Perang Survei Prabowo: Angka Kepuasan Terbelah, Gerindra Masih di Puncak

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Peta politik nasional memasuki fase yang lebih cair. Sejumlah survei yang terbit sejak awal hingga pertengahan 2026 menunjukkan satu kecenderungan yang sama: Presiden Prabowo Subianto masih memiliki basis dukungan besar, tetapi dominasinya tidak lagi setebal beberapa bulan sebelumnya.

Dua survei yang terbit berdekatan memberi potret berbeda tentang kekuatan Prabowo Subianto. SMRC mencatat kepuasan 51,1 persen dan Dedi Mulyadi unggul dalam simulasi calon presiden. IPO justru merekam kepuasan 63 persen dan menempatkan Prabowo di posisi pertama. Di tengah perang angka itu, Gerindra relatif konsisten memimpin elektabilitas partai.

Hasil tracking Dialeksis terhadap sejumlah survei nasional menemukan perbedaan cukup tajam pada pengukuran kepuasan terhadap Presiden dan elektabilitas calon presiden. Namun, ketika yang dilihat adalah elektabilitas partai, dua survei paling mutakhir justru memperlihatkan susunan papan atas yang hampir serupa: Gerindra tetap pertama, disusul PDI Perjuangan dan Golkar. 

Survei terbaru Indonesia Political Opinion atau IPO, yang dilakukan 27 Juli-3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden, mencatat 63 persen publik puas terhadap kinerja Prabowo. Angka itu terdiri atas 57 persen yang menyatakan puas dan 6 persen sangat puas. Sebaliknya, 35 persen menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas dan 2 persen tidak menjawab. Survei menggunakan multistage random sampling dengan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Angka IPO berbeda cukup jauh dengan temuan Saiful Mujani Research and Consulting atau SMRC beberapa pekan sebelumnya. Survei SMRC pada 5-19 Juli 2026 mencatat kepuasan terhadap Prabowo hanya 51,1 persen. Reuters, yang mengutip rilis survei tersebut, mencatat angka itu turun dari 81,2 persen pada November 2025 dan 66,4 persen pada akhir Februari-awal Maret 2026. SMRC melibatkan 749 pemilih dengan margin of error ±3,7 persen. 

Dialeksis sebelumnya juga mencatat tren tersebut. Dalam pemberitaan pada 1 Agustus 2026, survei SMRC menunjukkan 4,8 persen responden sangat puas dan 46,3 persen cukup puas. Sebanyak 46,9 persen menyatakan kurang atau tidak puas. 

Dua Survei, Dua Pemenang Capres

Perbedaan lebih kentara muncul ketika publik ditanya mengenai calon presiden.

SMRC, dalam simulasi semi-terbuka pada Juli, menempatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di posisi pertama dengan 35 persen. Prabowo berada jauh di belakang dengan 14,5 persen. Anies Baswedan memperoleh 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen. Dalam simulasi dua nama, Dedi bahkan memperoleh 59 persen berbanding 28,3 persen untuk Prabowo. 

Temuan tersebut sejalan dengan materi SMRC yang beredar melalui salah satu unggahan Instagram yang menjadi bahan penelusuran Dialeksis. Unggahan yang diberikan sebagai referensi mencantumkan posisi Anies 8,2 persen dan kandidat lain yang konsisten dengan rilis resmi SMRC. 

Namun IPO menghasilkan gambar berbeda. Dalam simulasi terbuka atau top of mind, Prabowo masih berada di posisi pertama dengan 23,4 persen. Dedi Mulyadi membuntuti sangat dekat dengan 21,7 persen, terpaut hanya 1,7 poin. Anies berada di urutan berikutnya dengan 11,5 persen. Sebanyak 17 persen responden belum menentukan atau merahasiakan pilihan. 

Perbedaan dua survei itu tidak serta-merta berarti salah satunya keliru. Instrumen pertanyaannya berbeda. SMRC menggunakan simulasi semi-terbuka, sedangkan IPO mengukur top of mind, yakni membiarkan responden spontan menyebut nama tanpa disodori pilihan. Waktu pengambilan data, jumlah responden, serta teknik wawancara juga tidak sama. Karena itu, angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai dua potret opini publik daripada satu perlombaan angka yang bisa dibandingkan secara matematis begitu saja. 

Meski demikian, ada pesan yang sulit diabaikan: Dedi telah muncul sebagai penantang serius dalam persepsi elektoral, sementara keunggulan Prabowo dalam survei IPO pun tidak lagi lebar.

Gerindra Tetap Nomor Satu

Menariknya, perang survei tidak terlalu gaduh ketika menyentuh pilihan partai.

IPO menempatkan Gerindra di posisi pertama dengan elektabilitas 17,5 persen. PDI Perjuangan berada di urutan kedua dengan 12,8 persen, Golkar 10,4 persen, Demokrat 8,1 persen, PKB 7 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen. Sebanyak 24,6 persen responden belum memilih atau merahasiakan pilihannya. 

SMRC, tiga pekan sebelumnya, menghasilkan susunan yang nyaris sama pada papan atas: Gerindra 16,9 persen, PDIP 11,7 persen, Golkar 9,6 persen, dan Demokrat tepat 8,1 persen. PKB memperoleh 5,4 persen, NasDem dan PKS sama-sama 4,4 persen. Sebanyak 25,9 persen belum menentukan pilihan. 

Artinya, meski tingkat kepuasan terhadap Prabowo berbeda hampir 12 poin antara SMRC dan IPO, selisih elektabilitas Gerindra dalam kedua survei hanya 0,6 poin. PDIP berbeda 1,1 poin, Golkar 0,8 poin, bahkan angka Demokrat sama persis.

Perbedaan justru terlihat pada partai papan tengah. PAN, misalnya, hanya memperoleh 1,9 persen dalam survei SMRC tetapi mencapai 5,1 persen dalam IPO. PSI bergerak sebaliknya: 4,1 persen menurut SMRC dan 1,9 persen dalam survei IPO. 

Karena itu, klaim bahwa PAN “melesat” memang berlaku dalam potret IPO, tetapi belum dapat disebut sebagai kecenderungan yang seragam di seluruh survei.

Efek Prabowo terhadap Gerindra

Bila rentang waktunya diperlebar, Gerindra terlihat pernah menikmati bonus elektoral yang lebih besar dari posisi Prabowo sebagai Presiden.

Poltracking Indonesia dalam survei 2-8 Maret 2026 menempatkan elektabilitas Gerindra pada 26,1 persen, PDIP 15,4 persen, dan Golkar 9 persen. Pada survei yang sama, kepuasan terhadap kinerja pribadi Prabowo tercatat 74,9 persen, sedangkan kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran mencapai 74,1 persen. Survei ini melibatkan 1.220 responden dengan margin of error ±2,9 persen. 

Survei Nusantara Riset Indonesia pada 13-22 April 2026 bahkan mencatat Gerindra 27,25 persen, diikuti Golkar 15,67 persen dan PDIP 15,17 persen. NRI pada saat yang sama melaporkan 80,17 persen responden memberikan penilaian sangat puas terhadap kinerja Presiden dan Wakil Presiden. Survei melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi dengan margin of error ±2,9 persen. 

Kini, dua survei Juli-Agustus menempatkan Gerindra kembali ke kisaran 17 persen.

SMRC sendiri mencatat Gerindra memperoleh 13,2 persen pada Pemilu 2024, lalu naik menjadi 23,3 persen pada survei November 2025 dan mencapai 29,3 persen pada Februari-Maret 2026, sebelum turun ke 16,9 persen Juli lalu. SMRC menilai pelemahan Gerindra berjalan paralel dengan turunnya evaluasi terhadap Prabowo serta memburuknya sentimen terhadap ekonomi, politik, penegakan hukum, dan sejumlah program prioritas pemerintah. 

Hubungan itu belum dapat disebut sebagai sebab-akibat hanya berdasarkan perbandingan survei. Tetapi secara politik, Gerindra tampak memiliki keterikatan elektoral yang kuat dengan Prabowo. Ketika persepsi terhadap Presiden tinggi pada awal tahun, partai ikut terdorong. Ketika kepuasan terkoreksi, elektabilitas Gerindra juga bergerak turun.

Namun ada satu catatan: angka Gerindra dalam dua survei terbaru, 16,9-17,5 persen, masih berada di atas perolehan suaranya pada Pemilu 2024. Dengan demikian, partai tersebut kehilangan sebagian “bonus kekuasaan”, tetapi belum kehilangan seluruh keuntungan elektoral setelah Prabowo menjadi Presiden. 

PDIP Paling Dikenal, Gerindra Paling Dipilih

Survei IPO juga memperlihatkan fenomena lain. Popularitas atau tingkat pengenalan terhadap sebuah partai ternyata tidak otomatis berujung pada pilihan politik.

PDIP merupakan partai paling populer atau paling dikenal dengan angka 97,5 persen. Golkar berada di posisi berikutnya dengan 97 persen, sedangkan Gerindra 93,8 persen. Tetapi ketika responden ditanya mengenai pilihan, Gerindra justru berada di atas PDIP dan Golkar. 

PAN memiliki popularitas 79,5 persen dengan elektabilitas 5,1 persen. PKB dikenal 81,8 persen responden dan memperoleh elektabilitas 7 persen. Data itu menunjukkan tantangan partai bukan sekadar membuat namanya dikenal, melainkan mengubah pengenalan menjadi kesukaan dan akhirnya pilihan elektoral. 

Bagi Gerindra, posisi sebagai partai Presiden tampaknya masih menjadi keuntungan terpenting. Bagi PDIP dan Golkar, tingginya pengenalan belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan.

Ekonomi Menjadi Lampu Kuning

Di balik perang angka itu, survei SMRC memberikan sinyal paling keras mengenai persoalan yang berpotensi memengaruhi politik pemerintahan: ekonomi.

Sebanyak 49,4 persen responden SMRC menilai kondisi ekonomi nasional buruk atau sangat buruk. Hanya 15,7 persen yang memberikan penilaian positif. Sebanyak 42,8 persen juga menilai penanganan kondisi politik buruk atau sangat buruk, sedangkan 37,6 persen memberikan penilaian negatif terhadap penegakan hukum. 

IPO memberikan sisi lain dari cerita tersebut. Dalam kelompok yang menilai positif Prabowo, 15,7 persen menyebut Makan Bergizi Gratis sebagai alasan, 12,5 persen menyinggung aktivitas pemberantasan korupsi, dan 11 persen menunjuk bantuan sosial. Hanya 3,8 persen yang secara khusus menyebut kondisi ekonomi membaik. 

Dua temuan tersebut, meskipun berasal dari survei berbeda, memberi petunjuk serupa: program sosial masih menjadi bantalan dukungan pemerintah, tetapi persoalan ekonomi berpotensi menjadi titik rentan.

Waspadai Survei Palsu

Perang survei juga menuntut kehati-hatian. Pada akhir Juli lalu beredar data yang mengatasnamakan Indikator Politik Indonesia. Lembaga itu kemudian secara resmi menerbitkan pernyataan mengenai “Survei Juli 2026”. Indikator menegaskan tidak pernah merilis atau mempublikasikan survei nasional untuk periode Juli 2026 sebagaimana data yang beredar. Tempo juga melaporkan klarifikasi tersebut. 

Artinya, setiap angka yang beredar melalui media sosial tidak cukup hanya diberi label nama lembaga survei. Tanggal penelitian, metode sampling, jumlah responden, bentuk pertanyaan, margin of error, serta sumber rilis aslinya perlu diperiksa.

Dua tautan Instagram yang menjadi bahan tracking Dialeksis, misalnya, dapat ditelusuri kembali kepada temuan SMRC mengenai elektabilitas Prabowo, Dedi Mulyadi, Anies Baswedan dan tokoh lain. Angka utamanya kemudian diverifikasi melalui publikasi resmi SMRC, bukan semata-mata mengandalkan unggahan media sosial. 

Dominan, tetapi Tak Lagi Tanpa Penantang

Bila seluruh survei itu diletakkan berdampingan, satu kesimpulan sementara muncul. Prabowo dan Gerindra masih menjadi kekuatan utama dalam politik nasional, tetapi dominasi yang terlihat pada awal 2026 mulai menghadapi tekanan.

Gerindra masih nomor satu dalam dua survei nasional terbaru. Prabowo bahkan kembali unggul dalam simulasi top of mind IPO. Tetapi selisihnya dengan Dedi Mulyadi hanya 1,7 poin. Pada survei SMRC, Dedi justru berada jauh di depan. Pada saat yang sama, kepuasan terhadap Prabowo berada pada rentang lebar: 51,1 persen menurut SMRC dan 63 persen menurut IPO. 

Peta itu menunjukkan politik Indonesia belum memasuki fase pergantian kekuatan, tetapi sudah bergerak dari dominasi menuju kompetisi.

Bagi Prabowo, pertarungan sesungguhnya bukan perang antarangka survei. Tantangannya adalah apakah pemerintah mampu memperbaiki persepsi masyarakat terhadap ekonomi, politik, dan penegakan hukum sekaligus mempertahankan manfaat program yang sudah diapresiasi publik.

Bagi Gerindra, jawabannya lebih sederhana sekaligus lebih berat: seberapa lama efek Prabowo mampu menjaga partai tetap berada di puncak ketika pemilih mulai memisahkan penilaian terhadap Presiden, pemerintah, dan pilihan partainya.

Catatan Redaksi: Survei dari lembaga berbeda tidak dapat dibaca sebagai satu seri statistik yang sepenuhnya sebanding. Perbedaan periode pengambilan data, jumlah responden, metode wawancara, teknik sampling, serta bentuk pertanyaan dapat menghasilkan angka berbeda. Karena itu, tren lebih tepat dibaca dari arah dan konsistensi beberapa survei, bukan dari satu angka tunggal.

Share berita ini

dialeksis.com