DIALEKSIS.COM | Aceh - Potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih membayangi Aceh pada awal November. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menempatkan Kecamatan Blangjerango dan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues, dalam kategori Siaga pada peringatan dini curah hujan harian Minggu (1/11/2026).
Kategori Waspada juga mencakup sejumlah kecamatan di Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Bireuen, Gayo Lues, Nagan Raya, Pidie, Pidie Jaya, serta Kota Subulussalam.
Di antaranya, Beutong dan Darul Makmur di Nagan Raya; Geumpang, Mane, Tangse, serta Tiro/Truseb di Pidie; dan Penanggalan serta Sultan Daulat di Subulussalam.
Akademisi dan peneliti meteorologi Deni Septiadi menjelaskan, pertumbuhan awan Cumulonimbus yang intens menjadi salah satu pemicu potensi cuaca ekstrem di Aceh dan Pulau Jawa. Analisisnya menggunakan citra satelit Himawari - 9 serta model atmosfer Global Forecast System (GFS) pada Jumat (30/10/2026).
Di Aceh dan Sumatra bagian utara, suhu puncak awan minimum terpantau mencapai sekitar minus 84,3 derajat Celsius. Sementara di Jawa, suhunya mencapai sekitar minus 86,8 derajat Celsius, yang mengindikasikan pertumbuhan awan menjulang hingga lapisan atas troposfer.
Menurut Deni, pertemuan massa udara atau konvergensi dapat mendukung gerakan udara ke atas. Ketika proses itu disertai kelembapan dan ketidakstabilan atmosfer yang memadai, awan hujan dapat berkembang semakin kuat.
“Hujan intens dapat memicu genangan, banjir, dan longsor,” kata Deni dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, awan Cumulonimbus yang matang juga membawa potensi petir dan embusan angin yang merusak. Warga di bantaran sungai, lereng perbukitan, kawasan rawan banjir, serta ruang terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan karena perkembangan awan dapat berlangsung cepat.
Informasi tambahan dari Direktorat Meteorologi Publik BMKG menunjukkan adanya pengaruh Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman dan sirkulasi siklonik di Laut Natuna. Dalam prospek cuaca 30 Oktober - 5 November 2026, kedua sistem itu disebut membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG juga menjelaskan, suhu muka laut yang hangat menyediakan uap air bagi pembentukan awan. Dinamika atmosfer, termasuk penjalaran Madden-Julian Oscillation (MJO), turut berpeluang meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah barat dan selatan Indonesia.
Dalam prakiraan periode 30 Oktober - 1 November, Aceh termasuk wilayah dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat serta angin kencang. Adapun untuk 2 - 5 November, BMKG mencantumkan Aceh sebagai salah satu wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan berintensitas sedang.
Sebelumnya, BMKG juga menerbitkan peringatan dini cuaca Aceh untuk Sabtu (31/10/2026) pukul 22.55 WIB hingga Minggu (1/11/2026) pukul 03.17 WIB. Peringatan tersebut memuat potensi hujan lebat disertai petir di sejumlah wilayah.
Masa berlaku peringatan malam itu telah berakhir. Untuk aktivitas pada Minggu dan hari berikutnya, masyarakat perlu mengikuti pembaruan BMKG sesuai wilayah dan waktu berlakunya.
Dalam panduan keselamatan menghadapi petir, BMKG menyarankan masyarakat segera mencari perlindungan di dalam bangunan atau mobil ketika mendengar guntur. Warga diminta menghindari pohon, tiang listrik, menara, serta lapangan terbuka.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui laman resminya, aplikasi InfoBMKG, serta akun @infobmkg sebagai pertimbangan sebelum bepergian atau beraktivitas di luar ruangan.
Share berita ini