Meneropong Figur Cawagub Aceh 2024

DIALEKSIS.COM | Analisis - Pengaruh figur wakil gubernur (Wagub) sangat menentukan kemenangan seseorang yang ikut berkompetisi pada Pilkada. Kontestasi melibatkan figur sangat menarik untuk diamati, mengingat pengaruhnya membuka jalan serta memperbesar peluang kemenangan saat bertarung di Pilkada nantinya. 

Terlebih lagi pengaruhnya bukan sebatas kemenangan saja, tapi ‘chemistry’ menjadi hal terpenting, karena duet pasangan akan menentukan jalannya roda pemerintahan di suatu daerah atau provinsi di Indonesia. 

Beranjak penting pengaruh figur Wagub, sehingga penting dijabarkan di artikel ini untuk menggambarkan siapa sosok yang berpotensi dan sangat layak menyandang Wagub. Kelayakan akan dilihat dari semua aspek modalitas politiknya orang tersebut. Mulai dari modal investasi sosial, jaringan, serta keuangan. 

Melalui pemetaan modalitas figur bakal calon wagub dapat mendeskripsikan kans kemenangan. Namun, hanya mereka yang mampu membaca dan memahami kelayakan sosok, sehingga menghantarkan siapa pun pasangan menjadi pemenang di Pilkada. Tentunya dengan catatan mampu mengoptimalkan seluruh potensi modalitas politik dimiliki pasangan kandidat melalui serangkaian aktivitas kerja-kerja politik pemenangan. 

Jadi kunci kemenangan di Pilkada ada pada kekuatan dan pengaruh figur wakil gubernur yang dipasangkan. Rumusnya sederhana dalam logika ‘probability politic’, semakin berpengaruh ke akar rumput (grass root), maka semakin berpotensi menang meraih kekuasaan di pesta demokrasi. 

Seperti disampaikan dalam teori Political Opportunity Approach (Pendekatan peluang/Kesempatan Politik) biasa dikenal dengan The Political Process Theory (Teori Proses Politik). Secara pemahaman McAdam (Locher, 2002:265) menjelaskan keselarasan antara kelompok dengan lingkungan politik yang lebih besar. Semakin besar suatu kelompok dapat bersatu dalam arena politik, maka semakin besar kemungkinannya untuk dapat melakukan perubahan dalam suatu sistem politik.

Jika disandingkan praktek nyata politik lokal di Aceh, khususnya meneropong kemunculan bakal calon wakil gubernur yang berpotensi mewarnai dinamika di Pilkada 2024. Dari penelusuran berbagai informasi dan data media dan narasumber, teridentifikasi nama - nama masuk dalam radar wagub ke depannya. Mulai dari sosok Muslim Ayub, Sudirman (H. Uma), Muslim, Darwati A Gani, Illiza Sa'aduddin Djamal, dan Irmawan. 


Kita semua sudah tahu figur mereka semua punya kans jadi bakal calon wagub hingga sah jadi wagub hasil Pilkada 2024. Lalu muncul pertanyaan siapa yang punya kans lebih besar menjadi penentu sekaligus memperbesar peluang menang? Itu yang kita semua belum tahu jika tidak mencermati potensi masing - masing mereka. 

Disinilah menariknya. Artikel ini akan menjabarkan satu persatu hingga memunculkan hipotesis siapa yang lebih berpengaruh dan besar peluang jadi wagub ke depannya. Dugaan awal, mereka yang memiliki dukungan massa, jejaring yang kuat, serta modal yang banyak, dan entah apa lagi namun terpenting semakin kuat modal politiknya maka semakin berpengaruh secara politik dan dukungan publik.

Isi dari artikel ini sedikit panjang, jadi membutuhkan waktu bagi pembaca untuk menikmati alunan melodi analisis politik. Maaf jika tulisannya panjang, karena banyak hal yang perlu disampaikan di masing - masing sosok bakal calon wagub. Agar lumayan lengkap dan utuh meskipun memiliki keterbatasan dari sudut pandang atau perspektif tertentu. Supaya tidak gagal paham, mohon membaca tulisan ini sampai tuntas. 

Artikel ini dibuat selaku pemikir politik memiliki tanggung jawab moral memberikan pencerdasan berpolitik untuk siapa pun. Termasuk ikhtiar untuk menjaga agar Pilkada 2024 benar-benar memahami peta sosok, sehingga memiliki muatan pendidikan politik dari informasi yang tersaji di artikel ini. 


Sosok Figur

1. Muslim Ayub

Mari bahas mulai dari Muslim Ayub. Siapa yang tidak mengenal, sosok masyarakat Aceh yang satu ini. Ia mulai meniti karier politik di Aceh Tenggara (1999-2004) sebagai anggota DPRK 1 periode. Anggota DPRA (Provinsi) 2 periode (2004-2009 dan 2009-2014) hingga masuk level DPR RI dapil Aceh 1 melalui PAN pernah dilalui (2014-2019).

Perolehan suara 47.035. Namun pupus mencapai periode ke 2 di Pemilu 2019 hanya mendapatkan 71.694 suara. Bisa dikatakan jenjang karier politiknya paripurna sudah dilalui mulai dari bawah hingga ke atas. 

Lantas sejauhmana modalitas politiknya Muslim? Jika dicermati dari sisi pengalaman politik dirinya, tentunya sudah memiliki basis konstituen yang besar, dibuktikan mampu menerobos lintas kabupaten/kota hingga sampai ke DPR RI. Artinya malang melintang jadi politikus tulen membuat Muslim tidak bisa dianggap remeh ketika maju menjadi wakil gubernur.

Walau dirinya tidak lagi berada di perahu Partai Amanat Nasional, namun pengaruh ketokohan serta dukungan konstituennya membuat tertarik Surya Paloh selaku Ketum Partai Nasdem menggaet Muslim ke partainya. Secara ini keuntungan bagi Nasdem untuk memperbesar peluang keterwakilan kadernya ada di DPR RI. 

Surya Paloh jeli melihat potensi seseorang untuk dikapitalkan jadi modal politik bagi partainya, salah satunya melalui sosok Muslim. Apalagi ketika dijagokan jadi wakil gubernur tentunya andil besar Surya Paloh all out mendukung Muslim maju ke arena Pilgub 2024 nantinya. Ia dipercaya Surya Paloh sebagai Sekertaris DPW Partai Nasdem Aceh. Posisi jabatan itu dipercaya tidaklah mudah tanpa diakui sepak terjangnya dalam dunia politik. 

Ketika nanti Surya Paloh merestui Muslim menjadi wakil gubernur, maka modal kursi di parlemen sebanyak 2 kursi dapat dijadikan kontribusi kepada calon yang meminang Muslim nantinya. Artinya secara kepartaian di dukung penuh untuk kadernya sendiri yang maju berpasangan dengan sosok yang duetkan bersama Muslim sebagai gubernur kelak. 

Kemampuan jejaring sudah sangat mahir dilakoni Muslim. Hal ini terlihat walau tidak menyandang gelar anggota DPR RI, tetapi ia mampu dan buktikan memelihara serta merajut jejaring yang sudah terbentuk. Inilah cermin seorang politikus tulen dalam menjaga modalitas politiknya. 

Berbagai posisi jejaring yang ia miliki seperti petinggi di Muhammadiyah Aceh dan nasional, bahkan berkecimpung di organisasi pemuda dilalui Muslim tercatat pernah di KNPI Aceh. Semakin berwarna rekam jejak Muslim, ketika peduli mengurusi dunia olahraga seperti; pernah jadi ketua Perbasi Aceh (2007-2012), Ketum POSSI Aceh (2021-2024), dan lain-lain.

Ditilik ke urusan finansial, ia tidak bisa dikatakan tidak ada uang maupun ada uang. Karena kehidupannya dalam posisi balance of life. Jika dibutuhkan untuk kepentingan logistik Pilgub dirinya pasti tidak kesulitan untuk menggunakan finansial untuk memastikan dirinya dapat melayani masyarakat Aceh.

Ketika ditelusuri monev media, hasilnya Muslim mampu menjaga isu dengan merespon masalah sosial masyarakat Aceh. Kepiawaian menjaga ritme di media mampu ia lakoni bertujuan menjaga popularitas dan elektabilitas selain turun ke masyarakat luas melalui partainya yakni Nasdem.


2. Sudirman (Haji Uma)

Bagaimana dengan Sudirman? Tidak banyak informasi dan data membahas Sudirman (H. Uma), karena masih baru terjun dunia politik praktis. Akan tetapi, tidak bisa dianggap sebelah mata H Uma dalam konstelasi politik lokal Aceh. Mengapa, karena dirinya mampu menyita perhatian publik ketika bertransformasi dari dunia seni atau keartisan masuk ke gelanggang politik. 

Dalam dunia keartisan, ia sangat familiar sekali di masyarakat Aceh, hal inilah membuat pengakuan eksistensi H Uma yang mengantarkan dirinya tembus gedung Senayan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Capaian itu tidak terlepas atas dukungan dari Partai Aceh yang memperbesarkan peluang dirinya meraih suara besar sehingga masuk ke DPD RI.

Kemampuan seorang H Uma, ia mengontrol media agar tetap eksis, sehingga mampu menjaga popularitas dan elektabilitas dirinya di mata masyarakat Aceh. Hanya saja ia terkadang bukan mengambil peran dari nol ketika melakukan advokasi, kecenderungannya sering memanfaatkan momentum isu yang sedang “In” atau “Hot” dibahas dan dibutuhkan masyarakat Aceh. Tetapi faktanya selama lima tahun menjadi senator, Haji Uma makin dikenal karena sering memulangkan jenazah warga Aceh yang meninggal di Malaysia. 

Jika dinilai sepak terjang H Uma, ia telah terpilih menjadi anggota DPD-RI untuk dua periode, yaitu (2014-2019) dan (2019-2024) dengan raihan suara tertinggi di Aceh. Modal itu tidak bisa dianggap sebelah mata, karena mampu menjadi sosok yang dipercaya masyarakat Aceh ke Senayan. 

Dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI suara Haji Uma diketahui paling tinggi saat Pemilu 2019 - 2024. Pria yang terkenal lewat film komedi Aceh "Eumpang Breuh" ini meraup 960.033 suara. Periode sebelumnya yakni 2014-2019, Haji Uma sebagai pemain baru dan terpilih setelah meraup 136.964 dari seluruh Aceh. 

Fenomenal perolehan suara itu mampu dijadikan modal politik, ketika maju atau diajukan sebagai bakal calon wakil gubernur Aceh mendatang “Pilkada 2024”. Semakin diperhitungkan ketika jejak profesi jejaring dirinya lintas segmen, mulai dari seniman Aceh, Da'i/pendakwah, komedian, hingga dilabelkan tokoh masyarakat.

Kelemahan paling mendasar H Uma tidak berada pada perahu partai politik, sehingga nilai tawarnya secara politik dikategorikan standar saja. Akan tetapi secara sosok pengaruhnya mampu memberikan ruang tersendiri di hati masyarakat Aceh. Disinilah menariknya sosok H Uma, ia dibesarkan dari rahim politik masyarakat Aceh. 

Salah satu menjadi kelemahan H Uma, dirinya tidak mapan secara keuangan. Jika nantinya dijadikan pasangan oleh siapa pun kandidat gubernur, maka sudah pasti akan jadi beban ketika kontribusi keuangan menjadi syarat utama dalam berbagai beban keuangan berkompetisi di Pilgub 2024 kelak.

Kelemahan itu sangat realistis harus jadi pertimbangan oleh para calon gubernur Aceh, ketika ingin menjadikan H Uma sebagai pendamping saat berkompetisi di Pilkada Aceh 2024. Tetapi manakala pengaruh ketokohan dan survei elektabilitas dan popularitas dirinya sangat kuat, maka otomatis kelemahan itu semua tertutupi karena nilai pengaruh sosok memiliki nilai jual tinggi memperbesar kemenangan saat Pilkada 2024 berlangsung nantinya.



3. Muslim

Selanjutnya mengulas sosok Muslim kader tulen dari Partai Demokrat, tidak asing bahkan sangat famous atau “terkenal”. Dalam radar politik jelang 2024, Muslim masuk bursa bakal calon wakil gubernur Aceh. Karena dirinya memiliki semua syarat secara modalitas politik, mulai jejaring sangat kuat, investasi sosial yang mengakar, hingga urusan finansial yang mapan. 

Sekilas info profil singkat Muslim, dimulai meniti karier politiknya sejak 2009 langsung melesat ke DPR RI. Hingga saat ini dirinya sudah 3 periode (Pemilu 2009, 2014, dan 2019) menyandang status anggota DPR RI. Jika dilihat dari tiga periode basis suara hasil Pemilu didapatkan terbagi ke 2009 sebesar 10.712 suara, 2014 mencapai 41.219 suara, dan pada Pemilu 2019 mendapatkan 56.024 suara.

Masuk keurusan keorganisasian, Muslim mampu membentuk jejaringnya yang strategis mulai dari Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) tahun 2015 - 2020; Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila 2014 - 2019; Pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) pusat 2011-2015; Komite Play Fair PSSI Pusat sebagai anggota, Tahun 2011-2015. Sampai berkecimpung ke organisasi pengusaha sudah dirasakan Muslim, mulai masuk ke HIPMI, hingga ke Kadin. 

Selama berkarier di politik maupun gerakan masyarakat sipil, Muslim memiliki riwayat penghargaan yang telah ia raih. Dirinya menyandang gelar Datok dari Kerajaan Mempawah Kalbar (2013), anggota kehormatan pemuda Betawi dari Forum Pemuda Betawi Bamus DKI (2009), ASEAN Youth Community Project dari SEAN REAP Camboja (2006), serta Kirab Remaja Nasional II dari Yayasan Tiara Nasional (1991).

Kita sudah ketahui jejak jejaring, dukungan konstituennya, hingga urusan finansialnya. Maka sangat layak sekali Muslim masuk dalam bursa bakal calon wakil gubernur Aceh. Pilihan sosok Muslim sangat strategis dan mendukung kemenangan bagi calon Gubernur Aceh jika bersanding dengan Muslim nantinya di Pilkada 2024.

Sangat jarang sekali seseorang terjun langsung dan eksis di posisi teratas yakni jadi anggota DPR RI. Tak heran jika Muslim terpilih, ketika mencermati, ditemukan jawaban mengapa Muslim mampu langsung melesat ke langgam politik nasional, dirinya memaksimalkan modalitas yang dimiliki baik jejaring, sosial, hingga urusan logistiknya. 

Terkait tiket masuk ke arena Pikada Aceh 2024, Muslim berstatus Ketua DPD Demokrat Aceh sudah memegang tiket sebanyak 10 kursi. Hanya membutuhkan 4 kursi lagi agar masuk ke arena kompetisi Pilkada, ketika membulatkan tekad serius maju bersaing serta menang bertanding. 



4. Darwati A. Gani

Bagaimana dengan Darwati A Gani? Sosok wanita energik ini mulai berpolitik melalui partai PNA yang dibentuk suaminya sendiri yakni Irwandi Yusuf mantan Gubernur Aceh. Dia disapa dengan Ka Dar panggilan akrabnya. 

Dirinya tidak memiliki pengalaman politik yang mumpuni, bahkan kesannya memanfaatkan momentum. Walaupun banyak belajar memaknai dan meningkatkan kapasitas keilmuannya maupun insting politiknya. 

Hal itu satu nilai positifnya, seorang Darwati mampu beradaptasi sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan politik secara cepat. Kemahiran dirinya ketika mampu mengelola sosial media sekaligus selalu merespon masalah sosial kemasyarakatan membuat istri Irwandi Yusuf ini semakin naik popularitas di mata masyarakat Aceh. 

Tak sampai disitu saja, ia juga bangun jejaring ke dunia olahraga tercatat dipercaya sebagai ketua Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Aceh.

Kepedulian membangun generasi muda Darwati pernah dikukuhkan sebagai bunda baca Aceh. Ia juga pernah memimpin dan mengurusi Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh dan TP-PKK Aceh. Rasa kepedulian yang besar Darwati membentuk Yayasan Sambinoe Aceh guna merespon kesusahan dan masalah sosial masyarakat yang tidak tersentuh pemerintah. 

Dinilai urusan keuangan untuk kebutuhan kerja-kerja politik ketika diperlukan saat membantu pasangan calon gubernurnya, masih dikategorikan lemah. Walaupun Darwati memiliki kemampuan keuangan, tapi tidak lebih untuk kepentingan politik praktis. Kondisi ini kelemahan dari Darwati untuk berkontribusi bagi pasangan politik di Pilkada 2024 nantinya.

Namun dari sisi partai politik, Darwati memiliki suami ketua partai lokal yang mempunyai keterwakilan di parlemen sebanyak 6 kursi. Ini dapat dimasukan modal politik Darwati untuk mendukung dirinya ketika dipinang menjadi wakil gubernur di Pilkada 2024.

Kondis terbaru kekinian, Darwati maju ke jalur DPD RI melebarkan sayap politiknya ke nasional. Hanya saja akan ditentukan apakah berhasil atau tidak dari hasil Pemilu 2024 tahun depan. 

5. Illiza Sa'aduddin Djamal

Siapa lagi, sosok srikandi politik yang berpotensi mewarnai calon wakil gubernur Aceh di Pilkada 2024. Dialah Illiza Sa'aduddin Djamal seorang politikus Indonesia dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), mantan walikota Banda Aceh dan sejak tahun 2019 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

Illiza Sa'aduddin Djamal mengawali menjadi anggota DPRD Kota Banda Aceh sejak 2004 sampai dengan tahun 2006. Dilanjutkan menjabat Wakil Walikota Banda Aceh sebanyak 2 periode mulai 2007-2012 dan 2012-2014. Selanjutnya Illiza berhasil menjadi wanita pertama yang terpilih sebagai kepala daerah di Provinsi Aceh (2014 - 2017).

Ditemukan informasi Illiza berjiwa organisatoris. Dibuktikan pengalaman keorganisasian yang banyak, seperti pernah di Parmusi, terlibat urusan penanggulangan HIV-AIDS, pernah bergabung di Kwarcab Pramuka Kota Banda Aceh, serta terbaru terlibat mengurusi Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PERPANI). 

Hasil penelusuran, Illiza berpengalaman secara politik, teruji dan berhasil menyandang jabatan baik di legislatif maupun eksekutif. Bahkan dari modal suara ketika maju melalui jalur partai PPP berhasil meraih 31.964 suara. Belum lagi basis di beberapa kabupaten/kota sudah popular, meliputi Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, dan Pidie. 

Beranjak dari hal itu dapat disimpulkan secara modal jejaring, sosial, maupun finansial masuk ke kategori stabil. Artinya ketika masuk ke arena politik Pilkada sebagai wakil gubernur keberadaannya tidak menjadi beban bagi calon gubernurnya, dikarenakan semua syarat modalitas sudah dipunyai Illiza. 


6. Irmawan

Siapa lagi? Ada sosok yang digadang-gadangkan berpotensi jadi wakil gubernur Aceh di Pilkada 2024. Dirinya adalah Irmawan, sebelum bergabung ke gedung Senayan untuk dua periode 2014 dan 2019. Ia pernah berstatus seorang birokrat “PNS” tahun 1994 - 2008. 

Selepas itu dirinya mendedikasi sepenuhnya ke jalur politik dengan bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Buah hasil kerja keras politik mengantarkan Irmawan menjadi anggota DPR Aceh periode 2009 - 2014. Tak berpuas diri, Irmawan melebarkan sayap politiknya ke level nasional menjadi anggota DPR RI. 

Kemampuan dan kemahiran dirinya berbanding lurus dengan hasil kerja kerja, dimana berhasil meraih status anggota DPR selama dua periode hasil Pemilu 2014 dan 2019. 

Rekam jejak organisasi terlihat sekali Irmawan memiliki bakat kepemimpinan, bahkan sejak menjadi ketua OSIS di SMA 1984. Semakin berkembang di organisasi berhasil menjadi Ketua DPD KNPI Gayo Lues, Ketua Gayo Musara Aceh Tenggara. Sebelum akhirnya memegang kendali sebagai Ketua Partai PKB Aceh mulai dari 2010-2014, 2015-2020, 2021 - sekarang.

Menelisik modal konstituennya dapat dilihat dari data selama dua periode jadi anggota DPR RI Dapil Aceh 1, periode 2014 berjumlah 40.191 suara dan periode 2019 mendapatkan 57.289 suara ketika berkompetisi di Pemilu. Dari dukungan konstituen dirinya dapat dimasukan modal awal ketika masuk ke arena politik di Pilkada 2024 sebagai wakil gubernur Aceh.

Apalagi modal utama kursi sudah di tangan Irmawan sebanyak 3 kursi (131.988 suara). Ketika di dalami lagi faktanya PKB mampu eksis di wilayah pantai barat selatan dan tengah tenggara. Nilai jual politik Irmawan semakin tinggi didasarkan kemampuan konsolidasi dan merajut di kedua wilayah itu. Secara finansial dirinya memiliki kemapanan, hanya saja tidak diperlihatkan ke publik. Tidak mungkin bergelut di dunia politik puluhan tahun tidak memiliki harta kekayaan. 

Semua itu dapat disimpulkan sosok Irmawan sangat layak dan mampu memberikan dampak menguatkan secara politik jika disandingkan oleh siapa pun calon gubernur Aceh mendatang. Dengan demikian modal politik dimiliki oleh Irmawan meliputi sosial, jejaring, dan finansial.



Penajaman Figur

Dari nama-nama yang dijabarkan di atas menarik dianalisis lebih dalam. Setiap orang tidak terkecuali punya potensi dipilih dan berkuasa di pemerintahan. Tentunya hak itu harus diakses melalui mekanisme Pilkada ketika ingin berkarier di eksekutif sebagai gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan walikota/wakil walikota. 

Di panggung politik Pilkada 2024 di Aceh, nama-nama di atas yang sangat berpeluang karena memiliki modalitas politik meliputi jejaring, sosial, dan finansial. Dalam pandangan selaku penulis, nama-nama seperti Muslim Ayub, Sudirman (H. Uma), Muslim, Darwati A Gani, Illiza Sa'aduddin Djamal, dan Irmawan, layak menjadi wakil Gubernur Aceh. Kenapa? Karena hasil penelusuran monev media maupun diskusi berbagai narasumber mendapatkan nama-nama tersebut sangat layak dimasukkan sebagai kandidat bakal calon wakil gubernur Aceh di Pilkada 2024.

Hal penting disampaikan, semua sosok memiliki irisan dan segmentasi tersendiri jika dilihat dari pengaruh ke konstituennya. Artinya masing-masing memiliki andil mempengaruhi basis pemilih masyarakat Aceh.  Hanya saja akan berbeda manakala arah pilihan pemilih di Aceh ketika dimensinya bukan lagi legislatif tetapi eksekutif. Muncul pertanyaan kritisnya, apakah akan linear serta solid dukungan konstituennya ketika sudah berbeda tujuan?

Menariknya lagi dari semua nama itu hampir seimbang secara modal politiknya, hanya saja dua nama yang relatif di bawah seperti H Uma dan Darwati A Gani. Pertimbangannya pengalaman politiknya serta membangun modal politiknya masih belum kuat. Belum lagi di partainya sendiri Darwati tidak berada pada struktur strategis dan sangat berpengaruh, sedangkan H Uma tidak berada secara penuh di kepartaian. 

Membaca dalam konteks politik identitas dikaitkan dengan keberadaan sosok mereka, dapat ditafsirkan Muslim Ayub representatif dari wilayah pantai barat selatan, Irmawan cerminan keterwakilan dari wilayah tengah dan tenggara. Sedangkan Muslim Ayub, Sudirman (H. Uma), Muslim, Darwati A Gani, Illiza Sa'aduddin Djamal, diidentikan keterwakilan wilayah pesisir timur. 

Jika disimulasikan duet pasangan, maka posisi Muslim Ayub bisa disandingkan dengan Nasir Djamil, Muzakir Manaf, maupun sosok lainnya. Karena bargaining position Muslim Ayub minim tokoh dari wilayah pantai barat selatan. Ketika ego kewilayahan dimainkan, maka berpengaruh terhadap perolehan suara pemilih di Aceh. 

Apalagi kekuatan suara Muslim Ayub di pantai barat selatan, tengah tenggara. Kemudian hasil perolehan kursi berada di nomor urut 3 dari 13 anggota DPR RI asal Aceh, dan saat ini hanya Muslim Ayub yang sering turun ke Dapil calon anggota DPR RI.

Atau sebaliknya Irmawan digaet oleh Nasir Djamil, Muzakir Manaf, Riefky Harsya ataupun calon lainnya berkeinginan maju calon gubernur ke depan. Memang hitung-hitung suara kedua wilayah pantai barat selatan dan tengah tenggara tidak sebanyak pemilih di wilayah pesisir timur. Hanya saja ketika berhasil meyakinkan pemilih di wilayah itu, maka pundi - pundi suara menambah dari suara asalnya. 

Perlu diketahui juga tipikal masyarakat Aceh masih belum memberikan ruang kepada srikandi politik Aceh yakni Illiza Sa'aduddin Djamal dan Darwati A Gani. Sekian banyak sebab, salah satunya masih kuat ‘frame’ dan praktek konvensional yang menganggap perempuan hanya urusan dapur, kasur, dan sumur. Mirisnya masih terpatri dibenak sebagian masyarakat Aceh kalau perempuan kurang pas menjadi pemimpin. 

Ini akan jadi kendala dalam menyandingkan kedua sosok itu dalam bursa Pilkada 2024. Hanya saja, ketika pengaruh ikatan emosional dan terbukti mampu menjaga intensitas komunikasi, serta teruji dalam memimpin, maka label serta cara pandang seperti penjelasan di atas akan buyar dengan sendirinya.

Tapi kita sudah tahu kalau politik itu dinamis, bahkan susah diprediksi khususnya keterlibatan perempuan Aceh berpolitik. Semua sangat tergantung kecakapan dan kelihaian dalam berpolitik, sehingga eksistensi mereka semakin berpengaruh serta susah untuk disingkirkan dalam kompetisi Pilkada 2024 nantinya. Kalau sampai itu terjadi berarti karakter pemilih dan masyarakat Aceh sudah berubah. 

Dari pembahasan di atas berarti sejalan dengan teori ‘Political Opportunity Approach’ di awal pengantar telah disampaikan. Bahwa, semakin besar suatu kelompok mengkapitalkan modal politiknya maka semakin besar peluang kemenangan meraih kekuasaan. Termasuk berkuasa atas kekuasaan yang diraih dan dijaga.

Jadi kunci kemenangan di Pilkada ada pada kekuatan dan pengaruh figur wakil gubernur yang dipasangkan. Rumusnya sederhana dalam logika ‘probability politic’, semakin berpengaruh ke akar rumput (grass root), maka semakin berpotensi menang meraih kekuasaan di pesta demokrasi. 

Tentu harapan yang paling diharapkan Cawagub dapat berkontribusi nyata untuk melakukan perubahan dalam memberikan pelayanan publik terhadap masyarakat. [**]

Penulis: Aryos Nivada (Pendiri Jaringan Survei Inisiatif)

Share berita ini

dialeksis.com