DIALEKSIS.COM | Kathmandu - Tim penyelamat Nepal terus bekerja untuk menjangkau ratusan pekerja yang diduga masih terjebak di dalam fasilitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA), lebih dari sepekan setelah banjir bandang menerjang wilayah Himalaya.
Banjir yang membawa batu, lumpur, dan air itu sebelumnya menghancurkan sejumlah desa, jalan, dan jembatan di Nepal dan Tibet. Para ilmuwan menduga bencana tersebut dipicu runtuhan gletser di dekat puncak Langtang Lirung.
Otoritas Nepal pada Kamis (3/9/2026) menyebut sedikitnya 1.280 orang tewas dan lebih dari 5.600 lainnya masih hilang di kedua sisi perbatasan Nepal-Tiongkok. Di Nepal, 1.252 jenazah telah ditemukan.
Ratusan pekerja diperkirakan masih terjebak di terowongan dan area PLTA di distrik Rasuwa, dekat perbatasan Tiongkok.
"Kami masih berharap ada korban selamat di dalam sana," kata petugas departemen teknik Angkatan Darat Nepal, Sanjay KC.
Menurutnya, terdapat ruangan luas di dalam fasilitas pembangkit yang diyakini tidak seluruhnya terendam banjir. Sementara itu, keluarga korban hilang terus mendatangi lokasi pencarian dengan harapan mendapat kabar.
"Setiap hari saya datang ke sini dengan harapan bisa menemukan ayah saya," kata Pratik Rana, yang ayahnya seorang insinyur dan masih hilang.
Di wilayah lain, tim penyelamat mengerahkan helikopter dan tali luncur untuk mengevakuasi warga dari desa-desa terpencil. UNDP memperkirakan banjir dan longsoran lumpur meninggalkan sedikitnya 2,2 juta ton puing.
Pemerintah Nepal juga mulai menyiapkan tahap rehabilitasi dan pembangunan kembali. Sekitar 20.000 rumah dilaporkan harus dibangun kembali, termasuk 7.500 rumah yang hancur total.
Perdana Menteri Balendra Shah menegaskan pencarian korban selamat akan terus dilakukan bersamaan dengan upaya pemulihan wilayah terdampak. [Aljazeera]
Share berita ini