DIALEKSIS.COM | Dunia - Luas wilayahnya hanya sekitar 23.200 kilometer persegi, tetapi Djibouti memiliki posisi penting dalam peta keamanan internasional. Negara kecil di Tanduk Afrika ini menjadi tempat berdirinya fasilitas militer sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat dan China.
Daya tarik Djibouti terletak pada posisi geografisnya. Negara tersebut berada dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu pelayaran menuju Terusan Suez. Posisi ini menjadikan Djibouti penting bagi perdagangan, distribusi energi, serta operasi keamanan maritim.
Amerika Serikat, China, Jepang, Prancis, dan Italia termasuk negara yang memiliki pangkalan militer di Djibouti. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana sebuah negara kecil dapat memiliki arti strategis bagi berbagai kekuatan dunia.
Meski demikian, penyebutan Djibouti sebagai negara dengan “delapan pangkalan militer asing” perlu dicermati. Jumlah negara yang mengirimkan personel tidak serta-merta sama dengan jumlah negara yang mempunyai pangkalan tersendiri. Rencana pembangunan fasilitas juga perlu dibedakan dari pangkalan yang sudah beroperasi.
Amerika Serikat mengoperasikan Camp Lemonnier untuk mendukung kegiatan militernya di kawasan Tanduk Afrika. Fasilitas ini menyediakan dukungan bagi kapal, pesawat, detasemen, dan personel dalam menjalankan kebutuhan operasi serta keamanan regional.
Jepang menggunakan fasilitas Pasukan Bela Diri di Djibouti untuk mendukung operasi pemberantasan perompakan. Kementerian Pertahanan Jepang menyebut fasilitas tersebut juga penting bagi penyelamatan dan pengangkutan warga Jepang maupun warga lainnya dari luar negeri.
Sementara itu, keberadaan militer Prancis ditopang hubungan pertahanan jangka panjang dengan Djibouti. Kedua negara memperbarui perjanjian kerja sama pertahanan pada 24 Juli 2024 untuk masa berlaku 20 tahun.
Spanyol juga menempatkan personel melalui Detasemen Udara Taktis Orion. Namun, keberadaan detasemen tersebut tidak otomatis dapat dihitung sebagai sebuah pangkalan nasional tersendiri. Laporan militer Spanyol pada Januari 2025 mencatat keterlibatan personelnya dalam koordinasi kegiatan sipil-militer bersama unsur Amerika Serikat, Italia, dan Jepang di Djibouti.
Bagi Djibouti, kehadiran militer asing juga memberikan manfaat ekonomi. Penyewaan fasilitas militer menghasilkan pemasukan bagi negara, sekaligus memperluas hubungan dengan mitra internasional.
Reuters pada Maret 2025 melaporkan bahwa dana kekayaan negara Djibouti menerima sekitar 25 juta dolar AS setiap tahun dari bagian pendapatan sewa pangkalan militer asing. Angka itu mewakili 20 persen dari pendapatan tahunan pemerintah dari penyewaan pangkalan tersebut.
Nilai strategis kawasan ini turut terlihat dari arus energi yang melintasi Bab el-Mandeb. Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA yang diterbitkan pada 2024 mencatat aliran minyak melalui selat tersebut rata-rata sekitar empat juta barel per hari sepanjang Januari–Agustus 2024. Angka itu turun dibandingkan rata-rata 8,7 juta barel per hari sepanjang 2023, seiring gangguan keamanan pelayaran di Laut Merah.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa posisi strategis Djibouti berkaitan erat dengan dinamika keamanan di sekitarnya. Gangguan pada jalur pelayaran dapat memengaruhi pergerakan kapal dan distribusi energi lintas kawasan.
Pilihan membuka wilayah bagi berbagai kekuatan militer dapat dipahami sebagai strategi Djibouti untuk mengubah keunggulan geografis menjadi pendapatan dan hubungan pertahanan. Namun, strategi ini sekaligus menuntut kemampuan menjaga keseimbangan hubungan dengan negara-negara yang memiliki kepentingan berbeda.
Di Djibouti, ukuran wilayah bukan satu-satunya penentu pengaruh. Letaknya di dekat salah satu pintu pelayaran penting dunia membuat negara kecil itu mendapat tempat dalam perhitungan kekuatan besar.[]
Share berita ini