusia.
Militer Ukraina menyebut Rusia menembakkan 68 rudal dan meluncurkan 351 drone dalam serangan semalam. Ledakan mulai terdengar sejak dini hari, memaksa ribuan warga mengungsi ke stasiun bawah tanah dan tempat perlindungan saat sirene serangan udara berbunyi di berbagai wilayah Ukraina.
"Operasi penyelamatan masih berlangsung dan jumlah korban kemungkinan bertambah," kata Tkachenko.
Serangan ini menjadi gelombang serangan besar kedua yang menghantam Kyiv dalam waktu kurang dari sepekan. Sebelumnya, Rusia juga meluncurkan puluhan rudal dan ratusan drone yang menewaskan 31 orang, menjadi serangan paling mematikan di ibu kota Ukraina sepanjang tahun ini.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya telah memperingatkan adanya potensi eskalasi serangan Rusia menjelang KTT NATO. Menurutnya, pola tersebut merupakan strategi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk meningkatkan tekanan politik sebelum agenda internasional penting berlangsung.
Dalam kesempatan terpisah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan peluang penyelesaian perang Rusia-Ukraina "lebih dekat daripada yang disadari banyak orang". Trump menyebut isu Ukraina akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam KTT NATO dan membuka peluang pertemuan dengan Zelenskyy.
Sementara itu, Kremlin mengonfirmasi Putin dan Trump telah berbicara melalui sambungan telepon pada akhir pekan lalu dan berencana kembali melakukan pembicaraan dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Ukraina juga meningkatkan tekanan terhadap Rusia. Militer Ukraina mengklaim berhasil menyerang kilang minyak Omsk di Siberia menggunakan drone jarak jauh. Fasilitas tersebut merupakan kilang minyak terbesar di Rusia dan berada sekitar 2.700 kilometer dari wilayah yang dikuasai Ukraina.
Otoritas Rusia mengakui adanya serangan drone di kawasan industri Omsk dan menyebut layanan darurat sedang menangani dampak yang ditimbulkan. Selain itu, serangan drone Ukraina juga dilaporkan mengganggu pasokan listrik di Sevastopol, Krimea, setelah infrastruktur energi di wilayah tersebut menjadi sasaran.
Eskalasi terbaru menunjukkan kedua pihak semakin mengandalkan serangan rudal dan drone jarak jauh untuk menghantam infrastruktur strategis lawan. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi regional sekaligus memperbesar ketidakpastian geopolitik yang terus menjadi perhatian pelaku pasar global. [AFP, Reuters/Aljazeera]
Share berita ini