DIALEKSIS.COM | Yaman - Kelompok Houthi di Yaman pada Senin (20/7/2026) mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi yang berlaku segera. Langkah tersebut berpotensi memperburuk gangguan terhadap pasokan minyak global yang telah dipicu oleh meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pernyataan yang disiarkan media yang berafiliasi dengan Houthi, kelompok itu menuduh Arab Saudi melakukan "pengepungan agresif" terhadap wilayah yang mereka kuasai. Ketegangan meningkat setelah Houthi menuding Riyadh melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa pada pekan lalu.
Houthi juga kembali mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama perdagangan dunia.
Ancaman tersebut muncul ketika Arab Saudi selama ini mengalihkan ekspor jutaan barel minyak per hari melalui jaringan pipa menuju terminal di Laut Merah. Jalur itu menjadi alternatif penting di tengah gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akibat meningkatnya konflik.
Jika Selat Bab el-Mandeb benar-benar ditutup, arus pengiriman minyak mentah menuju pasar internasional diperkirakan akan semakin terganggu, memperburuk dampak serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.
Meski demikian, pasar minyak tidak menunjukkan reaksi signifikan terhadap pengumuman Houthi. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 4 persen hingga menembus 90 dolar AS per barel setelah sedikitnya tiga personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam pertempuran terbaru dengan Iran.
Namun, harga kemudian melemah setelah Teheran menyatakan masih membuka peluang perundingan dengan Washington.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat setelah kesepakatan sementara yang diumumkan pada 17 Juni untuk membuka kembali Selat Hormuz gagal dipertahankan. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dituduh berulang kali menyerang kapal tanker minyak di kawasan tersebut, yang menyebabkan sedikitnya dua pelaut tewas dan lebih dari belasan lainnya terluka.
Amerika Serikat merespons dengan melanjutkan serangan terhadap target-target Iran selama sembilan hari berturut-turut serta kembali memberlakukan blokade angkatan laut. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke sejumlah sasaran yang disebut sebagai sekutu Washington di kawasan Teluk.
Meningkatnya konflik membuat lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus menurun. Meski demikian, pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan jalur pelayaran itu masih terbuka dan jutaan barel minyak tetap dikirim setiap hari dengan pengawalan militer Amerika Serikat. [cnbc]
Share berita ini