Hari Damai, Bendera, dan Percakapan di Warung Kopi

DIALEKSIS.COM | Celoteh - Sabtu, 15 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Damai Aceh. Menjelang salat Zuhur, saya datang ke Warung Kopi Chek Yuke di Jalan Tepi Kali, Banda Aceh, sekadar menyeruput segelas sanger.

Siang itu suasananya berbeda. Warung kopi yang biasanya tidak terlalu sesak mendadak ramai. Banyak wajah baru terlihat memenuhi meja bagian depan hingga ke dalam.

Saya menuju meja di sudut luar warung, tempat para fotografer biasa berkumpul. Di sana sudah ada M. Iqbal, teman lama yang pernah bersama saya melakukan liputan ke Payakumbuh, Sumatera Barat.

Bang Iqbal mengaku baru saja tiba setelah mengambil sejumlah foto dari kawasan Masjid Raya Baiturrahman.

Di bagian dalam warung, beberapa orang yang saya kenali sebagai intelijen dari Polda Aceh mulai berdatangan satu per satu. Sebagian rekan mereka masih berada di lapangan, terutama di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, tempat zikir dan doa bersama memperingati 21 tahun perdamaian Aceh digelar.

Tak lama kemudian, para fotografer yang biasa mangkal di Chek Yuke ikut berdatangan. Mereka membawa kamera, hasil jepretan, video, sekaligus cerita tentang apa yang baru saja terjadi di lapangan.

“Di masjid tinggai parte aneuk seuredeng teuk. Tuna dan aneuk tuna ka abeh dibeurangkat,” kata seorang fotografer yang baru tiba.

Wajahnya penuh peluh. Napasnya masih terengah-engah.

Ia kemudian menyapu pandangan ke sekeliling warung. Di meja sebelah, beberapa pengunjung terlihat menundukkan kepala di atas meja. Sebagian lainnya menyandarkan tubuh ke kursi. Raut wajah mereka menunjukkan kelelahan, seperti orang yang kurang tidur setelah menempuh perjalanan panjang.

“Kalheuh pajoh bu?” tanya fotografer itu kepada salah seorang dari mereka.

Orang yang ditanya tampaknya merupakan bagian dari ribuan jemaah yang datang ke Banda Aceh untuk mengikuti zikir dan doa bersama.

“Kalheuh, Bang,” jawabnya singkat.

Hari itu Banda Aceh memang panas. Suhu berada di kisaran 33 derajat Celsius. Namun panas tidak hanya datang dari matahari.

Situasi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman ikut memanas.

Peringatan Hari Damai Aceh yang seharusnya menjadi ruang untuk mengenang berakhirnya konflik justru diwarnai ketegangan. Bendera Merah Putih di kawasan itu diturunkan dan kemudian muncul pengibaran bendera bulan bintang, simbol yang selama masa konflik melekat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Saya tidak perlu menggambarkan panjang lebar bagaimana tegangnya keadaan saat itu. Berbagai rekaman telah beredar luas di media sosial, terutama TikTok.

Ironisnya, pada hari yang diberi nama Hari Damai Aceh, suasana di sebagian pusat Kota Banda Aceh justru jauh dari kata damai.

Saya sendiri mengikuti perkembangan di sekitar Masjid Raya melalui siaran langsung TikTok. Hampir setiap akun yang muncul di halaman For You Page saya sedang melakukan live streaming dari lokasi.

Jumlah penontonnya tidak sedikit.

Beberapa siaran langsung yang saya buka ditonton lebih dari dua ribu orang dalam waktu bersamaan. Angka itu memperlihatkan bagaimana peristiwa di Masjid Raya dengan cepat menyedot perhatian publik.

Di tengah riuh percakapan warung kopi, suara kursi bergeser dan cerita orang-orang yang baru pulang dari lapangan, tiba-tiba saya mendengar percakapan dari meja sebelah.

Kalimat itulah yang akhirnya membuat saya menulis catatan panjang ini.

“Wate dipriek bendera merah puteh dan dipeu-ek bendera GAM, sang-sang kon ka beutoi that. Wate tacek bak pemilu barosa rupajih ka awak pileh Gerindra. Bak Pilpres ka dipilih Prabowo.”

Saya spontan menoleh.

Entah ketika itu saya sempat tersenyum atau tidak.

Namun percakapan pendek di sebuah warung kopi tersebut terasa seperti sindiran politik yang panjang.

Di satu sisi, ada orang yang begitu bersemangat ketika Merah Putih diturunkan dan bendera bulan bintang dinaikkan. Di sisi lain, ketika masuk bilik suara pada Pemilu 2024, pilihan politik mereka bisa saja jatuh kepada Gerindra dan Prabowo Subianto.

Aceh memang selalu punya cara sendiri menghadirkan paradoks.

Antara simbol dan pilihan politik.

Antara emosi dan pragmatisme.

Antara romantisme masa lalu dan realitas hari ini.

Dan terkadang, paradoks sebesar itu tidak lahir dari ruang seminar atau meja para elite.

Ia justru terdengar begitu saja dari meja sebelah di sebuah warung kopi.

Savage!

Dibuat oleh: Taufik Al Mubarak Penulis Lepas

Share berita ini

dialeksis.com