Keluarga Sehat Dapat Cegah Anemia Pada Remaja

DIALEKSIS.COM | Aceh - Permasalahan anemia pada remaja di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 angka kejadian anemia remaja di Indonesia masih relatif cukup tinggi dan cenderung mengalami tren peningkatan.

Masa remaja merupakan salah satu usia paling rentan terhadap anemia. Hal ini karena usia remaja merupakan masa kritis pertumbuhan, pematangan reproduksi, dan transisi perkembangan yang menuntut peningkatan asupan gizi sehingga membuat remaja lebih rentan kekurangan gizi. 

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh terus berupaya menekan dan mempercepat menurunkan angka stunting dengan melakukan intervensi pada kelompok sasaran, yaitu ibu hamil, remaja putri dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). 

Salah satu masalah asupan gizi remaja di Indonesia yaitu kekurangan zat besi dan diperkirakan menyumbang separuh dari semua kasus anemia.  

Dalam hal ini, Staf Program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Aceh, Agus Agandi mengatakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penanganan dan pencegahan anemia remaja melalui pemberdayaan keluarga. 


Menurutnya, peran keluarga sangat penting dalam mencegah anemia pada remaja yang dimulai sejak anak masih kecil, karena ruang lingkup terdekat yang dimiliki anak adalah keluarga. Pemberian asupan nutrisi yang berkualitas dan tinggi pada anak bisa mencegah anemia berkelanjutan pada remaja dan dewasa nantinya. Sebaliknya jika keluarga tidak sehat maka ini akan mempengaruhi kesehatan anak. 

"Beberapa keluarga mengalami ketidakberdayaan dalam menangani anggota keluarga yang sedang sakit atau masalah kesehatan, disebabkan sakit yang lama dan menghabiskan kemampuan keluarga dalam memberi bantuan," kata Agus kepada Reporter Dialeksis.com, Minggu (27/11/2022). 

Agus menambahkan ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakberdayaan keluarga, yaitu kurangnya akses informasi dan pelayanan kesehatan, kurangnya pemahaman dan persepsi yang salah mengenai masalah kesehatan yang dihadapi. Jika dibiarkan berlarut-larut akan berimbas pada kemampuan keluarga dalam pola asuh. 

"Maka dari itu sebelum kita melakukan pemberdayaan keluarga perlu memperhatikan beberapa hal terutama dalam mendorong untuk memberikan dukungan pada pelayanan kesehatan," ujarnya. 

Ia mengajak kepada seluruh masyarakat dan berbagai sektor untuk membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan anemia remaja di Indonesia.  

"Sehingga dapat menurunkan angka kejadian anemia remaja dan menjadikan remaja Indonesia yang produktif, kreatif, serta kritis, dan pastinya terbebas dari penyakit anemia bukanlah menjadi sebuah mimpi," pungkasnya. [ADV]

Share berita ini

dialeksis.com