DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Anemia merupakan salah satu dari tiga beban masalah gizi di Indonesia, selain malnutrisi dan obesitas. Masalah anemia sangat rentan terjadi pada remaja dan ibu hamil.
Anemia, kadang masyarakat akrab menyebutnya dengan kurang darah, adalah kondisi berupa rendahnya kadar sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh, umumnya disebabkan oleh kekurangan mikronutrien dan gizi yang tidak memadai. Tanpa pengobatan, anemia menyebabkan penderitanya mudah letih, sesak napas, sulit berkonsentrasi, dan daya kognisinya berkurang.
Anemia pada remaja putri dapat berlanjut hingga mereka dewasa dan menjadi ibu dengan anemia. Pada masa kehamilan, anemia meningkatkan risiko perdarahan pasca-persalinan, bayi lahir dengan berat badan rendah, bayi lahir prematur, dan bayi lahir mati. Pada bayi-bayi yang bertahan hidup, mereka berisiko mengalami stunting dan dengan demikian mempertahankan siklus malnutrisi.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi anemia pada remaja mengalami tren peningkatan yang signifikan. Tahun 2007, remaja yang menderita anemia sebesar 6,9 persen, naik menjadi 18,4 persen pada tahun 2013, meningkat lagi menjadi 32 persen di tahun 2018. Bahkan survei daring yang dilakukan UNICEF, diketahui hampir 90 persen remaja putri di Indonesia berhenti mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) selama pandemi Covid-19.
Beranjak dari kondisi itu, Kementerian Kesehatan terus menegaskan komitmennya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi TTD, melakukan aktivitas fisik dan olahraga, dan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang.
Rabu pagi, 26 Oktober 2022, Kementerian Kesehatan menggelar Gerakan Nasional Aksi Bergizi 2022 yang melibatkan berbagai sektor terkait, seperti Kementerian/Lembaga dan Institusi Pendidikan (SMP, SMA, dan sederajat) dan dilaksanakan serentak di 6420 sekolah di 34 Provinsi di Indonesia.
Dalam acara tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan pentingnya pemberian TTD kepada remaja puteri.
“Stunting itu yang paling penting adalah sebelum hamil ibunya harus sehat. Kalau adek-adek tidak sehat anaknya nanti pasti Stunting. Karenanya selama remaja tidak boleh anemia, anemia itu zat besinya kurang. Kalau diperiksa HB di bawah 12,” kata Menkes.
“Pesan saya buat remaja puteri, supaya hidupnya sehat, anaknya nanti tidak Stunting, tes darah minimal satu tahun sekali. Kalau angkanya di bawah 12 harus minum TTD, kalau HB udah di atas 13, jaga kesehatannya, makannya yang cukup,” pesan Menkes.
Disamping itu, Menkes juga mengimbau remaja putri untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang terutama makanan tinggi protein yang kaya akan zat besi serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya akan vitamin C, E dan A.
Untuk Provinsi Aceh, dua ratus siswi ikut menyukseskan Gerakan Nasional Aksi Bergizi 2022 yang dipusatkan di SMAN 1 Meureudu, Pidie Jaya dan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Aceh beserta Forkopimda Pidie Jaya. Selain di SMA Negeri 1 Meureudu, kegiatan Aksi Bergizi ini juga berlangsung secara serentak di 12 SMA/Sederajat lainnya di Kabupaten Pidie Jaya dan 1.500-an remaja putri dilaporkan meminum TTD bersama-sama.
Kepala Dinkes Aceh dr. Hanif menyebutkan pemberian TTD ini adalah langkah penting untuk intervensi pencegahan stunting sejak dini.
"Semua remaja putri harus minum Tablet Tambah Darah ini setiap minggu, selama 52 minggu dalam setahun,” pinta dr Hanif, Rabu (26/10/2022).
Selain di Kabupaten Pidie Jaya, di Aceh kegiatan aksi bergizi ini juga dilaksanakan diberbagai kabupaten/kota antara lain Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tamiang, Aceh Besar, Aceh Barat, dan Aceh Singkil.
Tidak hanya mendukung kegiatan Gerakan Nasional Aksi Bergizi, Provinsi Aceh juga menelurkan inisiasi GISA (Gerakan Imunisasi dan Stunting Aceh) yang memiliki 10 intervensi spesifik menurunkan stunting pada 3 sasaran kelompok, yaitu remaja putri, ibu hamil, dan balita. Intervensi pada remaja putri dan ibu hamil dengan meminum TTD dan skrining anemia.
Selain GISA, Provinsi Aceh juga meluncurkan program Rumoh Gizi Gampong (RGG) dalam upaya pencegahan stunting yang kegiatannya mencakup kombinasi program-program spesifik dan sensitif.
Kegiatannya seperti memberikan edukasi gizi dan monitoring pertumbuhan serta memastikan kelompok sasaran (ibu hamil, ibu balita, balita, remaja putri) telah mendapat suplementasi (Vitamin A, TTD, biskuit dan lainnya) dan imunisasi, obat cacing dan layanan lainnya.
Upaya menurunkan angka anemia pada remaja putri melalui perbaikan gizi, suplementasi TTD dan pola hidup sehat hingga dapat menurunkan angka stunting di Indonesia sebesar 14% pada tahun 2024, tidak hanya menjadi komitmen Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan beserta jajarannya, tapi juga menjadi komitmen kuat dari Pemerintahan Provinsi Aceh beserta Kabupaten/Kota sehingga menghasilkan Sumber Daya Manusia yang unggul di masa depan.(Adv)
Share berita ini