Ahli Gizi Sebut Anemia pada Ibu Menyusui Pengaruhi Kualitas ASI

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Aceh, Dr. Aripin Ahmad mengatakan, anemia pada ibu menyusui ditandai dengan mudah lelah, pusing, kulit pucat, sakit kepala, hingga sulit berkonsentrasi. 

“Namun, tanda yang paling akurat adalah melakukan pemeriksaan langsung ke rumah sakit agar lebih cepat ditangani,” kata Aripin kepada Dialeksis.com, Jumat (11/10/2022). 

Aripin menjelaskan, cara mengatasi anemia pada ibu menyusui adalah perlu mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi seperti bayam, kacang-kacangan, daging sapi, ayam, dan makanan yang diperkaya zat besi seperti roti dapat meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh.

“Selain itu, daging merah merupakan makanan yang memiliki kandungan zat besi dalam jumlah tinggi,” kata dia. 

Kemudian, lanjutnya, ibu menyusui harus mengonsumsi suplemen yang mengandung zat besi yang aman untuk dirinya dan bayinya. 

“Selain itu, bagi ibu menyusui yang terkena anemia bisa konsumsi buah-buahan terutama buah jeruk kaya yang vitamin C, akan membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Selain jeruk, bisa juga mengonsumsi makanan seperti mangga atau tomat,” jelasnya lagi. 

Ia menyampaikan, memang saat ini program pemerintah Aceh terkait pemberian tablet tambah darah tidak diberikan untuk ibu menyusui, namun bisa dibantu dengan obat tambah darah lainnya di apotek. 


Aripin mengatakan, Ibu yang anemia tetap harus memberikan ASI secara ekslusif kepada sang buah hati. Hal yang perlu diperbaiki adalah mengatur pola makan sehari-hari supaya bisa memenuhi kebutuhan ibu dan bayi. 

“Namun, tetap ada pengaruh terhadap komposisi ASI yang dihasilkan penderita anemia, seperti kandungan zat besi rendah dibandingkan dengan normal, oleh karena itu bisa ditutupi dengan konsumsi makanan cukup,” terangnya. 

Kata dia, risikonya nanti transfer ASI kepada bayi lebih rendah dan nantinya berisiko pemenuhan kebutuhan terhadap gizi anak. 

Ia menjelaskan kembali, usia 6 bulan hingga 3 tahun adalah masa kritis terjadinya anemia karena kebutuhan zat besi dan gizi lainnya meningkat karena terbentuknya saraf-saraf otak yang lebih banyak sehingga memerlukan zat besi sebagai salah satu pembentukan sel saraf.

“Masa menyusui adalah masa kritis yang berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan bayi, karena salah satu sumber gizi yang paling utama bagi anak adalah ASI,” imbuhnya. 

Menurutnya, pemberian ASI di 6 bulan pertama itu harus 100 persen karena kebutuhan gizi anak harus terpenuhi dari ASI. [ADV]

Share berita ini

dialeksis.com