DIALEKSIS.COM | Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sekaligus dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Amerika Serikat (AS).
Namun, tawaran tersebut hanya akan dilakukan jika pemerintahan Presiden Donald Trump memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.
"Jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, Selat Hormuz akan dibuka dalam waktu tujuh hari dan perundingan akan dimulai kembali," kata Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB (UNGA), seperti dikutip media pemerintah Iran.
Araghchi menyebut persyaratan Iran bukan hal baru. Menurut dia, tuntutan tersebut mengacu pada Nota Kesepahaman Islamabad yang sebelumnya disepakati dalam gencatan senjata AS-Iran pada Juni, tetapi kemudian gagal pada awal Juli.
Perkembangan ini terjadi ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz turun tajam. Berdasarkan data awal pelacakan kapal yang dikutip Reuters, hanya sembilan kapal melintasi jalur tersebut pada Jumat, jauh di bawah kondisi normal. Selat Hormuz merupakan jalur penting yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sementara itu, harga minyak dunia pada Jumat bergerak turun. Harga Brent turun sekitar 1 persen menjadi 105,56 dollar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 1,8 persen menjadi 92,94 dollar AS per barel.
Isu Iran juga menjadi bagian dari pembicaraan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Trump disebut meminta Beijing menekan Teheran agar mencapai penyelesaian. AS juga memperingatkan China agar tidak memberikan bantuan, termasuk intelijen, suku cadang, atau peralatan militer, kepada Iran.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah kelompok Houthi meluncurkan puluhan rudal dan drone ke sejumlah sasaran di Arab Saudi. Otoritas Saudi menyatakan enam rudal balistik berhasil dicegat. Peringatan darurat kemudian dikeluarkan di Mekkah, Jeddah, dan Yanbu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan keputusan untuk mengakhiri perang berada di tangan AS. Ia juga menegaskan Iran tidak sedang berperang dengan Arab Saudi dan menyebut Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. [cnbc]
Share berita ini