DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebuah video berdurasi sekitar 30 detik yang dlihat Dialeksis.com memperlihatkan bagaimana Portugal, negara kecil di ujung barat Semenanjung Iberia, pernah menjadi salah satu kekuatan maritim paling berpengaruh di dunia.
Dalam video tersebut, wilayah Portugal ditampilkan dari peta Eropa. Visual kemudian bergerak mengikuti jalur pelayaran mengitari Afrika hingga Samudra Hindia. Nama pelaut legendaris Vasco da Gama dan Ferdinand Magellan ikut muncul, disertai jalur-jalur pelayaran yang membentang ke berbagai penjuru dunia.
Gambaran itu bukan sekadar ilustrasi. Catatan sejarah menunjukkan Portugal memang memainkan peran penting dalam perubahan jalur perdagangan dunia sejak akhir abad ke-15.
Salah satu tonggaknya terjadi pada 1488. Pelaut Portugal Bartolomeu Dias berhasil berlayar mengitari ujung selatan Afrika, yang kemudian dikenal sebagai Tanjung Harapan atau Cape of Good Hope. Keberhasilan itu membuktikan adanya jalur laut yang memungkinkan kapal-kapal Eropa memasuki Samudra Hindia melalui selatan Afrika.
Jalur tersebut kemudian diteruskan Vasco da Gama. Ia berangkat dari Portugal pada 1497 dan tiba di Calicut, sekarang Kozhikode di India, pada 1498. Pelayaran itu menjadi tonggak terbentuknya jalur laut langsung antara Eropa dan India melalui Afrika. UNESCO memasukkan dokumen perjalanan pertama Vasco da Gama ke India dalam program Memory of the World karena pengaruh besarnya terhadap sejarah hubungan maritim dunia.
Keberhasilan itu memberi Portugal akses yang jauh lebih besar terhadap perdagangan komoditas bernilai tinggi dari Asia. Dalam beberapa dekade berikutnya, jaringan Portugis membentang dari Afrika Timur, India hingga Asia Tenggara.
Catatan The Metropolitan Museum of Art menunjukkan Portugis merebut pusat perdagangan Melaka pada 1511. Dari sana mereka bergerak semakin jauh ke timur. Pada 1522, Portugis telah membangun hubungan perdagangan di Maluku dan mendirikan benteng di Ternate, salah satu pusat utama perdagangan rempah ketika itu.
Melaka menjadi sangat penting. Kajian sejarawan Sanjay Subrahmanyam yang diterbitkan Journal of Southeast Asian Studies Cambridge University Press mencatat kota perdagangan tersebut berada di bawah Portugis sejak 1511 hingga 1641.
Artinya, jalur pelayaran yang dimulai ribuan kilometer dari Lisbon akhirnya membawa kekuatan Eropa itu ke kawasan yang sangat dekat dengan Aceh.
Bersinggungan dengan Aceh
Jatuhnya Melaka ke tangan Portugis pada 1511 bukan hanya mengubah keseimbangan perdagangan Asia Tenggara. Peristiwa tersebut juga menjadi bagian penting dari perkembangan kekuatan politik di sekitar Selat Malaka, termasuk Kesultanan Aceh.
Aceh kemudian muncul sebagai salah satu kekuatan utama yang berhadapan dengan Portugis dalam perebutan pengaruh politik dan perdagangan di Selat Malaka.
Sejumlah kajian sejarah Cambridge mencatat pertarungan Aceh dan Portugis berlangsung berulang kali. Salah satu episode penting adalah pengepungan Melaka oleh pasukan Aceh pada 1568. Dalam periode panjang tersebut, Aceh berusaha menekan kedudukan Portugis di Melaka, sementara Portugis juga tidak mudah menundukkan kekuatan Aceh di Sumatra.
Persaingan itu bukan semata persoalan militer. Jalur rempah menjadi bagian penting dari pertarungan tersebut. Sejarawan C.R. Boxer mencatat kebangkitan Aceh berkaitan pula dengan persaingan perdagangan rempah melalui Laut Merah dan pertarungan menghadapi Portugis di kawasan Selat Malaka.
Konflik tersebut bahkan mendorong Aceh membangun hubungan diplomatik dengan Kesultanan Ottoman. Dokumen dan kajian mengenai hubungan Aceh-Ottoman menunjukkan Sultan Aceh meminta bantuan untuk menghadapi tekanan Portugis terhadap jaringan perdagangan Muslim antara kawasan Samudra Hindia, Laut Merah dan Sumatra.
Karena itu, sejarah ekspansi Portugal bukan cerita yang jauh dari Aceh. Perebutan jalur laut yang dimulai dari Eropa pada akhirnya ikut mempengaruhi politik, perdagangan, diplomasi dan kekuatan militer Aceh pada abad ke-16.
Magellan, Orang Portugal yang Berlayar untuk Spanyol
Ada satu bagian sejarah yang kerap membuat orang keliru ketika membicarakan kejayaan maritim Portugal, yaitu Ferdinand Magellan atau Fernão de Magalhães.
Magellan memang lahir sebagai orang Portugis. Namun ekspedisi besar yang ia pimpin mulai 1519 bukan dilakukan atas nama Kerajaan Portugal, melainkan berada di bawah dukungan Kerajaan Spanyol.
Ekspedisi itu kemudian menjadi perjalanan pertama yang berhasil mengelilingi bumi secara penuh. Magellan sendiri tidak menyelesaikannya karena meninggal di Filipina pada 1521. Perjalanan tersebut kemudian dilanjutkan dan dituntaskan Juan Sebastián Elcano pada 1522.
UNESCO mencatat ekspedisi Magellan-Elcano 1519-1522 sebagai tonggak penting sejarah manusia karena untuk pertama kalinya sebuah pelayaran menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi bumi.
Karena itu, meskipun Magellan adalah pelaut kelahiran Portugal, perjalanan keliling dunianya tidak tepat disebut sebagai ekspedisi Kerajaan Portugal.
Dunia Pernah Dibagi Portugal dan Spanyol
Besarnya ambisi maritim Portugal dan Spanyol bahkan melahirkan Perjanjian Tordesillas pada 1494.
Perjanjian tersebut membagi wilayah klaim kedua kerajaan di luar Eropa berdasarkan garis demarkasi yang ditentukan saat itu. Library of Congress mencatat pembagian tersebut menjadi salah satu landasan bagi klaim Portugal atas Brazil setelah kedatangan armada Pedro Álvares Cabral pada 1500.
Namun ekspansi maritim Portugal tidak hanya meninggalkan cerita mengenai keberanian pelaut, teknologi kapal dan terbukanya hubungan antarbenua.
Di balik jaringan perdagangan itu terdapat kolonialisme, peperangan, monopoli perdagangan dan perbudakan.
Di Brazil, misalnya, Library of Congress mencatat perkembangan perkebunan tebu Portugis kemudian dibarengi dengan impor orang-orang Afrika yang diperbudak sebagai tenaga kerja. Dengan demikian, ekspansi maritim tersebut juga menjadi bagian dari sejarah panjang perdagangan budak Atlantik dan eksploitasi kolonial.
Portugal akhirnya kehilangan banyak dominasinya ketika kekuatan maritim lain, terutama Belanda dan Inggris, mulai menantang jaringan perdagangan Portugis pada abad ke-17. The Metropolitan Museum of Art mencatat jaringan dagang Portugal secara bertahap mengalami kemunduran ketika kekuatan-kekuatan Eropa baru merebut sejumlah pusat perdagangan strategisnya.
Video singkat tentang Portugal itu pada akhirnya membuka cerita sejarah yang jauh lebih besar.
Dari sebuah kerajaan kecil di pesisir Atlantik, kapal-kapal Portugal mengitari Afrika, mencapai India, merebut Melaka dan masuk ke pusat rempah Maluku. Pergerakan tersebut ikut mengubah peta perdagangan global dan pada akhirnya membawa Portugal berhadapan langsung dengan salah satu kekuatan terbesar Nusantara pada masanya: Kesultanan Aceh Darussalam
Share berita ini