DIALEKSIS.COM | Aceh - Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh, dr. Mursyidah MPH mengatakan, untuk memaksimalkan pencegahan dari penyakit anemia pada ibu hamil perlu pemberian edukasi yang maksimal terhadap kader Posyandu di desa.
"Karena peran kader ini menyampaikan informasi kepada masyarakat maka perlu edukasi yang matang dulu kepada mereka, agar masyarakat dapat lebih mudah memahami," kata dr Mursyidah kepada Dialeksis.com, Rabu (23/11/2022).
Diketahui anemia merupakan kondisi dimana sel darah merah tidak mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh. Kebutuhan fisiologis tersebut berbeda pada setiap orang, dimana dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin, tempat tinggal, perilaku merokok, dan tahap kehamilan.
Berdasarkan WHO, anemia pada kehamilan ditegakkan apabila kadar hemoglobin (Hb) <11 g/dL. Sedangkan center of disease control and prevention mendefinisikan anemia sebagai kondisi dengan kadar Hb <11 g/dL para trimester pertama dan ketiga, Hb <10,5 g/dL pada trimester kedua, serta <10 g/dL pada pasca persalinan.
Kejadian anemia atau kekurangan darah pada ibu hamil di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu sebanyak 48,9 persen (menurut Kemenkes RI tahun 2019). Kondisi ini mengatakan bahwa anemia cukup tinggi di Indonesia dan menunjukkan angka mendekati masalah kesehatan masyarakat berat dengan batas prevalensi anemia lebih dari 40 persen (Kemenkes RI, 2013).
Untuk itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan Aceh sudah mendistribusikan tablet tambah darah (TTD) ke seluruh kabupaten kota se-Aceh sebagai salah satu upaya pencegahan anemia bagi kelompok risiko (remaja putri, ibu hamil).
Bagi ibu hamil bisa mendapatkan TTD dengan mendatangi kegiatan Posyandu yang diadakan oleh petugas desa masing-masing.
Ia berharap adanya edukasi yang terstruktur dan reguler diberikan oleh petugas kesehatan yang hadir di Posyandu atau diberikan edukasi yang berjenjang kepada kader.
"Kemudian kader memberikan informasi kepada si ibu, diharapkan ada pengawasan juga disana, karena kadang-kadang masyarakat kita masih kurang kesadaran untuk menjaga kesehatannya," jelasnya.
Menurutnya, pemberian tablet tambah darah (TTD) kepada ibu hamil dan remaja putri belum tentu akan dikonsumsi secara rutin, karena masih ada rasa ketakutan akan efek dari obat Fe tersebut.
"Makanya perlu edukasi yang sempurna jadi kekhawatiran itu bisa teratasi, masyarakat pun jadi patuh. Perlu cara integratif dan komprehensif untuk memaksimalkan itu semua dan kalau bisa melibatkan rumah sakit juga untuk kebutuhan dokter spesialis penyakit tersebut," jelasnya lagi. [ADV]
Share berita ini