Ulama Clubbing

DIALEKSIS.COM | Celoteh Warga - Lelaki berjenggot tanpa kumis itu hampir selalu mengenakan jubah. Di tempat-tempat pengajian, orang mengenalnya sebagai sosok yang teduh, dengan tutur kata terukur dan wajah yang menyimpan ketenangan.

Namun malam ini, ia datang dengan penampilan yang sama sekali berbeda. Rambutnya dibuat kusut, pakaiannya lusuh, dan gayanya menyerupai seorang junkie yang lama bersahabat dengan jalanan. Semua sengaja ditata sedemikian rupa agar tak seorang pun mengenalinya.

Ia tiba tepat ketika jarum jam melewati tengah malam.

Dentuman musik menyambutnya seperti gelegar yang membelah dada. Cahaya lampu disko berputar liar, memercikkan warna-warni yang menyerupai lidah api. Gelas-gelas kecil beradu, menimbulkan bunyi nyaring di antara cairan memabukkan yang terus mengalir. Percakapan tenggelam dalam kebisingan, menyisakan gerak bibir dan tawa yang tak lagi memerlukan makna.

Para perempuan berbusana minim berpindah dari satu meja ke meja lain. Mereka mendekati lelaki-lelaki yang datang membawa kesepian, lalu menawarkan senyum seolah malam tidak akan pernah berakhir. Tawa pecah di antara kepulan asap, aroma alkohol, dan musik yang tak menyisakan ruang bagi keheningan.

Lelaki berjenggot itu melangkah perlahan menembus kerumunan.

Tak seorang pun menoleh dengan curiga. Tak ada yang mengenalinya.

Malam itu, ia bukan lelaki berjubah yang biasa berdiri di hadapan jemaah. Ia telah menjelma menjadi sosok asing—setidaknya di mata orang-orang yang sedang larut dalam pesta.

Namun ia datang bukan untuk mengejar kesenangan. Bukan pula untuk mencicipi mabuk yang membuat manusia lupa kepada dirinya sendiri.

Ada sesuatu yang sedang dicarinya.

Atau, lebih tepatnya, seseorang.

“Hai… sendirian saja?”

Seorang perempuan tiba-tiba berdiri di sampingnya. Senyumnya tipis, tetapi matanya menyimpan kejelian orang yang terbiasa membaca gelagat lelaki.

“Ya, aku sendiri.”

Lelaki itu memilih kursi di sudut paling gelap. Tempat itu seakan sengaja disediakan bagi orang-orang yang ingin bersembunyi dari cahaya. Lampu yang berputar-putar sesekali menyapu wajahnya, lalu kembali menenggelamkannya ke dalam bayang-bayang.

Perempuan itu menarik kursi di hadapannya.

“Boleh aku menemani?”

Lelaki berjenggot itu tersenyum tipis. Sejenak matanya mengamati perempuan tersebut, sebelum beralih kepada gelas-gelas yang beradu di atas meja.

“Silakan.”

Perempuan itu pun duduk. Senyumnya mengembang, seolah baru saja menemukan seseorang yang dapat menemaninya melewati malam.

Sementara itu, lelaki berjenggot tersebut tetap tenang. Di balik pakaian lusuh dan gaya urakan yang dibuat-buat, pikirannya bekerja keras. Matanya mengawasi pintu masuk, meja-meja di dekat panggung, juga wajah-wajah yang sebentar muncul lalu lenyap di antara kerumunan.

Ia datang bukan untuk mabuk.

Bukan pula untuk mencari perempuan.

Ia sedang menyamar.

Dan malam itu, ada seseorang yang harus ditemukannya.

Perempuan di hadapannya memperhatikan lelaki itu lekat-lekat. Tatapannya menyusuri rambut, wajah, pakaian, hingga sepatu yang dikenakannya, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik penampilan tersebut.

“Sepertinya aku pernah melihatmu,” katanya pelan.

Lelaki itu tersentak kecil. Namun kegugupan segera disembunyikannya di balik senyum tipis.

“Barangkali kau keliru.”

Perempuan itu tidak segera menjawab. Tatapannya justru semakin tajam. Dentuman musik terus menggelegar, menenggelamkan percakapan mereka ke dasar kebisingan.

Lelaki tersebut mengubah nada suaranya. Dibuatnya lebih berat dan serak agar suaranya ikut larut bersama hentakan musik dan hiruk-pikuk orang-orang yang sedang berpesta.

“Mau pesan apa?” tanya perempuan itu sambil menyodorkan daftar menu.

Lelaki itu menerimanya dengan tenang. Dibukanya lembar demi lembar, seolah sedang mempertimbangkan minuman yang hendak dipesan. Padahal, matanya hanya berpura-pura membaca.

Sesekali ia melirik perempuan di hadapannya.

Ia tak ingin penyamarannya runtuh hanya karena sepotong suara.

“Aku haus. Ini saja.”

Jarinya menunjuk air mineral yang tercantum di antara deretan minuman keras.

Perempuan itu mengernyitkan dahi. Di tempat semacam itu, memesan air mineral terasa lebih ganjil daripada menenggak minuman yang dapat membuat kepala melayang dan kesadaran kehilangan arah.

“Air mineral saja?” tanyanya, memastikan.

“Ya. Air mineral.”

Perempuan itu tersenyum kecil. Entah geli, entah curiga. Kemudian ia mengambil kembali daftar menu tersebut.

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Perempuan itu pergi. Lelaki berjenggot menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya kembali menyapu seluruh ruangan. Di balik kerlap-kerlip cahaya dan kepulan asap, ia terus mencari wajah yang sejak tadi belum juga ditemukan.

Tiba-tiba, sejumlah petugas berseragam memasuki ruangan.

Dentuman musik berhenti seketika, seolah seseorang baru saja memutus urat nadi malam. Lampu-lampu yang semula berkelap-kelip di antara tubuh-tubuh yang bergoyang mendadak kehilangan sihirnya. Cahaya yang kini terasa pucat menyingkap wajah-wajah penuh kecemasan.

Riuh berubah menjadi kegaduhan.

Sebagian pengunjung membeku di tempat. Sebagian lainnya saling pandang dengan mata yang dipenuhi pertanyaan. Ada yang berusaha berdiri, ada pula yang hendak menyelinap di antara kerumunan. Namun pintu-pintu telah dijaga.

Dalam sekejap, kesenangan yang tadi diburu dengan penuh gairah tampak begitu rapuh di hadapan seragam dan kewenangan.

Tanpa musik, tempat itu hanyalah sebuah ruangan pengap yang dipenuhi manusia-manusia gelisah.

Malam seperti menghadirkan sebuah cermin raksasa. Di hadapannya, setiap orang dipaksa melihat dirinya sendiri: kesenangan yang selama ini disembunyikan, kehormatan yang dijaga di hadapan publik, serta moral yang begitu mudah dikhotbahkan, tetapi sering kali sulit dipertahankan ketika tak ada mata yang mengawasi.

“Celaka,” gumam lelaki berjenggot itu dalam hati.

Identitas para pengunjung diperiksa satu per satu. Ketika gilirannya tiba, ia tak dapat menunjukkan kartu identitas apa pun. Penyamaran yang semula dirancang untuk menyembunyikan dirinya kini justru berubah menjadi jerat.

Petugas menggiringnya bersama pengunjung lain ke kantor pemeriksaan.

Di sana, mereka diminta menjalani tes urine.

Suasana menegang ketika hasil pemeriksaan diumumkan. Beberapa orang dinyatakan positif. Mereka berdiri dengan wajah tertunduk, seakan lantai adalah satu-satunya tempat yang masih bersedia menerima pandangan mereka.

Lelaki berjenggot itu menatap satu per satu wajah tersebut.

Ia mengenali beberapa di antaranya.

Ada yang selama ini tampil dengan jas rapi dan berbicara penuh wibawa di atas podium. Ada yang kerap menghadiri pertemuan resmi dan duduk di barisan depan. Ada pula yang dikenal terhormat, disegani, bahkan dijadikan teladan di tengah masyarakat.

Di bawah cahaya putih ruang pemeriksaan, segala topeng kehilangan warna.

Orang-orang itu pun akhirnya mengenalinya.

Tatapan mereka beradu.

Hening sejenak.

Jubah yang malam itu tidak dikenakan lelaki tersebut seakan kembali melekat di tubuhnya. Begitu pula jas-jas rapi milik orang-orang di hadapannya. Namun tak ada pakaian yang sanggup menyembunyikan kenyataan ketika wajah telah saling mengenal.

Lelaki berjenggot itu menunduk.

Ia datang ke klub malam itu bukan untuk berpesta. Bukan untuk menenggak minuman keras, apalagi mencari kemabukan. Ia sedang mencari anak-anaknya anak-anak yang telah lama pergi dan tak lagi diketahui keberadaannya.

Ia telah mencarinya ke berbagai tempat.

Malam itu, pencariannya membawanya ke sebuah tempat yang bahkan tak pernah terbayangkan akan diinjaknya.

Namun penyamaran itu justru berubah menjadi petaka.

Bisik-bisik mulai terdengar di sudut ruang pemeriksaan.

“Itu ulama, bukan?”

“Iya, sepertinya dia.”

“Ulama masuk clubbing?”

“Jangan-jangan dia memang bagian dari mereka.”

Lelaki itu terdiam.

Ia ingin menjelaskan semuanya. Ingin mengatakan bahwa ia datang bukan untuk menikmati malam, melainkan untuk mencari anak-anaknya yang hilang. Namun bagaimana mungkin ia menerangkan bahwa seorang lelaki yang biasa berjubah harus menyamar dan memasuki tempat yang sepanjang hidupnya hanya ia kenal melalui cerita?

Siapa pula yang bersedia mendengar penjelasan ketika prasangka sudah telanjur menemukan kesimpulannya?

Malam itu, sebelum kebenaran sempat membuka mulut, tuduhan telah lebih dahulu mengetukkan palu.

Vonis pun lahir dari bisik-bisik yang berlari lebih cepat daripada kenyataan.

Penulis: 

Agusni AH adalah Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP/KPU) Aceh. Di sela kesibukannya sebagai penyelenggara pemilu, ia aktif menulis esai, opini, cerita pendek, dan puisi.

Buku antologi tunggalnya berjudul Teja Merambat Bumi. Ia juga menulis buku Merengkuh Asa bersama Putra Zulfirman. Karya terbarunya adalah buku kumpulan cerita pendek Tikai, yang telah diterbitkan.

Karya-karyanya turut terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Harian Waspada Medan dan waspada.id. Sejak era 1990-an, karya-karyanya juga telah terbit di Harian Serambi Indonesia serta sejumlah media daring lainnya.

Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, Agusni AH tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, menghidupkan rasa, dan menjaga nurani.

Share berita ini

dialeksis.com