DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Banjir yang kembali melanda Kabupaten Aceh Tamiang memaksa warga meninggalkan rumah. Pembaruan data Posko Terpadu Penanganan Banjir per Senin (12/10/2026) pukul 18.00 WIB mencatat 1.128 jiwa mengungsi di tujuh kecamatan.
Rekap data itu dihasilkan dari keberadaan pengungsi tersebar di Bendahara, Tenggulun, Tamiang Hulu, Karang Baru, Seruway, Kejuruan Muda, dan Kota Kualasimpang. Jumlah itu masih sementara dan dapat berubah seiring pembaruan pendataan.
Bendahara mencatat 364 pengungsi, disusul Kejuruan Muda 302 jiwa dan Tenggulun 176 jiwa. Sementara itu, Tamiang Hulu mencatat 124 jiwa, Karang Baru 122 jiwa, Kota Kualasimpang 25 jiwa, serta Seruway 15 jiwa.
Sebelumnya, Media Indonesia dalam pemberitaan Senin (12/10/2026) menyebut 365 orang mengungsi dari lima kecamatan. Pembaruan pengungsian tersebut menunjukkan perlunya merujuk waktu pendataan ketika membaca angka dampak banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, menyampaikan pada Senin (12/10/2026) bahwa sedikitnya 18 desa di sembilan kecamatan terendam banjir. Hujan lebat sejak Minggu malam memicu luapan sungai dan jebolnya tanggul di sejumlah titik.
Sembilan kecamatan terdampak meliputi Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, Rantau, dan Kota Kualasimpang. Cakupan wilayah terendam tersebut berbeda dengan tujuh kecamatan yang telah mencatat pengungsian dalam rekap Senin sore.
Di Kecamatan Tamiang Hulu, Desa Rongoh menjadi salah satu lokasi dengan genangan tinggi, mencapai sekitar 1,5 meter. Banjir juga melanda Desa Bandar Khalifah, dengan 150 kepala keluarga dilaporkan terdampak dalam laporan BPBA.
Di Kecamatan Tenggulun, akses menuju Desa Simpang Kiri dilaporkan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat genangan dan material yang terbawa air. Kawasan permukiman serta pondok pesantren di Desa Sukajadi dan Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, turut terendam.
Kerusakan tanggul memperberat kondisi di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara. Datok Penghulu setempat, Arif Pradana, mengatakan tanggul jebol selebar sekitar 30 meter sejak Minggu (11/10/2026) pukul 16.00 WIB. Air kemudian memasuki permukiman dan merendam ratusan hektare lahan pertanian.
Arif juga mengungkapkan adanya retakan pada dua titik tanggul lain, sekitar 500 meter dari lokasi yang jebol. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran warga terhadap kemungkinan meluasnya genangan.
Ancaman banjir juga mendekati jalur transportasi utama. Berbagai media melaporkan, pada Senin (12/10/2026) sore, luapan Sungai Tamiang telah mencapai tepi jalan Banda Aceh - Medan di Kampung Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda. Kenaikan air lebih lanjut berpotensi mengganggu lalu lintas pada ruas tersebut.
Pemkab Aceh Tamiang menyiapkan logistik pangan dan alat berat. Wakil Bupati Ismail bersama Plt Sekda Syuibun Anwar meninjau wilayah terdampak pada Senin. Ismail menyebut pemerintah mengaktifkan skema tanggap darurat untuk mengantisipasi perkembangan situasi.
Petugas BPBD, Dinas Damkarmat, dan Satgas SAR membantu evakuasi serta mendata kerugian. BPBD juga menyatakan akan mengerahkan alat berat untuk menutup tanggul yang jebol.
Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, dalam keterangan Senin yang dikutip Tirto menyampaikan bahwa kondisi banjir belum seragam. Air di sebagian wilayah mulai surut, sementara di lokasi lain masih meningkat. Hingga laporan tersebut, belum ada korban jiwa yang dilaporkan.
Warga di kawasan rawan diminta berkoordinasi dengan posko terpadu apabila membutuhkan evakuasi darurat. Pendataan dampak banjir terus diperbarui.
Share berita ini