DIALEKSIS.COM | Dialog - Rencana kelanjutan pembangunan Trans Studio Mall di kawasan Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, hingga kini masih menghadapi ketidakpastian. Proyek yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Sumatera itu belum menunjukkan perkembangan berarti.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengungkapkan salah satu persoalan utama yang menghambat kelanjutan proyek tersebut adalah rencana kehadiran bioskop atau sinema sebagai salah satu tenant utama. Keberadaan bioskop dinilai penting dalam konsep bisnis yang diajukan investor, tetapi di sisi lain harus disesuaikan dengan penerapan Syariat Islam di Aceh.
Pemerintah Kota Banda Aceh kini berupaya mencari jalan tengah agar investasi tersebut tetap dapat dilanjutkan tanpa mengabaikan ketentuan agama, kearifan lokal, serta aspirasi masyarakat.
Berikut petikan wawancara Dialeksis dengan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.
Dialeksis: Bagaimana perkembangan rencana kelanjutan pembangunan Trans Studio Mall Banda Aceh?
Illiza: Mereka membangun Trans Studio dan di dalam perencanaannya ada sinema. Nah, sinema ini yang menjadi persoalan. Sampai sekarang masih perlu dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya.
Dialeksis: Mengapa keberadaan bioskop menjadi persoalan penting dalam kelanjutan proyek tersebut?
Illiza: Bioskop bukan hanya sebagai pelengkap. Dari pihak investor, keberadaan sinema menjadi salah satu syarat agar tenant-tenant lain bersedia masuk dan mengisi mal tersebut. Jadi, ini berkaitan dengan keseluruhan konsep bisnis yang ditawarkan investor.
Dialeksis: Apakah tanpa bioskop proyek tersebut akan sulit dilanjutkan?
Illiza: Itu yang perlu kami pastikan kembali kepada investor. Karena menurut mereka, sinema menjadi salah satu daya tarik bagi tenant lain. Apabila sinema tidak dapat dibangun, tentu harus dibicarakan kembali apakah konsep investasi tersebut masih dapat berjalan atau perlu disesuaikan.
Dialeksis: Apakah Pemerintah Kota Banda Aceh menolak pembangunan bioskop?
Illiza: Bukan persoalan menerima atau menolak secara sepihak. Banda Aceh merupakan bagian dari Aceh yang menerapkan Syariat Islam. Karena itu, rencana pembangunan bioskop harus dikaji dan dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga terkait.
Dialeksis: Langkah apa yang telah dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mencari solusi?
Illiza: Kami sudah meminta kejelasan dari Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh. Kami juga membutuhkan pandangan dan rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh terkait rencana tersebut. Semua harus dibicarakan agar keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan ketentuan Syariat Islam.
Dialeksis: Apakah komunikasi dengan lembaga terkait masih terus berlangsung?
Illiza: Masih. Persoalan ini membutuhkan pembahasan bersama karena menyangkut investasi, kepentingan masyarakat, dan pelaksanaan Syariat Islam. Kami ingin keputusan yang diambil nantinya memiliki dasar yang jelas dan dapat diterima semua pihak.
Dialeksis: Apakah investor telah menawarkan konsep bioskop yang disesuaikan dengan penerapan Syariat Islam?
Illiza: Ada beberapa langkah antisipasi yang ditawarkan. Misalnya ruangan dibuat lebih terang, dipasang kamera pengawas atau CCTV, serta adanya pengaturan atau pemisahan ruang bagi laki-laki dan perempuan. Namun, usulan-usulan tersebut masih perlu dipertimbangkan dan dikoordinasikan lebih lanjut.
Dialeksis: Apakah langkah-langkah tersebut dinilai cukup untuk menjawab kekhawatiran masyarakat?
Illiza: Tentu belum bisa diputuskan oleh Pemerintah Kota saja. Semua masukan harus didengar, termasuk dari ulama dan instansi yang memiliki kewenangan dalam pelaksanaan Syariat Islam. Kita ingin investasi berjalan, tetapi nilai-nilai yang berlaku di Aceh juga tetap dihormati.
Dialeksis: Bagaimana apabila nantinya tidak ditemukan solusi terkait keberadaan bioskop?
Illiza: Kalau memang tidak ada solusi, saya harus kembali menghadap investor. Saya perlu menanyakan apakah mereka tetap berkenan melanjutkan pembangunan Trans Studio Mall tanpa kehadiran sinema atau tidak.
Dialeksis: Seberapa penting kelanjutan proyek ini bagi Banda Aceh?
Illiza: Tentu setiap investasi yang masuk diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, membuka peluang usaha, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, pelaksanaannya tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku dan memperhatikan karakteristik Banda Aceh sebagai kota yang menjalankan Syariat Islam.
Dialeksis: Apakah Pemerintah Kota Banda Aceh tetap berkomitmen melanjutkan proyek tersebut?
Illiza: Ini memang merupakan peninggalan pemerintahan sebelumnya, tetapi kami sedang berkhidmat untuk Banda Aceh. Semua peninggalan pembangunan akan kami rawat, kami perbaiki, dan sedapat mungkin kami lanjutkan. Mohon doa dari masyarakat agar ada jalan keluar terbaik.
Dialeksis: Apa yang diharapkan dari penyelesaian persoalan ini?
Illiza: Kita berharap investasi tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta perekonomian Banda Aceh. Namun, pelaksanaannya tentu harus menghormati nilai-nilai dan ketentuan Syariat Islam yang berlaku di Aceh.
Pemerintah Kota Banda Aceh berharap pembahasan mengenai rencana bioskop tersebut segera menemukan titik temu. Kepastian itu dinilai penting agar investor dapat menentukan langkah lanjutan sekaligus memberikan kejelasan kepada masyarakat mengenai masa depan pembangunan Trans Studio Mall Banda Aceh.
Share berita ini