DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebagai calon ibu yang akan melahirkan anak kelak, kaum perempuan khususnya remaja putri harus mempersiapkan kesehatan badannya sejak dini. Oleh karenanya Dinas Kesehatan Aceh terus mengingatkan agar anak-anak perempuan rutin mengkonsumsi tablet tambah darah.
Kepala Dinas kesehatan Aceh, dr Hanif menyampaikan, pihaknya melalui Puskesmas terus mengedukasi masyarakat dengan menggalakkan program konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) tersebut.
"Ini dilakukan guna mencegah anemia pada ibu hamil sejak usia dini. Maka bagi remaja putri penting secara rutin mengkonsumsi TTD," ujarnya kepada Dialeksis.com, Sabtu (29/10/2022).
Ia menambahkan pesan tersebut selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan sosialisasi, sehingga diharapkan para remaja putri itu mulai membiasakan diri mengkonsumsi TTD.
Remaja putri yang menderita anemia berisiko menjadi wanita usia subur yang anemia selanjutnya menjadi ibu hamil anemia, bahkan juga mengalami kurang energi protein. Ini meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan stunting, komplikasi saat melahirkan serta beberapa risiko terkait kehamilan lainnya.
Untuk mencegahnya, Kementerian Kesehatan melakukan intervensi spesifik dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja puteri dan ibu hamil. Selain itu, Kemenkes juga melakukan penanggulangan anemia melalui edukasi dan promosi gizi seimbang, fortifikasi zat besi pada bahan makanan serta penerapan hidup bersih dan sehat.
Komitmen Indonesia untuk mengatasi triple burden of malnutritions dengan memberikan tablet tambah darah untuk remaja putri sejak tahun 2016.
Anemia dapat Meningkatnya Risiko Stunting
Endang L. Achadi, akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengatakan anemia pun dapat meningkatkan risiko kematian terhadap ibu hamil.
Endang mengungkapkan bahwa anemia di masa kehamilan dapat meningkatkan risiko kondisi sakit atau meninggal, serta bertambahnya risiko stunting pada anak.
"Karena pertumbuhan anak dalam kandungan terhambat, maka ada risiko stunting saat anak dilahirkan," ujarnya. "Kalau anak dilahirkan sudah kurang dari 45 centimeter ke bawah, itu sudah bisa dikatakan stunting."
Menurutnya, stunting dapat berakibat jangka panjang yaitu menurunnya kecerdasan. Di usia dewasa, anak yang mengalami stunting dapat berisiko menderita penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
Risiko dari stunting tersebut dapat berdampak pada tiga generasi dari ibu ke cucunya. "Jadi dampak dari anemia ini luar biasa. Baik pada remaja sebagai remaja itu sendiri, maupun remaja pada calon ibu."
Secara umum sendiri, anemia dapat mengakibatkan seseorang mengalami penurunan konsentarsi belajar, penurunan produktivitas, imunitas yang menurun sehingga mudah terkena penyakit infeksi, menurunkan kesegaran tubuh, sehingga prestasi sekolah dan kerja menjadi rendah.[ADV]
Share berita ini