DIALEKSIS.COM | Celoteh Warga - Di tengah bencana, kabar tentang penderitaan sering tiba lebih dahulu daripada pertolongan. Ia menyeberangi jarak melalui layar gawai, membawa gambar-gambar langit yang muram, bumi yang terluka, dan manusia yang bertahan dengan sisa tenaga. Dari dua wilayah yang sama-sama dirundung petaka, dua sahabat saling berkabar yang satu terkepung asap, yang lain masih membalut luka banjir.
Cerpen ini bukan semata kisah tentang api yang membakar lahan gambut atau air yang meluap menenggelamkan kehidupan. Ia adalah renungan tentang kesepian para penyintas, perhatian yang datang sekejap, serta doa yang tetap mencari jalan ketika tangan tak lagi mampu menjangkau. Di antara kepulan asap, jelaga, dan September yang kelabu, harapan mungkin jatuh tersuruk tetapi belum sepenuhnya luruh.
Dari realitas kejadian kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan sedang terjadi dan bahkan menyebar hingga ke negara tetangga seperti Filipina. Membuat sosok seorang Ketua Komisi Independen Pemilihan Aceh Agusni AH terpanggil hati nuraninya menggerakan pikiran dan tangannnya membuat Cerpen berjudul "Tersuruk Asa", berangkat dari kejadian tersebut.
MENTARI pagi mengapung seperti purnama yang kehilangan malamnya di langit Palangka Raya. Cahayanya pucat dan remang, nyaris tak berdaya menembus selimut jerebu yang menggantung rendah. Di bawahnya, hamparan lahan gambut dan perkebunan sawit terbentang bagai tubuh tua yang lama dibiarkan terbakar diam, hitam, tetapi menyimpan bara jauh di kedalaman.
Asap dari pembakaran liar mengepul pekat, bergulung mengikuti arah angin. Ia menyusup ke celah-celah rumah, mengendap di jalanan, lalu memenuhi paru-paru dengan udara yang terasa asing. Matahari seakan enggan menyaksikan semuanya. Ia bersembunyi di balik kabut, menyisakan lingkaran merah samar, seolah langit sedang menanggung luka yang tak kunjung sembuh.
Pagi itu, Palangka Raya tidak benar-benar terbangun. Kota seperti tersuruk dalam napasnya sendiri. Burung-burung kehilangan langit untuk terbang. Manusia kehilangan udara untuk bernapas. Sementara itu, bumi terus mengepulkan asap dari luka yang ditorehkan tangan-tangan manusia.
Dari kejauhan, di balik jerebu yang kian rapat, terdengar sirene memanjang parau seperti ratapan bumi yang dikirimkan kepada langit.
Beberapa foto bermunculan di layar gawai. Kami menatapnya lama dalam diam. Di dalam gambar-gambar itu, api perlahan melahap tanah gambut. Asap membubung. Langit menguning muram. Matahari hanya menyisakan bulatan merah yang samar.
Seorang kawan dari ujung barat akhirnya bertanya, seolah ingin memastikan apa yang sesungguhnya sedang kami saksikan.
“Bulat merah itu matahari atau purnama, Mas Wawan?”
“Itu matahari, Bang…”
Mas Wawan masih terkurung di rumah ketika menjawab pertanyaan itu. Foto tersebut, katanya, dijepret dari balik jendela sesaat setelah teja pagi merambat di ufuk selepas Subuh.
Di luar sana, pagi telah kehilangan wajahnya. Cahaya matahari yang biasanya menuntun manusia menyambut hari kini tampak seperti bara raksasa yang menggantung sendirian di langit pucat dan bisu, seakan menyaksikan bumi terbakar perlahan-lahan.
Sudah sepekan Mas Wawan dan seluruh keluarganya bertahan di dalam rumah. Seperti warga lain, baik yang tinggal di kota maupun di desa terutama mereka yang menetap jauh di pedalaman lembah gambut mereka hidup dalam kepungan yang memilukan. Jalan-jalan seperti terputus. Udara berubah menjadi selimut jelaga. Di luar, api terus menjalar tanpa mengenal batas.
“Ya, Bang… sudah sepekan kami tak bisa ke mana-mana. Kami bertahan dengan sisa logistik seadanya,” tulis Mas Wawan melalui WhatsApp.
Kalimat pendek itu terasa seperti suara yang datang dari balik dinding pengap lirih, tetapi menyimpan kecemasan yang panjang. Di tengah asap yang menyesakkan dan persediaan makanan yang kian menipis, rumah tak lagi sepenuhnya menjadi tempat berlindung. Ia menjelma ruang sempit tempat mereka menghitung hari, menunggu entah pertolongan atau hujan yang tak kunjung jatuh.
Ketika api menjilat udara dan asap pekat menghapus pandangan, sesama penghuni bumi seakan tak lagi saling mengenali. Wajah-wajah berubah menjadi bayang. Suara-suara terdengar asing. Jarak tumbuh semakin jauh di antara mereka.
Demikian pula penguasa yang seperti tak lagi mengenali rakyatnya. Ia memang sempat datang, melihat dari dekat, bahkan merekam suasana bencana. Namun, kunjungan itu berlangsung sekejap. Setelah kamera padam, ia pun pergi, meninggalkan asap dan kecemasan yang belum reda.
Sejak itu, tak ada lagi kabarnya.
Yang tersisa hanyalah rakyat yang menunggu di balik jendela buram oleh jelaga, di antara napas yang sesak dan langit yang kehilangan warna. Seolah-olah mereka hanya dikenali ketika kamera menyala, lalu kembali menjadi bayang-bayang sesaat setelah sorotnya dipadamkan.
Bencana datang silih berganti di berbagai penjuru negeri, tetapi penguasa seperti enggan menyebutnya sebagai bencana. Seakan dengan menolak namanya, petaka akan kehilangan daya rusak. Padahal rakyat tidak sedang menagih selembar penetapan atau gelar kebencanaan. Mereka hanya meminta tangan yang segera diulurkan, bantuan yang lekas disalurkan, dan perhatian yang tidak tiba setelah segalanya terlambat.
Sebab rakyat tidak hanya mati ketika bencana menghantam tubuh. Ada yang perlahan tersungkur setelah rumah kehilangan atap, ladang menjadi abu, udara tak lagi layak dihirup, perut dibiarkan kosong, dan harapan mengering sedikit demi sedikit.
Bencana selalu memiliki ekor yang panjang. Ia terus mengejar bahkan setelah api padam, air surut, dan tanah kembali diam.
Kini, nyaris seluruh negeri seperti kumpulan penyintas. Mereka bertahan di antara reruntuhan, asap, lumpur, kehilangan, dan ketidakpastian. Mereka mungkin belum mati, tetapi kehidupan telah lama memaksa mereka berjalan di tubir kematian.
Di negeri yang seolah enggan mengakui luka-lukanya, rakyat akhirnya mempelajari satu kenyataan paling getir: terkadang, yang paling sulit ditemukan bukanlah jalan pulang, melainkan perhatian dari mereka yang seharusnya datang.
“Mas… maafkan aku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Kami di sini juga mengalami nasib serupa. Hanya saja, sekarang kami sedang mencoba pulih dari bencana,” tulis seorang karib dari kaki langit barat kepada Mas Wawan dan segenap penghuni bumi gambut yang masih terkungkung petaka.
Pesan itu seperti dikirimkan seorang penyintas kepada penyintas lainnya dari tanah yang sedang mengusap luka kepada tanah lain yang masih terbakar. Tak ada yang sungguh-sungguh mampu mengulurkan tangan, sebab tangan mereka sendiri masih gemetar menggenggam sisa-sisa kehidupan.
Di antara keduanya, hanya doa yang sanggup menyeberangi jarak. Doa melintas di atas asap, melewati lembah-lembah gambut, menembus langit muram, lalu mencari mereka yang masih bertahan dalam kepungan api.
Saat pesan itu dilayangkan, air mata berderai seperti tak hendak putus. Ia menganaksungai di pipi, menyerupai banjir hidrometeorologi yang meluap sepanjang September kelabu.
Air mata itu bukan semata milik seorang karib yang membaca kabar dari kejauhan. Ia seperti air mata yang tumpah dari seluruh negeri: dari mereka yang rumahnya terendam, yang ladangnya hangus, yang kehilangan tempat berpijak, dan yang masih bertahan di balik jendela sambil menunggu langit kembali berbelas kasih.
September menjadi kelabu bukan hanya karena langit tertutup asap dan awan. Ia kelabu karena duka mengendap di dada; karena bencana datang bergantian, sementara manusia hanya mampu saling berkabar dari kejauhan dengan doa, air mata, dan harapan yang semakin tipis.
“Ya, Bang… aku paham. Kami mengerti. Kita saling mendoakan.”
Jawaban Mas Wawan singkat. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan kepasrahan yang panjang. Ia seperti suara kecil dari rumah yang dikepung bencana tak lagi menuntut apa pun selain keselamatan bagi mereka semua.
Tak ada keluhan. Tak ada kemarahan. Hanya doa yang dikirimkan dari satu penyintas kepada penyintas lainnya, menyeberangi asap, melampaui jarak, menuju langit yang sama-sama kelabu.
Sebab ketika segala daya telah tiba di batasnya, manusia hanya memiliki satu tempat untuk menggantungkan harapan: Tuhan.
“Ya, Mas. Kita tersuruk asa.”
Pesan terakhir dari sahabat sunyi di kaki langit barat itu mengendap di layar. Setelahnya, hening.
Pendek, tetapi seperti menyimpan seluruh luka yang tak sanggup dituliskan. Tersuruk asa terjerembap di antara harapan yang patah dan kenyataan yang tak kunjung memberi jalan.
Layar gawai kembali redup. Di luar sana, asap masih menggantung. Api terus mencari jalan. September berjalan dengan langit yang muram. Sementara itu, di dua kaki langit yang berjauhan, dua penyintas hanya mampu saling mengirimkan doa dari balik kepungan bencana.
Barangkali begitulah manusia ketika segala ikhtiar telah sampai di ujung: bukan kehilangan harapan, melainkan tersuruk di dalamnya kemudian, dengan sisa tenaga, merangkak kembali untuk mencari Tuhan di antara gelap yang tak bertepi. (*)
Share berita ini