DIALEKSIS.COM | Seoul - Militer Korea Selatan menyebut ranjau darat yang diduga dipasang Korea Utara kemungkinan besar menjadi penyebab dua ledakan yang melukai tiga tentara di kawasan perbatasan kedua negara.
Ledakan terjadi pada 21 September 2026 di dekat Garis Demarkasi Militer (MDL), wilayah barat Zona Demiliterisasi (DMZ). Lokasi tersebut berada sekitar 10 meter di sebelah selatan garis demarkasi.
Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan menyampaikan temuan awal setelah melakukan pemeriksaan lokasi bersama Komando PBB yang dipimpin Amerika Serikat.
Wakil Ketua JCS Korea Selatan Kwon Dae-won mengatakan terdapat "kemungkinan sangat besar" ledakan berasal dari ranjau milik Korea Utara.
Menurut Kwon, tidak terdapat catatan bahwa militer Korea Selatan maupun pasukan sekutunya pernah memasang ranjau di lokasi tersebut.
Dugaan itu diperkuat oleh temuan bekas ledakan, serpihan, serta benda yang diduga merupakan ranjau Korea Utara di sekitar lokasi kejadian.
Analisis forensik juga menemukan TNT dan zat berwarna cokelat yang belum teridentifikasi pada perlengkapan para tentara.
Ledakan pertama terjadi ketika seorang tentara melangkah maju saat tim yang beranggotakan 18 orang bersiap mundur dari lokasi.
Ledakan kedua terjadi tidak lama kemudian ketika komandan dan seorang perwira intelijen mendekati tentara yang terluka.
Beberapa personel kemudian dilaporkan melihat benda yang diduga sebagai ranjau ketiga saat mereka bergerak menuju lokasi yang lebih aman. Ketiga tentara yang terluka selanjutnya dievakuasi melalui jalur udara untuk mendapatkan perawatan.
Kwon mengatakan jika penyelidikan akhir memastikan ranjau tersebut berasal dari Korea Utara, Seoul akan meminta pertanggungjawaban Pyongyang dan mengambil tindakan yang dinilai sesuai.
Namun, ia tidak menjelaskan bentuk tindakan yang akan dilakukan.
Insiden ini terjadi di tengah hubungan Korea Selatan dan Korea Utara yang kembali tegang dalam beberapa tahun terakhir.
Korea Utara sejak awal 2024 semakin memperkeras sikap terhadap Korea Selatan dan menyebut negara tetangganya sebagai musuh. Pyongyang juga meninggalkan konsep penyatuan Korea dan mendorong hubungan kedua negara sebagai dua negara yang bermusuhan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara dilaporkan memperkuat pertahanan di sekitar DMZ, termasuk dengan memasang ranjau, penghalang antitank, serta berbagai benteng pertahanan.
DMZ membentang sekitar 248 kilometer dengan lebar sekitar 4 kilometer dan menjadi salah satu kawasan perbatasan paling termiliterisasi di dunia.
Kawasan tersebut merupakan warisan Perang Korea 1950-1953 yang berakhir melalui gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Insiden terbaru juga mengingatkan pada kejadian 2015 ketika dua tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan ranjau di DMZ. Saat itu, ketegangan antara Seoul dan Pyongyang meningkat tajam sebelum akhirnya diredakan melalui perundingan.
Di tengah ketegangan tersebut, pemerintah Korea Selatan saat ini berupaya menghidupkan kembali diplomasi dengan Korea Utara dan Amerika Serikat.
Sementara itu, Korea Utara masih menolak pendekatan Washington dan meminta AS terlebih dahulu meninggalkan apa yang disebut Pyongyang sebagai "kebijakan bermusuhan", termasuk sanksi serta latihan militer gabungan AS-Korea Selatan. [AP/abc news]
Share berita ini