DIALEKSIS.COM | Hamburg - Gelombang panas ekstrem (heatwave) terus menerjang sejumlah negara di Eropa sejak awal Juni 2026. Inggris, Prancis, hingga Jerman menjadi wilayah yang terdampak, dengan suhu tinggi yang memicu kerusakan infrastruktur hingga menelan korban jiwa.
Di Prancis, Kementerian Kesehatan setempat melaporkan lebih dari 2.000 kematian yang berkaitan dengan gelombang panas hanya dalam kurun sepekan. Sementara di Jerman, suhu ekstrem menyebabkan berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan, mulai dari bantalan rel kereta hingga lampu lalu lintas yang dilaporkan meleleh akibat panas.
Salah seorang warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Hamburg, Jerman, Jismi Akmam Bukhara, menceritakan bagaimana gelombang panas tersebut mengubah aktivitas sehari-hari.
"Panasnya terasa menusuk. Rasanya megap-megap kalau berada di luar ruangan, udaranya terasa berat," ujar Jismi sepertu dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (3/7/2026).
Meski begitu, ia menilai dampak gelombang panas di Jerman belum separah yang terjadi di Prancis.
Menurut Jismi, pada siang hari sebagian besar warga memilih bertahan di dalam rumah untuk menghindari terik matahari. Namun, kondisi di dalam ruangan pun tidak jauh lebih nyaman.
"Di satu sisi apartemen perlu sirkulasi udara, tapi udara yang masuk justru membuat rumah seperti microwave. Kalau jendela tidak dibuka, udara di dalam akan sangat pengap," katanya.
Ia menjelaskan, mayoritas bangunan di Eropa memang dirancang untuk mempertahankan suhu hangat saat musim dingin. Akibatnya, ketika gelombang panas datang, bangunan justru menyimpan panas lebih lama sehingga suhu di dalam ruangan ikut meningkat.
"Di Eropa kebanyakan wilayah beriklim sedang dan dingin. Tapi ketika mendapat panas yang tidak biasa seperti ini, infrastruktur menjadi kewalahan. Dan ini belum tentu yang terparah," ujarnya.
Fenomena tersebut juga memicu meningkatnya permintaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC). Barang yang sebelumnya tidak menjadi kebutuhan utama masyarakat Eropa kini mulai diburu.
"Paling tidak orang membeli AC portable karena pemasangan AC permanen sangat rumit," kata Jismi.
Ia menjelaskan, sebagian besar warga Jerman tinggal di rumah atau apartemen sewa sehingga pemasangan AC permanen memerlukan izin dari pemilik bangunan. Selain itu, konstruksi bangunan di sana memang tidak dirancang untuk instalasi AC seperti yang umum digunakan di negara-negara tropis.
Meski suhu terus meningkat, Jismi mengatakan hingga kini pemerintah Jerman belum menerapkan kebijakan darurat khusus. Hal itu karena dampak gelombang panas di negara tersebut masih dinilai tidak separah kondisi yang terjadi di Prancis.
Share berita ini