DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Setiap wanita yang sedang hamil sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan. Karena segala kondisi yang terjadi pada ibu hamil akan turut berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan.
Semisal pada ibu yang mengalami anemia atau kurang darah selama kehamilan. Ada beberapa resiko gangguan yang dapat terjadi kepada bayi di dalam janin jika ibu mengidap anemia. Diantaranya adalah resiko stunting pada anak.
Di Indonesia sendiri, jumlah ibu yang mengidap anemia sudah berada dalam taraf memprihantinkan. Sebanyak 48,6 persen ibu hamil didiagnosa mengalami anemia selama kehamilan. Masalah ini tidak boleh dianggap remeh, karena anemia dapat memicu berbagai masalah, termasuk juga resiko stunting.
Sebagai solusi dalam upaya menurunkan resiko masalah pada ibu hamil dan bayi di dalam kandungan, pemeriksaan Antenatal Care (ANC) pada ibu hamil di fasilitas layanan kesehatan menjadi salah satu daya pendukung untuk mempertahankan kesehatan ibu dan bayi.
Pada prinsipnya, ANC ini bertujuan untuk pemeriksaan dan mempersiapkan proses persalinan sehingga ibu hamil dapat melahirkan bayi dengan selamat serta meminimalkan trauma yang dimungkinan terjadi selama persalinan.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Utara, dr Harry Laksamana menjelaskan, di dalam proses ANC, seorang dokter kandungan bisa mengecek kesehatan ibu hamil, apakah mengalami anemia atau tidak.
Menurut dr Harry, anemia pada ibu hamil banyak mudharatnya, diantaranya bisa menyebabkan persalinan secara prematur, atau bayi terlahir dengan komplikasi.
“Anemia pada ibu hamil dapat memacu terjadinya persalinan prematur. Kalau lahir prematur, nanti bayi akan lahir dalam keadaan organ-organ tubuhnya belum matang pada waktunya,” jelas dr Harry kepada reporter Dialeksis.com, Aceh Utara, Rabu (30/11/2022).
Pemeriksaan ANC bagi ibu hamil, jelas dr Harry, untuk triwulan pertama cukup dilakukan pemeriksaan sekali. Sementara untuk triwulan kedua pemeriksaan ANC minimal dilakukan setiap bulan. Dan untuk triwulan ketiga pemeriksaan ANC harus rutin dilakukan minimal dalam 2 minggu sekali.
“Kalau di awal-awal kehamilan, gejala kesehatan yang terjadi pada ibu hamil adalah muntah-muntah dan masalah nutrisi lainnya. Sedangkan di trimester kedua dan ketiga, gajalanya beresiko ke pendarahan antepartum. Makanya sangat disarankan kepada ibu hamil untuk menjaga kesehatannya, dan rutin mengecek kesehatan ke fasilitas layanan kesehatan terdekat,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua IDI Aceh Utara itu menjelaskan bahwa pencegahan anemia pada ibu hamil bisa juga dilakukan dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), hanya saja pemakaian obat penambah darah ini harus dilaksanakan dengan ketentuan dan resep dokter.
dr Harry menjelaskan, anemia atau kurang darah dapat menyebabkan ibu hamil kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi pada ibu hamil bisa membuat bayi beresiko terlambat berkembang.
“Betul, Tablet Tambah Darah (TTD) efektif. Tetapi perawatan harus tetap berfokus pada masalah kesehatan ibu hamil. Kalau ibu hamil mual-mual, maka mualnya kita hentikan. Kalau muntah-muntah, maka muntahnya kita hentikan,” pungkasnya.
Diketahui, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan Aceh sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan terkait aksi bergizi mencegah Anemia pada remaja putri dengan konsumsi Tablet Penambah Darah dengan tujuan untuk menekan angka stunting di Aceh.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif mengatakan, pemberian TTD tidak hanya untuk siswi yang kurang Hb, tapi sifatnya preventif.
“Selain pemberian TTD, intervensi-intervensi lain harus tetap dilaksanakan. Contohnya pada ibu hamil, minimal pemeriksaan kehamilannya 6 kali harus dilakukan, dua diantaranya harus diperiksa oleh dokter.Kemudian ibu hamil minimal mengonsumsi 90 tablet tambah darah selama masa kehamilan. Demikian juga untuk intervensi pada kelompok anak Balita, juga penting untuk diperhatikan, mulai dari pemantauan tumbuh kembang, memastikan bayi mendapatkan ASI ekslusif sejak lahir hingga anak berusia 6 bulan, dan juga melengkapi imunisasi", pungkas dr Hanif, saat menghadiri kegiatan Aksi Bergizi di Kabupaten Pidie Jaya, Oktober lalu. [ADV]
Share berita ini