DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Provinsi Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi kakao (coklat) di Indonesia bagian barat. Bahkan kakao Aceh dikenal memiliki kualitas baik karena cita rasanya yang khas. Namun, sejauh ini produktivitas kakao di Aceh dinilai masih sangat rendah.
Padahal selama ini tanaman kakao di Aceh dapat memberikan dampak positif bagi para petani dan para pengusaha yang berkecimpung di sektor usaha kakao. Keberadaan komoditi itu juga dapat menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan masyarakat.
Pemerintah Aceh terus berupaya menjadikan tanaman kakao sebagai salah satu produk perkebunan unggulan di Aceh dan menjadikan Aceh sebagai penghasil kakao terbesar dengan kualitas terbaik di Sumatera, bahkan Indonesia.
Sebagai inspirasi untuk petani dan bentuk upaya Pemerintah Aceh dalam meningkatkan hasil produksi kakao, maka tahun 2022, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh telah melakukan Gerakan Massal (Germas) Pemangkasan Kebun Kakao bagi petani yang berada di Aceh.
Ada dua kabupaten yang menjadi fokus utama Distanbun Aceh dalam melakukan kegiatan Germas Pemangkasan Kakao, yaitu Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya.
Bagi tanaman kakao, pemangkasan berarti usaha meningkatkan produksi dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Pemangkasan tanaman kakao merupakan kegiatan pemotongan atau pembuangan bagian berupa cabang, ranting dan daun yang tidak diinginkan atau diperlukan lagi bagi pertumbuhan tanaman dan terbentuknya buah.
Fakta lapangan membuktikan bahwa sebagian besar tanaman kakao usia produktif kurang mendapatkan perhatian ataupun perawatan dari petani, dibiarkan tumbuh rimbun, cabang tumbuh banyak tidak beraturan tanpa memperhatikan kondisi biologis tanaman dan lingkungan yang diharapkan oleh tanaman. Sehingga hal ini akan berdampak pada rendahnya kemampuan tanaman kakao untuk menghasilkan buah.
Adanya pemangkasan diharapkan produksi tanaman kakao bisa lebih meningkat, karena cabang-cabang yang tidak produktif berkurang, sehingga mengurangi kelembaban dan menambah intensitas sinar matahari bagi daun.
Germas Pemangkasan Kakao dilakukan di Gampong Alue Dua, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, Selasa (8 Maret 2022). Selanjutnya dilakukan di Gampong Masjid Peuduek, Kecamatan Trieng Gadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (24 Mei 2022).
Untuk mengetahui sejauh mana program Germas ini sudah berjalan, simak wawancara khusus secara eksklusif bersama Kabid Perbenihan, Produksi dan Perlindungan Perkebunan Distanbun Aceh, Fakhrurrazi, S.P., M.Sc di ruang kerjanya pada Senin (24/10/2022).
Apa yang Melatarbelakangi Ide Terbentuknya Program Germas Pemangkasan Kakao?
Distanbun Aceh telah meluncurkan Gerakan Massal (Germas) pemangkasan kebun kakao di beberapa daerah di Aceh. Seperti di Pidie Jaya, Bireuen, Pidie dan beberapa daerah penghasil kakao lainnya.
Kegiatan pemangkasan tanaman kakao ini dilakukan di area perkebunan rakyat adalah untuk membina petani dalam meningkatkan produksi biji kakao agar produksi kakaonya bisa terus diekspor melalui Aceh.
Produktivitas kakao di Aceh tergolong minim. Hal ini disebabkan masih banyak petani kakao yang mengelola perkebunan secara tradisional. Pengetahuan petani saat ini masih minim tentang pengelolaan tanaman kakao yang tepat dan terpadu.
Apa Tujuan Utama dari Program Germas Pemangkasan Kakao?
Tujuan pemangkasan tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga mampu mengkondisikan kebun lebih steril, karena cahaya matahari yang masuk tercukupi. Pasalnya, kakao sangat rentan dengan kelembaban yang tinggi sehingga munculnya jamur dan juga hama penyakit lainnya. Dengan masuknya sinar matahari yang cukup, maka kebun yang bersih dan tanaman yang terpangkas sesuai dengan standar teknis akan memberikan produksi yang maksimal.
Dimana Saja Persebaran Area Tanaman Kakao di Aceh?
Areal tanaman kakao di Aceh yang dominan tersebar di sejumlah daerah. Di antaranya, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan beberapa daerah lainnya.
Mengapa Germas Pemangkasan Kakao Tahun 2022 Dilakukan di Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya?
Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya merupakan kabupaten penghasil kakao terbanyak di Aceh. Bireuen dan Pidie Jaya merupakan kabupaten memiliki potensi kakao atau cokelat dan salah satu komoditi unggulan serta andalan di daerah itu.
Pemerintah Aceh kini terus berupaya menjadikan tanaman kakao sebagai salah satu produk pertanian unggulan di Aceh. Pihaknya ingin menjadikan Aceh sebagai penghasil kakao terbesar dengan kualitas terbaik di Sumatera. Untuk itulah peran dari berbagai stakeholder sangat diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut.
Apa Target Jangka Pendek dan Panjang yang Ingin Dicapai dari Program Germas?
Dalam jangka pendek, kegiatan ini sebagai pemberi semangat bagi petani, khususnya petani kakao untuk lebih aktif dan mau melakukan pemangkasan dan pemeliharaan tanaman guna peningkatan produktivitas kakao.
Kegiatan pemangkasan dan pemeliharaan kakao diharapkan mampu untuk meningkatkan kesejahteraan bagi petani Kakao terutama dalam melakukan pemangkasan secara berkala sehingga mendapatkan hasil yang nyata dalam waktu jangka panjang.
Apakah Sudah Ada Industri Pengolahan Kakao di Aceh dan Bagaimana Volume Ekspornya?
Di Pidie Jaya, sudah ada industri pengolahan minuman dan makanan dari buah kakao (coklat) menjadi bubuk coklat dan barang siap saji, yaitu produsen Socolatte Kakao Pidie Jaya.
Tahun 2022, produsen Socolatte Pidie Jaya juga sudah pernah mengekspor Coklat Bar ke Jepang sebanyak lebih kurang 6.000 Pcs dan akan berusaha ekspor ke berbagai negara lainnya, melalui pengiriman via udara, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.
Volume ekspornya memang masih kecil, tapi jika kegiatan ekspor ini terus berlanjut akan memberikan dampak positif bagi harga jual biji kakao petani di Aceh.
Di Kota Sabang juga sudah ada produsen dengan merk dagang Cokinol Foods (Coklat Kilometer Nol) dengan motto dari Sabang untuk Aceh, Indonesia dan dunia. Bahan baku coklat masih asli dari petani kakao Kota Sabang. Coklat produksi Cokinol masih mencukupi kebutuhan untuk wilayah Kota Sabang dan Banda Aceh. Saat ini belum mengekspor hasil produksinya ke luar negeri.(Adv)
Share berita ini