Binance Dibobol Rp100 Triliun, FBI Tuding Kelompok Hacker Korea Utara

DIALEKSIS.COM | New York - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menduga kelompok peretas asal Korea Utara berada di balik pencurian aset kripto senilai 6,3 miliar dolar AS dari Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.

Dalam pernyataan pada Sabtu (31/10/2026), FBI mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas TraderTraitor. Kelompok ini juga diduga bertanggung jawab atas peretasan bursa kripto Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS pada tahun lalu.

FBI meminta bursa kripto, perusahaan analisis blockchain, dan pihak terkait memblokir transaksi yang terhubung dengan sejumlah alamat digital yang diduga digunakan untuk memindahkan aset hasil pencurian.

Hasil penyelidikan menunjukkan, para peretas telah mengonversi sebagian besar aset curian ke Ethereum. FBI memperkirakan pelaku akan memanfaatkan layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan layanan penukaran instan untuk menyamarkan aliran dana.

Kepala Kebijakan TRM Labs, Ari Redbord, memperkirakan pelaku akan memecah aset curian dan memindahkannya melalui bursa-bursa kecil untuk menghindari deteksi. Proses pencucian tersebut diperkirakan bisa berlangsung berbulan-bulan.

"Ini seperti perampokan bank, tetapi terjadi dengan kecepatan internet," ujar Redbord.

Meski demikian, menurut dia, teknologi blockchain memungkinkan pergerakan dana dilacak secara real-time sehingga penyidik dapat melakukan intervensi dan berupaya menyita kembali aset yang dicuri.

Sementara itu, Binance menyatakan memiliki cadangan dalam aset kripto yang sama dengan aset yang hilang. Cadangan tersebut diklaim mencakup 90 persen dari total kerugian.

Binance juga berjanji mengganti seluruh aset nasabah yang terdampak pencurian tersebut. [Ap/abc news]

Share berita ini

dialeksis.com